FIA World Endurance Championship dikenal sebagai salah satu ajang balap paling kompleks di dunia. Setiap seri berlangsung minimal enam jam, bahkan mencapai 24 jam di Le Mans, dengan kombinasi tekanan mekanis, strategi pit stop, hingga manajemen energi yang harus presisi. Tidak hanya soal kecepatan, tetapi juga konsistensi dalam kondisi ekstrem, mulai dari suhu lintasan yang berubah hingga balapan malam hari.

Sejak kembali secara penuh pada 2012, Toyota membangun fondasi kuat di kompetisi ini. Hingga akhir musim 2025, mereka telah mencatat 49 kemenangan dan 13 gelar dunia, termasuk lima kemenangan di 24 Hours of Le Mans. Konsistensi ini tidak lepas dari pendekatan jangka panjang, termasuk pengembangan teknologi hybrid yang digunakan secara eksklusif sejak awal keikutsertaan mereka di era modern WEC.

Namun memasuki era Hypercar, persaingan berubah drastis. Musim 2026 akan diikuti oleh lebih dari 10 pabrikan besar, dengan total 14 manufaktur di grid, termasuk Ferrari, BMW, hingga Peugeot. Kondisi ini membuat setiap balapan tidak lagi didominasi satu tim, melainkan menjadi pertarungan strategi dan efisiensi di setiap stint.

Musim 2025 menjadi titik evaluasi penting. Toyota masih mampu finis sebagai runner-up klasemen konstruktor, namun performa di beberapa seri menunjukkan penurunan konsistensi, terutama di balapan seperti Sao Paulo dan Austin. Hal ini memperlihatkan bahwa margin keunggulan yang sebelumnya dimiliki kini semakin tipis.

Memasuki 2026, Toyota memperkenalkan identitas baru melalui TOYOTA RACING. Perubahan ini tidak hanya kosmetik, tetapi juga mencerminkan pendekatan yang lebih adaptif terhadap regulasi baru, kompetitor yang lebih agresif, serta kebutuhan pengembangan teknologi yang semakin cepat.

Dari sisi teknis, TR010 HYBRID mengalami sejumlah penyempurnaan. Mobil ini tetap mengandalkan mesin V6 twin-turbo 3.5 liter dengan output lebih dari 700 PS, dikombinasikan dengan sistem hybrid di gandar depan. Penggunaan bahan bakar balap 100% terbarukan dan ban baru dengan 50% material daur ulang menjadi bagian dari upaya menuju motorsport yang lebih berkelanjutan, tanpa mengorbankan performa.

Pengembangan teknologi dilakukan secara global, dengan powertrain dikembangkan di Higashi-Fuji, Jepang, dan sasis di Cologne, Jerman. Pendekatan ini memungkinkan integrasi antara performa dan efisiensi, termasuk optimalisasi aerodinamika melalui wind tunnel dan simulasi CFD yang lebih presisi.

Dari sisi pembalap, stabilitas menjadi kunci. Kamui Kobayashi dan Sebastien Buemi membawa pengalaman panjang di WEC, termasuk kemenangan Le Mans. Sementara Nyck de Vries menambah dimensi baru dengan latar belakang juara Formula E dan Formula 2, memperkuat kombinasi pengalaman dan adaptasi terhadap teknologi modern.

Dengan total delapan seri di kalender 2026, termasuk Imola, Spa-Francorchamps, hingga Le Mans, Toyota menargetkan kembali perebutan gelar dunia. Di tengah kompetisi yang semakin merata, faktor penentu tidak hanya terletak pada kecepatan, tetapi juga eksekusi strategi, efisiensi energi, dan kemampuan tim membaca dinamika balapan dari awal hingga finis.