Keselamatan berkendara bukan hanya soal kemampuan mengemudi, tetapi juga bagaimana pengendara mampu mengantisipasi berbagai potensi risiko di jalan. Karena itu, budaya defensive driving menjadi semakin penting diterapkan, terutama saat kondisi lalu lintas padat maupun ketika menempuh perjalanan jarak jauh.

Defensive driving merupakan teknik berkendara yang menekankan sikap proaktif dan antisipatif selama perjalanan. Pengemudi tidak hanya fokus mengendalikan kendaraan, tetapi juga membaca situasi lalu lintas, memperkirakan potensi bahaya, serta mengambil keputusan secara tepat demi mengurangi risiko kecelakaan.

Menurut Hariadi, Asst. to Aftersales Department Head of Service PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), defensive driving menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan keselamatan seluruh pengguna jalan. “Potensi risiko perjalanan selalu ada, termasuk saat lalu lintas meningkat, seperti pada periode libur panjang. Agar semua pengguna jalan bisa meminimalisir potensi tersebut bersama-sama, akan lebih baik jika kita menerapkan defensive driving,” ujar Hariadi.

Penerapan defensive driving sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana sehari-hari. Dengan sikap berkendara yang lebih antisipatif, pengemudi dapat meminimalkan risiko kecelakaan sekaligus menjaga kenyamanan selama perjalanan.

1. Pastikan Kondisi Mobil Siap Digunakan
Sebelum memulai perjalanan, lakukan pemeriksaan dasar pada kendaraan seperti kondisi ban, rem, lampu, wiper, hingga cairan kendaraan. Mobil yang prima membantu pengemudi lebih siap menghadapi berbagai situasi di jalan.

2. Jaga Jarak Aman dengan Kendaraan Lain
Memberikan jarak aman dengan kendaraan di depan sangat penting untuk memberi waktu reaksi saat terjadi pengereman mendadak atau kondisi darurat. Kebiasaan ini membantu mengurangi risiko tabrakan beruntun.

3. Gunakan Lajur dengan Benar
Hindari berpindah jalur secara tiba-tiba tanpa memberi tanda lampu sein. Penggunaan lajur yang disiplin membuat arus lalu lintas lebih tertib dan membantu pengendara lain membaca arah pergerakan kendaraan.

4. Rutin Memantau Kondisi Sekitar Kendaraan
Pengemudi perlu aktif memeriksa kaca spion untuk memahami kondisi di belakang maupun samping kendaraan. Langkah ini membantu mengurangi blind spot dan membuat pengemudi lebih siap menghadapi pergerakan kendaraan lain.

5. Kendalikan Kecepatan dan Emosi
Defensive driving juga berkaitan erat dengan pengendalian emosi saat berkendara. Hindari mengemudi agresif, terpancing emosi, atau memaksakan kecepatan tinggi karena dapat meningkatkan risiko kecelakaan.

6. Istirahat Jika Tubuh Mulai Lelah
Saat konsentrasi mulai menurun atau tubuh terasa lelah, sebaiknya berhenti sejenak di rest area atau lokasi aman. Kondisi fisik yang prima menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keselamatan perjalanan.

Suzuki menilai defensive driving perlu menjadi budaya berkendara sehari-hari. Dengan kesiapan kendaraan, kewaspadaan pengemudi, serta kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, perjalanan dapat menjadi lebih aman dan nyaman bagi seluruh pengguna jalan.