Sabtu ini sibuk sekali. Dunia maya praktis tak terpantau, tak ada waktu untuk membuka media sosial maupun mengecek berita, termasuk kabar motorsport.

Padahal, akhir pekan ini berlangsung Idemitsu FIM Asia Road Racing Championship 2026 di Sepang International Circuit. Ajang ini diikuti oleh 26 pembalap Indonesia, jumlah yang sangat signifikan.

Angka tersebut setara dengan sekitar sepertiga dari total 74 pembalap yang turun di semua kelas, dengan partisipasi dari berbagai negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Jepang, India, China, Filipina, Vietnam, Singapura, Korea Selatan, hingga Taiwan.

Di antara semua itu, Gerry Salim yang kami tunggu-tunggu resultnya. Dengar-dengar mekanik timnya, MS Glow For Men Racing Team, fokus pada sejumlah improvement yang diakui Gerry membuatnya makin yakin untuk podium. Menariknya, kehadiran tim ini bukan sekadar sponsor biasa. MS Glow For Men menjadi salah satu brand yang mencoba masuk lebih dalam ke motorsport dengan membangun tim balap professional, sebuah langkah yang jarang dilakukan brand lifestyle, apalagi dari sektor skincare.

Langkah ini terasa makin relevan karena mereka juga membawa kembali nama-nama besar seperti Dimas Ekky Pratama dan Gerry ke panggung Asia. Di tengah dominasi tim-tim pabrikan, pendekatan seperti ini memberi warna berbeda, lebih dekat ke pengembangan talenta, bukan sekadar eksposur logo.

Gerry dikenal sebagai pembalap yang bukan sekadar cepat tapi pintar cari celah. Kalau berada dalam rombongan besar 5-10 pembalap (pack racing), mental Gerry sangat kuat. Berada dalam jarak sangat dekat, di mana selisih waktu antar rider bisa kurang dari 0,5 detik, Gerry bisa memanfaatkan posisi yang seringkali berubah di hampir setiap tikungan.

Ya, dia dikenal jago membaca momentum lawan. Sering menang lewat overtake di lap-lap akhir. Dan pola itu kembali terlihat di Sepang. Bukan tipe yang memimpin sejak awal, tapi selalu ada di posisi yang tepat saat balapan memasuki fase krusial.

Atmosfer di Sepang siang itu benar-benar menggambarkan wajah asli AP250.
Padat.
Panas.
Dan tak pernah memberi ruang untuk bernapas.

Sejak lampu start padam, ritme balapan langsung melonjak tinggi. Rheza Danica Ahrens sempat membuka dengan sempurna, tapi posisi terdepan tidak pernah benar-benar milik satu pembalap. Nama-nama seperti Krittapat Keankum dan Panjaruch Chitwirulchat silih berganti memimpin, sementara grup depan terus berubah dalam hitungan tikungan.

Memasuki pertengahan lomba, tensi meningkat dan insiden mulai terjadi. Galang Hendra Pratama ikut terlibat dalam drama, menegaskan betapa tipisnya margin kesalahan di kelas ini. Di tengah kekacauan itu, Krittapat mulai menunjukkan kontrol, menjaga ritme dan tetap berada di barisan depan tanpa terjebak duel berisiko.

Lap terakhir menjadi puncaknya. Posisi pertama terus berpindah hingga momen penentu terjadi di tikungan akhir saat Fahmi terjatuh ketika mencoba mengunci kemenangan. Celah itu dimanfaatkan sempurna oleh Krittapat untuk menang, sementara Gerry yang sejak awal bermain sabar di dalam rombongan, naik ke posisi kedua dengan selisih hanya 0,269 detik. Sebuah podium yang bukan datang dari dominasi, tapi dari kemampuan membaca balapan sampai detik terakhir.