Produsen otomotif Jepang Mazda Motor Corporation mengumumkan permintaan maaf resmi setelah menemukan indikasi akses ilegal pada salah satu sistem internal perusahaan. Insiden tersebut berpotensi menyebabkan sebagian data pribadi milik karyawan serta mitra bisnis perusahaan terekspos akibat serangan dari pihak eksternal.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis 19 Maret 2026, Mazda mengungkapkan bahwa aktivitas akses tidak sah ditemukan pada sistem manajemen gudang yang digunakan untuk mengelola operasi suku cadang yang dipasok dari Thailand. Setelah temuan tersebut, perusahaan segera melaporkan insiden ini kepada Personal Information Protection Commission, lembaga di bawah Kantor Kabinet Jepang yang mengawasi perlindungan data pribadi.
Hasil investigasi yang dilakukan bersama organisasi spesialis keamanan siber menunjukkan bahwa pelaku memanfaatkan celah keamanan dalam sistem tersebut untuk mendapatkan akses ke sebagian informasi yang tersimpan. Mazda menyebutkan terdapat sekitar 692 data yang berpotensi terekspos, mencakup identitas karyawan perusahaan, karyawan perusahaan grup, serta mitra bisnis yang bekerja sama dengan mereka.
Data yang mungkin terdampak meliputi user ID yang diterbitkan perusahaan, nama, alamat email, nama perusahaan, hingga ID mitra bisnis. Meski demikian, Mazda menegaskan bahwa sistem yang diretas tidak menyimpan data pelanggan, sehingga informasi pribadi konsumen dipastikan tidak terdampak oleh insiden ini.
Sejauh ini, perusahaan menyatakan belum menemukan bukti adanya kerugian lanjutan atau penyalahgunaan data. Namun Mazda tetap mengingatkan bahwa data yang bocor berpotensi digunakan untuk tindakan seperti phishing atau pengiriman email spam di masa depan, sehingga pihak yang terkait diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap pesan mencurigakan yang mengatasnamakan perusahaan.
Sebagai langkah penanganan, Mazda telah memperbarui sistem dengan membatasi komunikasi internet, memperketat sumber akses, menerapkan patch keamanan terbaru, serta meningkatkan pemantauan aktivitas sistem untuk mendeteksi potensi ancaman lebih cepat. Perusahaan juga menyatakan akan terus memperkuat kerangka keamanan siber guna mencegah insiden serupa terulang di masa mendatang, sembari menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. ![]()
