Ini mobil langka. Toyota MR-S degan kode ZZW30. Biasa juga disebut sebagai MR2 Spyder. Kode S itu menandakan atapnya bisa dibuka. Mobil yang tak terlalu besar, tak terlalu panjang, namun pintunya dua.

Samuel punya tahun 2001. Transmisi manual (MT). Untuk MR-S dengan transmisi manual, di Indonesia agak langka. Kebanyakan SMT yang dikenal kurang responsif.

Yang menjadi langka lagi adalah dilengkapi opsional hard top waktu dibeli. Biasanya jika mobil roadster akan lebih enak dilihat apabila keadaan topless, “Tetapi untuk MR-S entah kenapa saya lebih suka pada saat dipasang hard top,” ujar Samuel.

Mobil ini ditemukan di Bali. Dengan pelat nomor Sulawesi. Pajaknya tidur 6 tahun. Kondisinya lumayan mengenaskan. Wajib direkondisi, hampir di semua bagian. Cat sudah kusam. Soft top ada sobek. Mesin harus overhaul. Interior ada beberapa yang cacat dan tidak lengkap. Berkat pengalaman main mobil hampir 20 tahun, bahkan juga sempat cari nafkah otomotif di Amerika, Samuel lambat tapi pasti membangun MR-S menjadi utuh kembali.

Fokus awal tentu pada bodi. Panel diperbaiki jika bisa, dibeli Jepang, USA atau Malaysia jika harus diganti, “Sebagian besar parts ditenteng.” Untuk cat merah tetap dipertahankan. Namun aslinya diganti dengan rosso corsa khas Ferrari, “Agar merahnya lebih cerah dari warna aslinya,” ucap kelahiran 30 juni 1982 ini.

Semua lampu, bagian detail kaki-kaki, komponen eksterior, kebanyakan memang dibeli dari luar negeri. Justru kesulitan kedua terletak pada kaki-kaki.

Pada dasarnya mobil ini MR yaitu mid engine rear wheel drive. Efek yang paling kentara adalah kendali setir cenderung under steer. Sudah dites beberapa kali. Solusinya bagian depan suspensi diseting agak keras. Dan bagian belakang agak lembut, “Serta camber minus 3 di roda belakang,” sebut pemilik postur 170 cm/73 kg ini. Wajar jika suatu saat bisa naik mobil ini, efek pantul suspensi depan sedikit bumpy.

Velg legendaris SSR Formula Mesh kebetulan mempunyai offset dan lebar yang cocok untuk mobil FR/MR. Untuk depan 17×7.5 inci dengan ET 43, dan di belakang 17×9.5 inci dengan ET 15. Velg ini dibungkus ban Achilles 123. Dimana ban ini, “Punya grip di jalan kering sangat ok dan spec ukuran yang saya mau tersedia yaitu 205/40/17 dan 255/35/17,” aku Samuel. Ketika DeepEnd coba, handlingnya baik sekali di jalanan zig zag. Seperti mengendarai gokart.

Patient is key. Dengan itu, hasil sempurna akan terlihat nyata.


Workshop:
Wheel & suspension: AT Motorsport @at_motorsport
Body work: Dee Garage @deee_garage
Engine: Otte Auto Repair @otte_auto_repair

Data Mods:
Facelift head lamp, facelift stop lamp, TRD rear wing, custom front lip custom, custom side splitter, custom rear diffuser, SSW wheel Formula Mesh 17x(7.5+9.5) inches, Achilles tyres 123 205/40R17 & 255/35R17, DGR coilover, Megan Racing adjustable rear lower arm, Megan Racing trailing arm, Ultra Racing front strut bar, Ultra Racing rear strut bar, porting & polish head, custom exhaust, Remus tail pipe, Nardi steering Classic 330 mm, Razo shift knob, Monkey Wrench racing short shifter, Pioneer head unit pioneer, Scanspeak speaker, Scanspeak tweeter, 2 x Venom subwoofer 10 inches, Venom power 4 channel