Bengkulu mungkin lebih sering dikenal sebagai rumah bunga Rafflesia Arnoldi. Tapi buat rombongan peserta MAXi Tour Boemi Nusantara (MTBN) 2026, provinsi di pesisir barat Sumatra itu ternyata menyimpan lanskap yang jauh lebih kompleks dari sekadar ikon flora raksasa.
Selama tiga hari perjalanan (25–27 April 2026), para peserta touring bersama lini skutik MAXi Yamaha diajak menyusuri jalur pegunungan, pantai Samudra Hindia, kawasan perkebunan teh, sampai titik-titik budaya lokal yang selama ini jarang muncul dalam radar touring mainstream Indonesia.
Perjalanan etape Bengkulu dalam rangkaian MTBN 2026 terasa seperti kombinasi antara road trip dan eksplorasi budaya. Ada jalur berliku dengan kabut tipis khas Bukit Barisan, sungai tersembunyi di tengah hutan, sampai suara perkusi dhol yang mengisi atmosfer tradisi Tabot.

“Senang sekali bisa ikut serta dalam perjalanan MAXi Tour Boemi Nusantara bersama Yamaha dan menjelajahi Bengkulu untuk pertama kalinya. Sebelum datang ke sini, saya hanya mengenal Bengkulu sebagai rumah bagi Rafflesia Arnoldi, tetapi ternyata daerah ini punya banyak destinasi menarik yang benar-benar seru untuk dieksplorasi, mulai dari jalur pegunungan yang menantang, panorama pantai Samudra Hindia yang indah, hingga berbagai hidden gems yang belum banyak diketahui orang. Pengalaman touring ini juga terasa semakin nyaman dan menyenangkan berkat dukungan skutik MAXi Yamaha yang punya posisi berkendara ergonomis, performa yang tangguh, serta fitur-fitur modern yang sangat membantu selama perjalanan jarak jauh,” ujar Tino, salah seorang peserta touring.
Salah satu rute yang paling mencuri perhatian adalah Jalur Liku 9. Ruas jalan ini dikenal karena deretan tikungan tajam yang membelah kawasan Bukit Barisan. Bukan tipe jalur touring yang sekadar panjang dan mulus, Liku 9 justru menawarkan ritme berkendara yang lebih teknikal dengan panorama hutan tropis di kanan-kiri jalan. Pagi hari, kabut tipis sering turun dan membuat suasananya terasa nyaris sinematik.
Rombongan juga sempat singgah ke Sungai Trokon, aliran sungai alami yang berada di tengah kawasan hutan Bengkulu. Airnya jernih, dikelilingi batu-batu besar dan vegetasi lebat. Tempat seperti ini biasanya tidak muncul dalam brosur wisata populer, tapi justru memberi pengalaman yang lebih intim terhadap alam Bengkulu yang masih relatif belum terlalu tersentuh.
Nuansa berbeda hadir saat peserta menuju Danau Mas Harun Bastari di Rejang Lebong. Danau ini punya karakter visual yang cukup unik karena air terjun di sekitarnya langsung mengalir ke area danau. Lanskap perbukitan hijau dan udara dingin membuat kawasan ini terasa seperti jeda tenang setelah melewati jalur touring yang padat tikungan.

Dari dataran tinggi, perjalanan berlanjut ke Kebun Teh Kabawetan di Kepahiang. Hamparan kebun teh peninggalan era kolonial Belanda ini masih mempertahankan aktivitas pemetikan teh tradisional. Kontur jalan menuju area perkebunan juga jadi salah satu bagian favorit peserta karena menawarkan kombinasi tikungan panjang dan panorama terbuka.
Sementara di sisi pesisir, Pantai Sungai Suci memperlihatkan wajah Bengkulu yang lebih liar. Ombak besar Samudra Hindia menghantam tebing karang, sementara sebuah pulau kecil dihubungkan lewat jembatan gantung yang menjadi salah satu spot ikonik kawasan tersebut. Nama Sungai Suci sendiri berasal dari sumber air tawar di area pantai yang dipercaya memiliki nilai spiritual oleh masyarakat setempat.
Eksplorasi MTBN Bengkulu tidak berhenti di jalur dan panorama. Peserta juga diajak menikmati pendap, kuliner khas Bengkulu berbahan ikan berbumbu rempah yang dibungkus daun talas lalu dimasak berjam-jam. Karakter rasanya cukup kompleks, dengan perpaduan gurih, asam, dan sedikit pahit yang tidak umum ditemui di banyak masakan Nusantara lain.
Di tengah cuaca panas pesisir Sumatra, sirup jeruk kalamansi jadi pelepas dahaga yang nyaris selalu muncul di berbagai titik persinggahan. Minuman khas Bengkulu ini punya rasa asam segar dengan aroma sitrus yang kuat, berasal dari buah kalamansi yang sejak lama berkembang lewat jalur perdagangan kawasan Asia Tenggara.

Malam harinya, atmosfer perjalanan berubah lewat pertunjukan musik dhol. Dentuman alat musik tabuh besar khas Bengkulu itu identik dengan Festival Tabot, tradisi budaya yang sudah hidup selama ratusan tahun sejak dibawa komunitas keturunan India pada masa kolonial. Irama dhol yang repetitif dan menghentak memberi penutup yang berbeda dibanding touring pada umumnya.
“Melalui MAXi Tour Boemi Nusantara, Yamaha ingin memperkenalkan Bengkulu sebagai destinasi touring yang tidak hanya identik dengan bunga Rafflesia, tetapi juga kaya akan keindahan alam, budaya, kuliner khas, serta jalur perjalanan yang menarik untuk dieksplorasi. Yamaha hadir mendukung pengalaman tersebut dengan menghadirkan kenyamanan dan performa berkendara yang mampu menemani para rider menjelajahi berbagai hidden gem di Bengkulu. Kami berharap kegiatan ini dapat membuka perspektif baru bagi para pecinta touring bahwa Bengkulu merupakan salah satu destinasi premium yang layak menjadi tujuan petualangan roda dua di Indonesia,” ujar Wahidin, Deputy GM Sales & Manager Yamaha Main Dealers Thamrin Brothers.
Setelah Bengkulu, rangkaian MAXi Tour Boemi Nusantara 2026 akan lanjut ke Lampung sebagai destinasi berikutnya dalam perjalanan eksplorasi lintas daerah yang digelar Yamaha tahun ini. ![]()
