Tokyo Auto Salon (TAS) selama puluhan tahun selalu menjadi barometer dunia modifikasi. Namun TAS 2026 terasa berbeda sejak langkah pertama memasuki Makuhari Messe. Bukan karena mobil-mobilnya tiba-tiba lebih ekstrem, atau karena teknologi yang lebih futuristis.
Perbedaannya justru terasa lebih subtil, lebih struktural, dan jauh lebih menentukan yaitu tentang siapa yang menguasai ruang, atensi, dan imajinasi pengunjung. Di sinilah TAS 2026 berhenti menjadi sekadar pameran, dan mulai berfungsi sebagai panggung kekuasaan budaya otomotif global.

Tokyo Auto Salon selalu menjadi ruang bertemunya ide, teknologi, dan arah masa depan otomotif. DeepEnd berjalan bersama partner yang sevisi: Accelera @accelera_radial, Brabus by Alron @brabus_alronmotorindonesia, Drivetech Auto Garage @ drivetechautogarage, Empire Auto @empireauto.2, Pro7 @pro7autolighting, dan Surabaya Auto Gallery @surabaya_auto_gallery, mencatat 5 poin besar yang bisa kita jadikan pegangan:
1. Toyota dan Perubahan Skala: Dari Peserta Menjadi Poros Ekosistem
Toyota di TAS 2026 tidak sekadar “besar”. Hadir dengan skala yang mengubah keseimbangan ruang dan percakapan. Ketika pengunjung berjalan dari satu hall ke hall lain, terasa jelas bahwa Toyota bukan lagi satu dari banyak pemain besar. Ia menjadi poros yang membuat pemain lain berputar mengelilinginya, baik secara sadar maupun tidak.

Di North Hall Makuhari Messe berdampingan dengan Daihatsu Motor Co., Ltd. dan Toyota Industries Corporation, yang juga menampilkan produk dan konsep modifikasi mereka. Ini menunjukkan kolaborasi dalam pameran antara Toyota dan perusahaan-perusahaan di bawah payung Toyota Group. Bahkan Tom’s, Modellista, Toyota Jidosha Daigaku-gakko, dan banyak ekosistem Toyota lainnya sengaja dikumpulkan membentuk koloni yang amat meyakinkan dunia.

Ini bukan hanya soal ukuran booth atau jumlah unit yang dipajang, melainkan tentang bagaimana Toyota memposisikan dirinya sebagai pemilik narasi. Toyota tidak datang membawa satu cerita, melainkan sebuah dunia yang utuh. Dari SUV yang dirancang untuk kehidupan nyata, lini GR yang sarat emosi performa, hingga Lexus yang menampilkan sisi refined dan aspiratif dari modifikasi modern.

Yang menarik, Toyota tidak terlihat ingin mendominasi dengan kekuatan teknis semata. Mereka justru bermain di wilayah yang selama ini dianggap milik komunitas dan tuner independen: heritage, emosi, dan budaya. Di TAS 2026, Toyota tidak berbicara sebagai pabrikan, tetapi sebagai kurator budaya otomotif Jepang yang relevan secara global.

Secara internasional, ini adalah pergeseran besar. Biasanya, pabrikan besar berhati-hati agar tidak terlihat “terlalu mengatur” dunia modifikasi. Namun di sini, Toyota menunjukkan bahwa ketika sebuah merek cukup percaya diri dengan identitasnya, ia tidak perlu takut untuk memimpin. Toyota tidak menumpang pada kultur; ia membentuk dan menatanya.

2. Merchandise sebagai Bahasa Baru: Ketika Budaya Bisa Dibawa Pulang
Salah satu pemandangan paling konstan di TAS 2026 adalah antrean panjang di area yang, sepuluh tahun lalu, mungkin hanya dianggap pelengkap. Merchandise bukan lagi sudut kecil di belakang booth. Ia menjadi salah satu pusat gravitasi terbesar acara.


Yang membuat fenomena ini penting bukan sekadar soal penjualan, melainkan maknanya. Di tengah dunia otomotif yang semakin mahal, semakin kompleks, dan semakin tidak terjangkau bagi banyak orang, merchandise menjadi medium demokratis. Ia memungkinkan siapa pun, tanpa memandang kemampuan membeli mobil, untuk tetap menjadi bagian dari kultur.


Di TAS 2026, merchandise tidak terasa seperti barang promosi. Ia dikurasi dengan kesadaran tinggi terhadap desain, cerita, dan eksklusivitas. Setiap jaket, model skala, atau item koleksi terasa seperti artefak budaya, bukan sekadar produk. Tuner besar seperti HKS, VeilSide, ataupun Liberty Walk. Bahkan car brand seperti Honda, Toyota, Mitsubishi, Suzuki, atau Nissan. Hingga komunitas Valenti Queens, Initial D × PUI PUI Molcar dan RWB x Undefeated.

Secara global, ini mencerminkan perubahan besar dalam cara brand otomotif membangun hubungan dengan audiensnya. Mobil tidak lagi menjadi satu-satunya titik kontak emosional. Merchandise menjadi jembatan antara mimpi dan realitas, antara aspirasi dan kepemilikan. Orang mungkin tidak bisa membawa pulang Land Cruiser atau GR, tetapi mereka bisa membawa pulang simbol, cerita, dan identitasnya. Di TAS 2026, merchandise tidak lagi menjadi aksesoris pameran. Ia adalah mesin utama pembentuk loyalitas.

3. Evolusi Modifikasi: Dari Panggung Ego ke Alat Kehidupan
Perubahan ini paling terasa saat melihat jenis mobil yang dikerumuni, bukan sekadar dipotret. Di TAS 2026, banyak pengunjung berhenti lama di mobil-mobil yang secara visual mungkin tidak paling liar, tapi jelas bisa dibayangkan dipakai besok pagi.

Contoh paling jelas adalah Toyota Land Cruiser Prado generasi terbaru yang tampil dalam berbagai interpretasi. Bukan satu build ekstrem, melainkan beberapa versi dengan pendekatan berbeda: overland ringan, family adventure, daily-plus-weekend setup. Tidak ada stance ekstrem atau body kit agresif berlebihan. Misalnya dari 4×4 Engineering yang menonjolkan fungsi roof rack modular, sistem penyimpanan belakang yang rapi, suspension upgrade yang realistis, serta interior yang tetap nyaman.

Pengunjung tidak bertanya “tenaganya berapa” atau “cepernya sejauh apa”, melainkan “ini bisa dipakai harian?”, “berapa orang muat?”, “kalau road trip seminggu sanggup?” Ini menandakan perubahan mentalitas: modifikasi sebagai alat hidup, bukan piala kontes.

Hal serupa terlihat pada kei van dan mini MPV yang diubah menjadi micro-camper. Mobil-mobil kecil ini tidak mencoba terlihat gagah berlebihan. Justru kekuatannya ada pada kecerdikan ruang: tempat tidur lipat, meja kecil, panel listrik portabel. Ini bukan build untuk Instagram semata, tapi untuk orang yang benar-benar ingin pergi.

Secara global, ini sangat relevan. Di Eropa, Jepang, hingga kota besar Asia, ruang semakin sempit dan biaya semakin tinggi. TAS 2026 menunjukkan bahwa modifikasi merespons realitas itu. Mobil tidak lagi dipaksa menjadi sesuatu yang “luar biasa”, tetapi dibuat lebih masuk akal untuk kehidupan nyata.

4. Teknologi Jadi Fokus: Tapi Budayalah yang Memimpin
Teknologi sebenarnya hadir di mana-mana di TAS 2026, tetapi menariknya, ia jarang menjadi pusat perhatian utama. Contohnya bisa dilihat pada Toyota GR Yaris Morizo RR dan berbagai konsep performa lain. Secara teknis, mobil ini sangat menarik. Namun yang membuat orang berhenti lama bukanlah angka-angka teknisnya, melainkan cerita di baliknya.

Nama “Morizo” sendiri membawa beban historis dan emosional. Pengunjung tidak sekadar melihat mesin di tengah, tetapi mendengar kisah tentang obsesi Toyota terhadap motorsport, tentang filosofi berkendara, tentang hubungan antara pabrikan dan pengemudi. Teknologi menjadi menarik karena ia punya konteks budaya.

Hal serupa terlihat pada display komponen heritage. Mesin lama, part klasik, atau reinterpretasi desain lama tidak dipamerkan sebagai teknologi usang, melainkan sebagai narasi berkelanjutan. Pengunjung muda yang bahkan tidak pernah hidup di era mobil-mobil itu tetap tertarik, karena mereka sedang mengonsumsi cerita, bukan data.

Ini kontras dengan auto show konvensional di banyak negara, di mana layar LED besar penuh spesifikasi justru sering dilewati begitu saja. TAS 2026 menunjukkan bahwa orang ingin tahu “mengapa”, bukan hanya “apa”. Fakta ini penting: di era ketika EV dan teknologi semakin seragam, diferensiasi tidak lagi datang dari kecanggihan, tetapi dari cerita dan identitas. Dan di sinilah Jepang, lewat Tokyo Auto Salon, masih unggul.

5. Lampaui Format Auto Show: Menjadi Festival Budaya Global
Salah satu indikator paling jelas bahwa TAS 2026 telah melampaui format auto show adalah bagaimana orang menghabiskan waktunya. Banyak pengunjung datang tanpa agenda “melihat mobil tertentu”. Mereka berjalan, berhenti, mengobrol, belanja, lalu kembali lagi ke booth yang sama bukan karena mobilnya berubah, tetapi karena pengalaman sosialnya.

Area merchandise menjadi contoh paling nyata. Di beberapa booth, antrean merchandise bahkan lebih panjang daripada antrean melihat mobil. Orang datang untuk jaket, topi, die-cast, atau item eksklusif yang hanya tersedia di TAS. Mereka berdiskusi, membandingkan, dan berburu item seperti layaknya festival musik atau streetwear drop. Ini bukan perilaku khas auto show. Ini adalah perilaku festival budaya.

Selain itu, banyak pengunjung yang datang tidak sepenuhnya sebagai “car enthusiast hardcore”. Ada pasangan muda, keluarga, bahkan pengunjung yang lebih tertarik pada gaya hidup, desain, dan komunitas. Mobil menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir.

TAS 2026 juga terasa sangat “hidup” karena interaksi antarmanusia lebih dominan daripada presentasi satu arah. Tidak ada jarak kaku antara brand dan pengunjung. Banyak booth terasa seperti ruang nongkrong, bukan etalase.

Secara global, ini menjelaskan mengapa Tokyo Auto Salon justru semakin relevan ketika banyak auto show besar kehilangan daya tarik. TAS tidak bersaing dalam hal teknologi tercanggih, tetapi dalam pengalaman paling manusiawi.

Sebagai epilog…, pandangan DeepEnd secara langsung dari Makuhari Messe, Tokyo Auto Salon 2026 mengajarkan satu hal penting yaitu masa depan otomotif tidak hanya ditentukan oleh mesin, listrik, atau regulasi, tetapi oleh siapa yang mampu mengelola emosi, identitas, dan budaya.

Toyota membaca itu dengan sangat tepat. Merchandise menjadi bahasa baru. Modifikasi menemukan kembali maknanya. Dan Tokyo Auto Salon, perlahan tapi pasti, menjelma menjadi institusi budaya global, bukan sekadar pameran tahunan.

Maka car enthusiast Indonesia akan bergerak kemana? Hanya validasi di media sosial? Mencari likes tanpa makna dan kontribusi bagi ekosistem modifikasi ataupun otomotif di Tanah Air? Ayolah…, kita bergerak menuju yang lebih baik. ![]()
