Dulu sekali…, 2 dekade lalu, DeepEnd pernah mencoba Airtrek selagi di Jakarta. Versi kencang yang sudah diupgrade. Hitam dan terasa sangat premium saat itu.

Menjadi barang aneh, sebab kan SUV belum begitu disukai saat itu. Kendaraan di Jakarta masih didominasi oleh sedan dan minibus. SUV menjadi wujud langka bisa wara-wiri di metropolitan saat itu.

Bulan lalu, DeepEnd malah menemukannya pada acara Meisterstadt Autoproject Car Meet Up di Pollux Meisterstadt Habibie Parking Lot, Batam.
Juga dalam keadaan kencang bin ganteng.
Kabinnya yang begitu luas dan joknya yang ergonomis, membuat bersemangat mengajak lari Airtrek.

Compact crossover SUV yang diproduksi hanya untuk pasar domestik Jepang ini, akhirnya diganti nama dan diteruskan oleh Mitsubishi Outlander sejak 2003 untuk pasar global yang lebih luas. Tapi di Cina, Mitsubishi Airtrek berwujud battery electric compact crossover SUV yang diproduksi joint venture GAC Mitsubishi untuk Chinese market.

Tapi yang tak dinyana, Airtrek putih ini versi Ralliart.
Maka Surianto, sang pemilik mobil, tak sudi menghilangkan part-part berlabel Ralliart. Pokoknya harus tetap lengkap selengkap-lengkapnya. Yang diubah adalah, “Engine yang diupgrade lebih berpower.”

Yah, sikap ini samsek enggak salah.
Bagian mesin internal untuk sementara, tetap OEM semua. Hanya saja transmisi sudah menggunakan Evo 7 GTA. Lantas turbo memakai kepunyaan Evo 9. Dilanjutkan dengan pemasangan racing header, external wastegate, blow off valve dan intercooler kit dari GReddy.

Batam punya keunggulan komparatif, dimana mudah dan cepat mendapatkan aftermarket porformance spare parts. Baik baru, maupun seken. “Kesulitan hanyalah di saat menunggu proses kerja. Kalau untuk modifikasinya fun-fun aja sih,” ucap Surianto kelahiran Tanjung Balai Karimun, 3 April 1995. 

Velg putih ini pun menyesuaikan dengan cat bodinya. Airtrek dengan warna putih, menyiratkan tampilan clean dan simpel. Dipikir mudah, ternyata meskipun material semua original tinggal plug n play, namun pengecatannya mesti lebih ekstra fokus, karena warna mutiaranya mesti rata dan detail.

Tampilan meaty, memakai ban Good Year Eagle 245/40R18, ditopang dengan coilover Tein yang punya  pengaturan tinggi-rendah dan soft-hard. Surianto kemudian menggunakan pengereman Brembo yang diambil dari unit Evo 9 wagon supaya mendukung engine yang sudah diupgrade.

Surianto bilang, “Membangun sesuatu yang tepat dan detail, semuanya butuh proses. Utamakan function baru passion,” ucap pemilik WLGarage.id, sebuah workshop premium auto detailing di Batam.


Workshop:
WLGarage.id @wlgarage.id