Tanpa banyak orang sadari, jumlah tim manufaktur di kelas utama FIA World Rally Championship (Rally1) musim 2026 sangat terbatas. Menurut daftar resmi peserta, hanya tiga tim pabrikan yang tercatat: Toyota Gazoo Racing WRT, Hyundai Shell Mobis World Rally Team, dan M Sport Ford World Rally Team.
- TOYOTA GAZOO RACING WRT
- HYUNDAI SHELL MOBIS WRT
- M-SPORT FORD WRT
Meski setiap tim bisa menurunkan beberapa mobil, jumlah pembalap resmi lebih sedikit dibanding era keemasan WRC, sementara beberapa peserta privat kadang tampil di Rally1 hanya pada beberapa seri, misalnya Martins Sesks (Ford Puma Rally1) dan Lorenzo Bertelli (Toyota GR Yaris Rally1) di Rally Sweden 2026.
Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil kombinasi faktor finansial, teknis, dan strategi bisnis yang membuat sebagian besar pabrikan besar enggan terjun ke kelas tertinggi WRC.
1. Biaya dan Investasi Sangat Tinggi
Mengembangkan mobil Rally1 kompetitif dan mendukung seluruh kalender dunia bukan hal murah. Setiap tim harus menanggung biaya pengembangan mobil, logistik global, serta dukungan teknis, termasuk engineer elektronik, mekanik khusus, dan persediaan spare parts. Total biaya tahunan untuk satu tim bisa mencapai puluhan juta euro.
Contohnya, Citroën memutuskan mundur pada akhir 2019 karena biaya operasional dan pengembangan yang tinggi, meski mobil mereka kompetitif. Hal serupa terjadi pada Subaru setelah 2008. Meskipun memiliki sejarah sukses, mereka menilai rasio biaya versus keuntungan promosi tidak sepadan. Akibatnya, hanya pabrikan dengan sumber daya besar yang mampu bertahan di WRC.
2. Regulasi Teknis yang Semakin Kompleks
Rally1 modern menuntut mobil hybrid, berat dan dimensi tertentu, serta standar keselamatan dan bahan bakar yang ketat. Perubahan regulasi menuntut riset mendalam dan prototipe uji coba yang mahal, tanpa jaminan kemenangan atau keuntungan pemasaran langsung.
Sebagai contoh, Toyota Gazoo Racing menghabiskan lebih dari satu tahun menyesuaikan Yaris Rally1 dengan sistem hybrid 100 kW, termasuk integrasi baterai, manajemen energi, dan strategi pengereman regeneratif. Sementara Hyundai Shell Mobis WRT menghadapi tantangan menjaga performa hybrid tetap konsisten di lintasan panjang dan kondisi cuaca ekstrem. Biaya dan kompleksitas ini membuat banyak pabrikan menunda atau menolak keterlibatan di kelas utama.
3. Minat Pabrikan Berkurang Dibanding Era Dulu
Pada era 1980-2000an, WRC menjadi panggung penting bagi banyak pabrikan seperti Subaru, Peugeot, Mitsubishi, Lancia, dan Toyota untuk menunjukkan teknologi dan performa reli mereka. Kompetisi ini mendorong inovasi sistem all-wheel-drive, turbocharged engine, dan suspensi canggih.
Seiring waktu, minat pabrikan menurun karena faktor bisnis. Peugeot, setelah sukses dengan 206 WRC dan 307 WRC, mundur pada 2005 karena restrukturisasi internal dan fokus pada mobil ramah lingkungan. Toyota pun sempat absen sebelum kembali dengan program yang lebih terfokus.
Tren ini menunjukkan bahwa WRC kini hanya diikuti pabrikan yang memiliki strategi jangka panjang dan sumber daya finansial besar, sementara sebagian besar merek lain lebih memilih fokus ke segmen pasar yang lebih menguntungkan atau teknologi mobil masa depan, seperti kendaraan listrik. ![]()
Image Credit: FIA WRC
Tren Jumlah Pabrikan Resmi di WRC per Era (1973-2026)
1973-1992 (Era Awal WRC/Group B & Group A)
Pada periode awal, WRC masih menerima banyak partisipan dan pabrikan, termasuk pabrikan besar serta yang tidak selalu resmi team pabrikan seperti kita kenal sekarang. Sering kali lebih dari 5 pabrikan ikut dalam musim musim itu, misalnya Alpine Renault, Fiat, Ford, Lancia, Opel, Datsun (Nissan), Audi, Peugeot, Toyota, Subaru, Mitsubishi dan lain lain. Bahkan daftar mobil dari berbagai pabrikan mencapai puluhan di setiap musim awalnya.

1993-1996 (Peralihan ke World Rally Car)
Perubahan aturan teknis membuat pabrikan resmi lebih terlibat langsung, namun masih cukup banyak. Musim musim seperti 1993, 1994, 1995 biasanya ada 4-6 tim pabrikan besar (misalnya Toyota, Subaru, Mitsubishi, Ford, Peugeot, dan kadang pabrikan lain tampil lebih terbatas).
1997-2010 (Era World Rally Car Dimulai)
Era baru mobil WRC membuat sejumlah pabrikan langsung terlibat: Citroën, Peugeot, Ford, Subaru, Mitsubishi, Seat, Skoda, VW (Volkswagen), Daihatsu di beberapa musim, dan lainnya, sehingga sering ada sekitar 5-7 pabrikan yang ikut di periode ini, meskipun beberapa hanya ikut beberapa musim.

2010-2016 (World Rally Cars Modern)
Setelah dominasi Citroën dan Ford, kemudian Volkswagen masuk kuat (2013-2016) sehingga jumlah pabrikan tetap lumayan. Biasanya 4-6 pabrikan ikut bertarung tiap musim sebelum beberapa keluar secara bertahap.

2017-2021 (Era World Rally Car Revisi)
Beberapa pabrikan mulai mundur: Volkswagen keluar setelah 2016. Musim musim berikutnya biasanya tersisa 3-4 pabrikan (Toyota, Hyundai, Ford/M Sport, dan kadang Citroën coba ikut tapi tidak selalu konsisten).

2022-2026 (Era Rally1 Modern Kelas Utama)
Mulai 2022 sampai 2026, jumlah pabrikan resmi di kelas Rally1 turun menjadi hanya 3 pabrikan utama setiap musim yaitu Toyota Gazoo Racing WRT, Hyundai Shell Mobis WRT, dan M Sport Ford World Rally Team. ![]()
Periode Jumlah Perkiraan Pabrikan Resmi (Rally1 / WRC)
1973–1986: 6-10 pabrikan ikut berlomba.
1987–1996: 5-7 pabrikan.
1997–2010: 5-7 pabrikan.
2011–2016: 4-6 pabrikan.
2017–2021: 3-5 pabrikan.
2022–2026: 3 pabrikan setiap musim.

Catatan penting:
– Di beberapa musim awal (1973-1992), WRC masih memakai format di mana mobil yang ikut mencetak poin bahkan tanpa tim pabrikan resmi. Sehingga jumlahnya bisa jauh lebih banyak daripada jumlah tim pabrikan terdaftar.
– Tidak ada satu tabel resmi jumlah pabrikan tiap tahun yang mudah diakses online. Banyak sumber hanya mencatat pabrikan yang menang atau present dalam daftar entry kompetitif tiap musim. ![]()











