Tak hanya sekadar pamer mobil baru, PT BYD Motor Indonesia juga menggelar Media Tech Auto Talk, semacam kelas terbuka buat media yang bahas dalam-dalam soal teknologi Dual Mode (DM) yang selama ini jadi nyawa dari lini kendaraan hybrid BYD. Bukan basa-basi promosi, sesi ini isinya benar-benar membedah bagaimana motor listrik dan mesin bensin bisa hidup berdampingan dalam satu platform tanpa saling mengganggu.
Sebagai informasi, BYD punya tiga varian pendekatan dari teknologi DM ini, yaitu DM-i yang mengejar efisiensi, DM-p yang mengejar performa, dan DMO yang dirancang khusus buat medan off-road. Ketiganya lahir dari akar yang sama tapi dibesarkan dengan tujuan berbeda, ibarat tiga anak dari orang tua yang sama tapi punya jalan hidup masing masing.

Fondasi dari semua ini disebut filosofi electric-first. Konsepnya sederhana, motor listrik jadi penggerak utama di hampir semua kondisi berkendara, sementara mesin bensin bertugas untuk mengisi daya baterai atau bantu dorong tenaga kalau memang dibutuhkan. Semua perpindahan antara mode listrik dan mode hybrid berjalan otomatis lewat sistem manajemen energi, jadi pengemudi tinggal duduk manis sementara mobil yang mengatur kapan harus pakai listrik dan kapan harus melibatkan mesin bensin.
BYD menyebut karakter hasil dari filosofi ini dengan singkatan GASS, singkatan dari Gesit, Andal, Senyap, dan Super Irit. Konsep ini bukan barang baru buat BYD, sebab DM generasi pertama sudah diperkenalkan sejak 2008. Hampir dua dekade berjalan, teknologi ini terus dipoles sampai sekarang sudah masuk generasi kelima alias DM 5.0, dengan perbaikan di sisi efisiensi sistem hybrid, performa, sampai pengalaman berkendara secara keseluruhan.

Di Indonesia sendiri, wujud nyata dari filosofi electric-first ini muncul lewat BYD M6 DM, model pertama yang membawa Dual Mode Technology ke pasar lokal. Sejak diperkenalkan, mobil ini sudah mengumpulkan lebih dari 4.000 pemesanan, angka yang menurut BYD jadi bukti masyarakat mulai terbuka sama solusi mobilitas yang lebih efisien.
Luther Panjaitan, Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, bilang pencapaian itu jadi alasan kenapa edukasi soal teknologi ini perlu diperluas. Ia menyebut selama lebih dari dua dekade BYD jadi salah satu pionir pengembangan Dual Mode Technology yang kini sudah berevolusi hingga generasi kelima, dan respons pasar terhadap M6 DM menunjukkan masyarakat tidak cuma makin terbuka soal mobilitas efisien tapi juga makin tertarik memahami teknologi di baliknya.
Nah, dari sini masuk ke bagian yang paling sering bikin orang awam bingung, apa sih bedanya DM-i, DM-p, dan DMO. Mari dibedah satu-satu.

DM-i, buat yang cuma mau irit tapi tetap nyaman
DM-i alias Dual Mode Intelligent ini didesain buat orang yang keseharian mobilnya dipakai commuting, antar jemput anak, atau sekadar muter di kota. Prioritasnya jelas, hemat energi tanpa mengorbankan kenyamanan. Sama seperti konsep besarnya, motor listrik tetap jadi penggerak utama, sementara mesin hybrid kerja di belakang layar buat ngisi daya atau bantu tenaga kalau perlu.
Ada tiga komponen yang jadi tulang punggung DM-i, yaitu mesin hybrid, Electric Hybrid System atau EHS, dan Blade Battery. Yang bikin menarik dari mesin hybridnya adalah kapasitas 1.5L naturally aspirated ini punya efisiensi termal sampai 46,06 persen, salah satu yang tertinggi di antara mesin produksi massal di dunia saat ini. Angka setinggi itu didapat lewat kombinasi rasio kompresi 16 banding 1, Exhaust Gas Recirculation, Intelligent Split Cooling Technology, sampai algoritma knock control yang menjaga pembakaran tetap stabil meski rasio kompresinya ultra tinggi. Efeknya, mesin ini bisa jalan pakai bensin RON rendah, minimal RON 92 saja.
Mesin ini kemudian dipadukan dengan EHS, sistem penggerak listrik yang menggabungkan motor listrik, kontrol elektronik, single-gear reducer, direct-drive clutch, dan sistem pendingin oli jadi satu unit yang lebih ringkas. Penggabungan ini berhasil memangkas bobot dan volume sistem sampai sekitar 30 persen, yang ujung ujungnya bikin penyaluran tenaga lebih efisien dan respons akselerasi lebih enak dirasakan. Berdasarkan simulasi internal BYD dengan kondisi baterai dan tangki penuh, BYD M6 DM yang pakai platform DM-i punya potensi efisiensi konsumsi bahan bakar sampai 65 km per liter dalam simulasi uji jalan sejauh sekitar 150 kilometer.
DM-p, versi buat yang doyan akselerasi
Kalau DM-i main di ranah efisiensi, DM-p alias Dual Mode Powerful jelas jalan di jalur berbeda. Platform ini menambahkan motor listrik di bagian belakang lewat Rear Powertrain Assembly, sehingga sistem penggeraknya jadi All-Wheel Drive dengan motor di roda depan dan belakang sekaligus. Hasilnya bisa ditebak, distribusi tenaga jadi lebih merata ke semua roda, akselerasi terasa lebih responsif, dan traksi tetap terjaga meski kondisi jalan berubah ubah.
Mesin yang dipakai di platform ini juga naik kelas, pakai unit hybrid 1,5L Turbo dengan tenaga maksimum 115 kW atau setara 156 PS dan torsi puncak 225 Nm. Efisiensi termalnya masih terjaga di angka 45,3 persen, jadi meski dikejar performa tinggi, karakter halus dan hemat khas Dual Mode tetap dipertahankan lewat sistem yang otomatis mengatur kombinasi antara motor listrik dan mesin sesuai kondisi jalan.

DMO, buat yang mau main lumpur tanpa meninggalkan karakter EV
Bagian paling unik justru ada di DMO, singkatan dari Dual Mode Off-road. Teknologi ini jadi jawaban BYD buat segmen kendaraan yang butuh lebih dari sekadar jalan mulus perkotaan. Di ekosistem BYD Group, teknologi ini bisa ditemukan di model-model DENZA, merek premium milik BYD, seperti DENZA B5 dan DENZA B8.
Bedanya dengan mobil off-road konvensional yang biasanya mengandalkan mesin sebagai penggerak utama, DMO tetap setia sama filosofi electric-first, motor listrik yang jadi penggerak utama sementara mesin cuma jalan kalau dibutuhkan tambahan energi atau tenaga. Konsekuensinya, karakter berkendara tetap halus dan senyap layaknya mobil listrik, tapi kemampuan menghadapi medan berat tetap tidak berkurang.
Untuk mewujudkan itu, BYD merancang arsitektur khusus yang mengintegrasikan Front Longitudinal Electric Hybrid System yang diklaim jadi yang pertama di dunia, mesin hybrid longitudinal 1.5L turbo, dan motor belakang yang disiapkan buat menghadapi berbagai karakter medan. Struktur bodinya juga dipertegas lewat kombinasi Cell-to-Chassis dan Hybrid Ladder Frame Body, yang mendongkrak torsional rigidity sampai 38 persen. Efeknya kestabilan mobil jadi lebih baik dan pengendalian lebih presisi saat melibas medan yang tidak rata.
DMO juga dibekali beberapa Terrain Mode yang bisa menyesuaikan distribusi tenaga dan karakter berkendara sesuai kondisi permukaan jalan, mulai dari Snow, Sand, Mud, Mountain, Rock, sampai Wading Mode.
Soal biaya, bukan cuma soal irit BBM
Selain bahas performa dan pengalaman berkendara, BYD juga menyoroti sisi biaya kepemilikan jangka panjang. Berdasarkan simulasi internal dengan basis perbandingan terhadap mobil konvensional bermesin 1.500 cc di segmen setara, DM-i diklaim bisa menghemat biaya operasional sampai sekitar 60 persen. Angka ini bahkan lebih tinggi kalau merujuk hasil pengujian konsumsi bahan bakar oleh media nasional, yang mencatat efisiensi biaya operasional sampai sekitar 66 persen.
Selain urusan bahan bakar, interval perawatan yang lebih panjang juga jadi bagian dari strategi menekan total cost of ownership. Karena motor listrik jadi penggerak utama dan mesin hybrid bekerja lebih efisien, frekuensi kerja mesin pembakaran bisa dikurangi sehingga kebutuhan servis berkala pun ikut berkurang. Dari simulasi biaya perawatan tiga tahun pertama, BYD mengklaim kendaraan DM-i bisa menghemat biaya perawatan sampai sekitar 30 persen dibanding mobil ICE di kelas yang sama.
Dengan tiga pendekatan yang berjalan paralel ini, BYD menegaskan posisinya bahwa transisi menuju kendaraan energi baru tidak harus ditempuh lewat satu jalur teknologi saja. DM-i menjawab kebutuhan efisiensi harian, DM-p menjawab hasrat performa, dan DMO menjawab tantangan medan berat, semuanya berangkat dari akar teknologi yang sama tapi diarahkan buat kebutuhan yang benar benar berbeda. ![]()
