Akhir pekan ini (28-29/3/2026), bakal ada tiga rider Indonesia mengaspal bersamaan di panggung balap dunia, tepatnya Grand Prix of the Americas yang berlangsung Circuit of the Americas (COTA), Autin, Texas, AS. Bukan di ajang yang sama, tapi justru itu yang bikin ceritanya menarik.
Berikut ketiga pembalap tersebut:

1. Veda Ega Pratama – Moto3
Nama pertama yang disebutkan ini belakangan ramai dibicarakan. Apalagi setelah ia berhasil meraih juara 3 GP Brasil, sekaligus menjadi orang Indonesia pertama yang meraih podium di ajang Moto3.
Prestasi tersebut terasa lebih istimewa, mengingat perjalanan panjang menuju level balap dunia tidak dimulai dari sirkuit besar, melainkan dari tempat yang sangat sederhana, yaitu pasar sapi di wilayah Gunungkidul, Yogyakarta. Di bawah bimbingan langsung sang ayah, Sudarmono (eks pembalap nasional), Veda terus mengasah skill balapnya.
Seiring waktu, karier balap Veda Ega terus menanjak. Dimuai sejak tahun 2019, dirinya menjadi juara 1 kelas pemula di ajang balap Honda Dream Cup dan One Prix. Beberapa tahun kemudian, ia naik kelas ke kejuaraan balap internasional Asia Talent Cup (ATC) dan berhasil juara di tahun 2023 saat usianya masih 14 tahun.

Penampilan apik selama di ATC membuka jalan baginya menuju kejuaraan bergengsi Red Bull Rookies Cup (RBRC), ajang balap yang jadi jembatan talenta muda menuju pentas MotoGP. Di akhir musim 2025, Veda finis sebagai runner-up di klasemen akhir dengan tiga kemenangan, menjadikannya layak naik kelas ke Moto3 meski belum berusia 18 tahun.
Tak hanya itu, Veda juga resmi menjadi bagian dari Red Bull Athlete, menunjukkan prestasinya diakui secara internasional.
Debutnya di awal musim 2026 pun sangat impresif. Veda sukses finis ke-5 pada di GP Thailand dan meraih podium 3 di GP Brasil. Saat ini, pembalap dengan nomor start 9 tersebut bertengger di posisi ketiga klasemen sementara Moto3.

2. Mario Suryo Aji – Moto2
Mario adalah representasi dari sebuah proses panjang. Naik pelan, jatuh-bangun, tapi tetap bertahan di jalur yang sama: Grand Prix.
Perjalanan Mario menuju Moto2 bukan cerita instan. Ia mengawali karier dari balap nasional, lalu masuk ke jalur pembinaan internasional lewat Asia Talent Cup. Dari sana, pintunya terbuka ke level yang lebih tinggi termasuk CEV Moto3 Junior World Championship, sebelum akhirnya mencicipi kerasnya Moto3 World Championship.
Di Moto3, Mario sempat jadi salah satu rider Indonesia yang konsisten tampil penuh satu musim. Bukan perkara mudah, karena kelas ini terkenal liar di mana race pace rapat, kontak antar rider sering terjadi, dan margin kesalahan hampir nol.
Namun justru dari situ, Mario ditempa.

Naik ke Moto2 jadi langkah berikutnya, dan ini level yang beda lagi. Kalau Moto3 soal agresivitas, Moto2 adalah soal presisi. Motor lebih besar, tenaga lebih buas, dan gaya balap harus jauh lebih matang.
Musim demi musim, dia terus beradaptasi. Dari yang awalnya sekadar cari ritme, sampai mulai bisa bersaing lebih dekat dengan grup tengah. Di Moto2, itu sudah jadi indikator penting.
Masuk musim 2026, posisi Mario bisa dibilang krusial. Ini fase di mana pengalaman harus mulai dikonversi jadi hasil. Bukan lagi sekadar bertahan di grid, tapi mulai menunjukkan kalau dia layak diperhitungkan.
Apalagi di kelas yang semua motornya relatif setara, satu-satunya pembeda adalah pembalapnya sendiri.
Dengan nomor start 64 yang sudah melekat, Mario membawa satu hal yang tak bisa dibeli, yakni pengalaman di level tertinggi balap motor dunia.
Di tengah kerasnya persaingan Moto2, satu hal jadi jelas bahwa bertahan saja tidak cukup, tapi Mario sudah membuktikan kalau dia mampu melakukannya. Tinggal selangkah lagi untuk naik level.

3. Dimas Ekky Pratama – FIM Harley-Davidson Bagger World Cup
Kalau DeepEnder mengikuti perjalanan Dimas Ekky dari dulu, dia adalah salah satu rider Indonesia yang sempat mencicipi kerasnya level Grand Prix. Mulai dari CEV Moto2 European Championship sampai wildcard di Moto2 World Championship, Dimas pernah ada di jalur yang sama dengan rider-rider top dunia.
Tapi tak semua perjalanan harus ‘lurus’.
Sekarang, Dimas memilih jalur yang beda, yakni FIM Harley-Davidson Bagger World Cup. Ini bukan sekadar pindah kelas, tapi juga pindah dunia.

Dimas Ekky Pratama. Photo; H-D Media Kit
Balap bagger itu jauh dari pakem balap motor yang kita kenal. Motor gede genre cruiser, bobot berat, dimensi panjang, dan secara teori tak ideal buat balapan cepat. Tapi justru di situlah tantangannya.
Masuk ke Bagger World Cup artinya harus reset banyak hal. Riding style beda, karakter motor beda, bahkan pendekatan balapnya juga beda. Dimas datang dengan modal yang tak semua rider punya, yaitu pengalaman di level tinggi dan racecraft yang sudah terbentuk.
Di grid yang didominasi rider dengan gaya balap khas Amerika dan Eropa, kehadiran Dimas jadi warna tersendiri. Bukan cuma sebagai wakil Indonesia, tapi juga sebagai pembalap yang membawa perspektif berbeda.
Masuk musim ini, tantangan terbesarnya bukan cuma adaptasi, tapi juga konsistensi. Karena di balap bagger, margin kesalahan jauh lebih besar, dan konsekuensinya juga lebih brutal.
Satu Pekan, Tiga Cerita
Kalau dilihat sekilas, ini cuma tiga pembalap yang kebetulan balapan di waktu yang sama. Tapi kalau ditarik lebih dalam, ada pola yang mulai terlihat:
- Veda mewakili generasi baru yang mulai masuk ke level dunia
- Mario menunjukkan proses bertahan dan berkembang di tengah kompetisi ketat
- Dimas membuktikan bahwa karier balap bisa punya banyak jalur
Dalam satu pekan, kita melihat tiga fase berbeda dari perjalanan seorang pembalap.
Fakta bahwa Indonesia punya wakil di pentas balap dunia secara bersamaan menunjukkan satu hal, yakni ekosistemnya mulai terbentuk.
Pembinaan dari level junior mulai menghasilkan, exposure internasional makin luas, dan pilihan karier makin beragam. ![]()
