Ada banyak merek sepeda motor yang beredar di seluruh dunia. Tapi yang bisa bertahan lebih dari satu abad, apalagi sambil mempertahankan identitasnya, jumlahnya bisa dihitung jari.

Husqvarna adalah salah satunya.

Jenama asal Swedia ini mungkin lebih dikenal lewat model Norden, Svartpillen, Vitpilen, atau lini motor enduro dan motocross yang bersaing di kejuaraan dunia.

Namun dibaliknya, ada cerita yang dimulai lebih dari 120 tahun lalu, ketika sepeda motor masih menjadi eksperimen yang bahkan belum menemukan bentuk idealnya.

Bermula pada 1903 di Swedia. Kala itu, Husqvarna memperkenalkan Motor-Velocipede, sebuah sepeda yang dipasangi mesin FN 1-silinder berkapasitas 225 cc. Tenaganya hanya sedikit di atas satu horsepower dengan kecepatan puncak sekitar 50 km/jam. Angka yang terdengar sederhana saat ini, tetapi cukup untuk menandai langkah pertama Husqvarna memasuki dunia kendaraan bermotor.

Tiga dekade kemudian, merek tersebut mulai menunjukkan ambisinya lewat 120 SV. Motor bermesin V-twin ini tak hanya menjadi salah satu produk penting dalam sejarah Husqvarna, tetapi juga mulai membangun reputasi di dunia balap. Sejumlah kemenangan di ajang seperti Swedish Grand Prix membantu memperkenalkan nama Husqvarna kepada publik yang lebih luas.

Momentum besar datang pada pertengahan 1950-an melalui Silverpilen. Motor yang dijuluki “Silver Arrow” ini memiliki bobot hanya sekitar 75 kilogram, sangat ringan untuk ukuran zamannya. Dipadukan dengan mesin 175 cc yang responsif, Silverpilen menjadi simbol pendekatan Husqvarna terhadap performa. Model ini juga ikut membentuk fondasi dominasi Husqvarna di dunia off-road pada dekade-dekade berikutnya.

Jika Silverpilen menjadi fondasi, maka Husqvarna 400 Cross adalah motor yang membawa nama merek ini ke panggung global. Memasuki akhir 1960-an hingga awal 1970-an, model dua langkah tersebut menjadi salah satu motor paling disegani di lintasan tanah dan balap gurun. Bengt Aberg sukses merebut dua gelar juara dunia motocross kelas 500 cc secara beruntun, sementara Malcolm Smith dan Gunnar Nilsson memenangkan Baja 1000 tahun 1971 menggunakan Husqvarna.

Menariknya, pengaruh 400 Cross tidak berhenti di arena balap. Aktor Steve McQueen ikut memperkenalkan motor ini kepada khalayak yang lebih luas melalui film dokumenter legendaris “On Any Sunday”. Bagi banyak penggemar roda dua, momen tersebut menjadi salah satu titik ketika Husqvarna mulai dikenal bukan hanya sebagai pabrikan motor, tetapi juga bagian dari kultur berkendara.

Hubungan Husqvarna dengan medan ekstrem terus berlanjut sepanjang 1980-an. Baja 1000 menjadi salah satu arena pembuktian utama. Motor seperti XC 500 dipaksa menghadapi ratusan kilometer jalur gurun yang keras, temperatur tinggi, dan kondisi yang tidak memberi ruang untuk kesalahan. Reputasi soal ketangguhan yang melekat pada Husqvarna hingga sekarang banyak dibangun dari pengalaman di ajang-ajang seperti ini.

Pada periode yang sama, Husqvarna juga terus bereksperimen. Salah satu contohnya adalah CR 420 AE yang hadir pada 1985. Motor enduro ini menggunakan transmisi otomatis empat percepatan, sesuatu yang terbilang tidak umum pada masanya. Langkah tersebut menunjukkan bahwa inovasi bagi Husqvarna bukan sekadar soal tenaga mesin, tetapi juga bagaimana membuat motor bekerja lebih efektif di berbagai kondisi.

Babak baru dimulai pada 2013 ketika divisi sepeda motor Husqvarna berpindah ke Mattighofen, Austria. Relokasi ini menjadi titik balik yang mengubah arah pertumbuhan perusahaan. Di era inilah lahir berbagai model yang memperluas karakter Husqvarna, mulai dari 701 Supermoto dan 701 Enduro hingga keluarga Vitpilen, Svartpilen, serta Norden 901 yang kini menjadi salah satu ikon segmen adventure.

Meski portofolionya semakin beragam, akar balap Husqvarna tidak pernah ditinggalkan. Merek ini telah mengoleksi lebih dari 100 gelar juara dunia internasional. Dalam beberapa musim terakhir, nama seperti Billy Bolt di SuperEnduro dan Kay de Wolf di MX2 kembali mengingatkan bahwa DNA kompetisi masih menjadi bagian penting dari identitas Husqvarna.

Setelah lebih dari 120 tahun, cerita mereka ternyata belum berubah terlalu jauh.

Masih tentang mesin yang dibuat untuk bergerak.
Masih tentang orang-orang yang memilih jalur berbeda.
Masih tentang rasa penasaran terhadap apa yang ada setelah tikungan berikutnya.

Pada akhirnya, warisan terbesar Husqvarna bukan hanya deretan model ikonik yang pernah diproduksi selama lebih dari satu abad. Yang membuat kisah ini terus hidup adalah para pengendaranya, mulai dari pembalap yang mengejar kemenangan hingga petualang yang mencari jalan baru di luar peta.

Setiap perjalanan menambah satu halaman baru dalam cerita panjang yang masih terus ditulis hingga hari ini.