Gurun pasir tak pernah ramah. Siang terasa seperti neraka terbuka, malam menggigit tulang, dan lintasan ribuan kilometer seolah dibuat untuk menguji siapa yang benar-benar siap. Di tempat seperti inilah Rally Dakar berlangsung. Bukan sekadar balapan, tapi ujian hidup bagi manusia dan mesin.

Tahun 2026 jadi momen spesial bagi Indonesia. Setelah 14 tahun absen, Merah Putih kembali hadir di ajang reli paling brutal di dunia. Bukan satu, tapi dua nama yang berangkat dengan mental petarung, yakni Julian “Jejelogy” Johan dan Shammie Zacky Baridwan.

Jejelogy bukan nama baru di dunia off-road. Dari lintasan Asia hingga reli jarak jauh, ia sudah terbiasa hidup berdampingan dengan lumpur, debu, dan keputusan cepat di balik kemudi. Sementara Shammie adalah tipe petualang yang tenang tapi bermental baja, sosok yang tak mudah menyerah meski trek Dakar kerap memaksa banyak peserta angkat tangan. Di Dakar 2026, keduanya berdiri sejajar, membawa nama Indonesia ke level yang lebih ekstrem.

Bagi Jejelogy, Dakar bukan soal ngegas paling kencang. Ini tentang ritme, kesabaran, dan tahu kapan harus menahan ego. Berangkat dari kecintaan pada off-road sejak kecil dan pengalaman panjang di Asia Cross Country Rally, Jeje paham betul, Dakar selalu menghukum mereka yang terlalu percaya diri.

Turun di kelas Dakar Classic, ia mempercayakan perjuangannya pada Toyota Land Cruiser 100. SUV bermesin 1HDT turbo diesel 4.200 cc dengan tenaga sekitar 202 hp dan torsi 430 Nm ini bukan mobil modern penuh sensor, tapi mesin tangguh yang mengandalkan mekanik murni dan daya tahan. Dengan mobil inilah Jeje menaklukkan total lintasan sekitar 8.000 km di Arab Saudi yang panjang, panas, dan tanpa kompromi.

Di sampingnya duduk Mathieu Monplaisi, navigator asal Prancis yang paham betul bagaimana membaca medan Rally Dakar. Chemistry mereka langsung terasa sejak awal lomba. Hasilnya? Jejelogy mampu menjaga posisi ke-6 kelas H.2 dan peringkat ke-11 overall di fase awal Special Stage.

Jeje sendiri tak pernah menaruh target berlebihan. “Target utama saya ikut Dakar 2026 adalah untuk bisa mencapai garis finish setiap harinya dengan kendaraan utuh dan semua anggota tim dalam keadaan baik,” ujarnya. Kalimat sederhana, tapi justru itulah mental Dakar yang sesungguhnya.

Di sisi lain paddock, Shammie Zacky Baridwan menulis ceritanya sendiri. Bergabung dengan Compagnie Saharienne, tim reli asal Prancis yang juga menaungi Jejelogy, Shammie turun di Dakar Classic menggunakan Toyota Bundera. Mobil ini dikenal tangguh, seimbang, dan cocok untuk reli panjang yang menguras fisik serta konsentrasi.

Shammie ditemani Ignas Daunoravicius, navigator asal Lithuania yang sudah terbiasa membaca roadbook Dakar yang terkenal kejam. Kombinasi keduanya langsung mencuri perhatian. Di etape awal, Shammie sukses mencatatkan runner-up, lalu disusul finish lima besar di etape berikutnya.

Perjalanannya tentu tak selalu mulus. Salah satu etape sempat diwarnai kerusakan ringan pada mobil akibat medan ekstrem. Tapi Shammie memilih bertahan, memperbaiki seperlunya, lalu kembali ke lintasan. Pilihan yang sangat Dakar, yaitu lanjut selama masih bisa bergerak.

Pada akhirnya, kisah Jejelogy dan Shammie bukan cuma soal klasemen. Ini cerita tentang mental bertahan, kerja tim, dan keberanian membawa nama Indonesia ke medan yang tak memberi ampun. Rally Dakar 2026 bukan garis akhir, ini sinyal bahwa Indonesia mulai serius menulis bab baru di dunia reli global.