Keputusan Francesco Bagnaia meninggalkan Ducati Lenovo Team pada akhir musim 2026 mungkin akan dikenang sebagai salah satu transfer paling berani dalam sejarah MotoGP modern.
Setelah delapan musim bersama pabrikan asal Borgo Panigale tersebut dan meraih dua gelar juara dunia MotoGP secara back-to-back (2022-2023), Pecco memilih memulai babak baru bersama Aprilia Racing mulai 2027.
Langkah ini bukan sekadar transfer pembalap dari satu tim ke tim lain. Di balik kontrak empat tahun yang diumumkan Aprilia di Assen, tersimpan ambisi yang jauh lebih besar, yaitu membangun kekuatan baru MotoGP Italia di tengah perubahan regulasi terbesar dalam satu dekade terakhir.
Musim 2027 akan menjadi titik nol baru bagi seluruh pabrikan MotoGP. Regulasi mesin berubah dari 1.000 cc menjadi 850 cc, paket aerodinamika akan dipangkas, dan sejumlah perangkat elektronik juga mengalami penyesuaian. Artinya, banyak keunggulan yang selama ini dimiliki Ducati berpotensi berkurang ketika era baru dimulai.

Dalam kondisi seperti itu, Bagnaia tampaknya melihat peluang yang jarang muncul dalam karier seorang pembalap. Daripada bertahan di lingkungan yang sudah mapan, ia memilih menjadi bagian dari proyek yang sedang naik daun dan berpotensi membentuk sejarah baru.
Yang membuat transfer ini semakin menarik adalah apa yang sebenarnya dibawa Bagnaia ke Noale. Aprilia tidak hanya mendapatkan seorang juara dunia. Mereka juga merekrut pembalap yang selama bertahun-tahun menjadi pusat pengembangan motor Ducati.
Pecco memahami secara mendalam bagaimana sebuah motor juara dibangun, bagaimana proses pengembangan dilakukan, serta standar teknis yang dibutuhkan untuk bersaing di level tertinggi. Pengalaman tersebut bisa menjadi aset yang sangat berharga bagi Aprilia saat mempersiapkan RS-GP generasi baru untuk regulasi 2027.
Di sisi lain, Aprilia juga berhasil mewujudkan sesuatu yang selama ini hanya menjadi angan-angan penggemar balap Italia. Untuk pertama kalinya, mereka akan memiliki duet pembalap Italia di tim pabrikan, yakni Francesco Bagnaia dan Marco Bezzecchi.
Keduanya bukan sosok asing satu sama lain. Mereka tumbuh dalam generasi yang sama, pernah berguru di ‘padepokan’ yang serupa (VR46 Racing Academy), dan kini akan menjadi ujung tombak proyek ambisius Aprilia. Kombinasi ini berpotensi menghadirkan salah satu line-up terkuat di MotoGP dalam beberapa tahun mendatang.
Menariknya, Aprilia juga tidak menyembunyikan dimensi nasionalisme di balik perekrutan tersebut. CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola, secara terbuka menyebut kedatangan Bagnaia sebagai bagian dari kebangkitan olahraga Italia yang dalam beberapa tahun terakhir juga ditandai oleh prestasi nama-nama seperti Kimi Antonelli, Jannik Sinner, dan Federica Brignone.

“Itulah mengapa menyambut Pecco membuat kami bangga dan memberikan dorongan lebih lanjut bagi olahraga Italia di kancah internasional. Kami akan menyambutnya dan keluarganya dengan hangat, tetapi pertama-tama kami akan mencoba mengalahkannya! Memiliki juara dunia berkali-kali adalah tanggung jawab yang sangat ingin kami emban,” ujar Rivola.
Dengan begini, Aprilia tidak hanya membangun tim balap, tetapi juga berusaha menciptakan simbol kebanggaan nasional dengan menggabungkan motor Italia dan dua pembalap Italia terbaik generasinya.
Jika berhasil membawa Aprilia meraih gelar dunia di era baru MotoGP, pencapaian tersebut mungkin akan melampaui dua gelar yang pernah ia raih bersama Ducati. Sebab saat itu, Bagnaia tidak hanya menjadi juara dunia, tapi juga sosok yang membantu mengubah Aprilia dari penantang menjadi penguasa baru MotoGP.
Dan kalau itu terjadi, kepindahan ke Noale akan dikenang bukan sebagai keputusan berisiko, melainkan sebagai taruhan terbesar yang berhasil dimenangkan Pecco Bagnaia. ![]()
