Pendapatan dari hasil jualan mobil mungkin jadi tujuan utama sebuah pabrikan otomotif. Namun, bagi merek-merek besar seperti Honda, ada investasi lain yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar angka penjualan, yakni motorsport.
Di tengah biaya operasional balap yang terus meningkat setiap musim, keputusan untuk tetap turun ke lintasan selama puluhan tahun bukanlah langkah yang diambil tanpa perhitungan.
Hal inilah yang kembali mendapat pengakuan saat PT Honda Prospect Motor (HPM) menerima penghargaan atas kontribusinya terhadap perkembangan motorsport Indonesia dalam ajang IMI Awards 2025. Penghargaan tersebut bukan sekadar simbol apresiasi, melainkan penegasan bahwa konsistensi Honda selama lebih dari empat dekade telah ikut membentuk wajah balap nasional.

Sejak era balap jalan raya pada dekade 1980-an, Honda terus mempertahankan eksistensinya di berbagai level kompetisi. Mulai dari penyelenggaraan One Make Race (OMR), keterlibatan di Kejuaraan Nasional Indonesian Touring Car Race (ITCR), hingga membentuk Honda Racing Indonesia (HRI) sebagai tim balap profesional. Langkah tersebut menunjukkan bahwa investasi Honda di dunia balap bukan proyek jangka pendek yang hanya mengejar publisitas.
Lantas, mengapa sebuah pabrikan tetap bersedia menggelontorkan dana besar ke dunia balap nasional yang secara bisnis tidak selalu menghasilkan keuntungan langsung?
Jawabannya ada pada fungsi motorsport itu sendiri. Balapan merupakan laboratorium paling ekstrem bagi sebuah pabrikan. Di lintasan, mesin dipaksa bekerja pada batas maksimal, sistem pendingin diuji dalam kondisi paling berat, sementara suspensi, rem, hingga aerodinamika harus mampu bertahan menghadapi tekanan yang jauh lebih tinggi dibanding penggunaan harian.

Setiap data yang diperoleh dari balapan menjadi bekal penting dalam pengembangan mobil produksi massal. Teknologi yang terbukti efektif di lintasan sering kali menjadi inspirasi bagi pengembangan kendaraan jalan raya, baik dari sisi performa, keandalan, maupun keselamatan. Karena itu, banyak pabrikan menganggap biaya balap sebagai investasi riset dan pengembangan, bukan sekadar biaya promosi.
Namun manfaat motorsport tidak berhenti pada aspek teknologi. Balapan juga membangun citra merek. Ketika sebuah mobil berhasil memenangkan kompetisi, publik akan mengaitkan kemenangan tersebut dengan kualitas produk yang dijual di showroom. Filosofi “race proven” masih menjadi salah satu strategi pemasaran paling efektif di industri otomotif global.
Di Indonesia, manfaat lainnya bahkan lebih besar. Kehadiran pabrikan seperti Honda ikut menjaga keberlangsungan ekosistem motorsport nasional. Tanpa dukungan produsen, sulit membayangkan adanya kompetisi yang sehat disertai pembinaan pembalap muda, pengembangan mekanik profesional, hingga industri aftermarket yang terus berkembang.

Honda sendiri menjadi salah satu contoh bagaimana investasi tersebut dijalankan secara konsisten. Di IMI Awards 2025, Honda Racing Indonesia tidak hanya menerima penghargaan atas kontribusi jangka panjang Honda terhadap motorsport nasional, tetapi juga membawa pulang gelar juara tim ITCR 1200 sepanjang musim Mandalika Festival of Speed 2025.
Prestasi individu pun melengkapi pencapaian tersebut. Avila Bahar berhasil menjadi juara ITCR 1200 Seeded A, Andri Abirezky menjuarai ITCR 1200 Seeded B, sementara Alvin Bahar kembali menunjukkan kelasnya dengan meraih gelar juara ITCR 3600 bersama Honda Civic Type R sekaligus membawa HRI menjadi juara tim di kelas tersebut.
Menurut Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy, penghargaan ini menjadi bukti bahwa konsistensi Honda selama lebih dari 40 tahun bukan hanya soal mempertahankan nama di lintasan, tetapi juga menjadi bagian dari perkembangan olahraga otomotif Indonesia.

“Penghargaan ini menjadi apresiasi yang berarti bagi Honda di mana kami terus konsisten selama lebih dari empat dekade di dunia balap nasional. Hal ini bukan sekadar rekam jejak, melainkan bukti nyata bagaimana semangat performa dan ketangguhan Honda terus diuji dan dibuktikan di lintasan. Ke depan, kami akan terus mendukung perkembangan ekosistem motorsport Indonesia, termasuk regenerasi pembalap muda Tanah Air,” ujar Yusak Billy.
Senada dengan itu, Direktur Honda Racing Indonesia, Alvin Bahar, menegaskan bahwa keberhasilan di lintasan lahir dari kerja kolektif seluruh tim.
“Gelar juara tim di ITCR 1200 dan ITCR 3600 adalah hasil kerja keras seluruh elemen tim, bukan hanya pembalap di lintasan. Penghargaan ini sekaligus menjadi penyemangat kami untuk terus menjaga konsistensi di musim-musim mendatang.”
Selama masih ada produsen yang mau berinvestasi membangun pembalap, teknologi, dan ekosistem kompetisi, motorsport Indonesia akan terus memiliki ruang untuk berkembang. ![]()
