Pasar otomotif Indonesia belakangan makin ramai oleh merek asal Tiongkok. Nyaris setiap beberapa bulan ada nama baru yang masuk, kebanyakan menjual EV dengan jurus serupa, banjir fitur digital, harga agresif, dan klaim jarak tempuh tinggi.
Di tengah pola yang mulai terasa seragam ini, Hongqi justru datang dengan pendekatan berbeda, mengandalkan cerita sejarah panjang ketimbang perang spesifikasi.

Hongqi bukan merek baru di negara asalnya. Berdiri sejak 1958, mereka menyandang status sebagai merek otomotif tertua di Tiongkok, dan selama puluhan tahun jadi kendaraan resmi untuk pemimpin tertinggi negara dalam berbagai agenda kenegaraan dan kunjungan diplomatik. Status ini yang membuat nama Hongqi di Tiongkok setara dengan simbol kehormatan, jauh sebelum tren mobil listrik ramai seperti sekarang.
Ketika akhirnya memutuskan masuk Indonesia lewat kemitraan dengan Indomobil Group pada 12 Agustus 2026, Hongqi tidak langsung membombardir pasar dengan banyak model. Mereka memilih memperkenalkan satu produk saja, E-HS9, sebuah flagship full-size SUV listrik yang dianggap paling mewakili karakter merek secara utuh. Strategi masuk pelan-pelan dengan satu produk andalan ini kontras dengan sejumlah merek Tiongkok lain yang cenderung agresif menggelontorkan banyak varian sekaligus di tahun pertama.

General Manager of China FAW Group Import & Export Co Ltd, Xiao Xiao, menyebut Indonesia sebagai pasar yang konsumennya semakin terbuka terhadap inovasi namun tetap menghargai merek dengan sejarah dan karakter kuat. Pernyataan ini terasa seperti sindiran halus terhadap pola pasar yang belakangan didominasi merek-merek baru tanpa rekam jejak panjang. Hongqi seolah ingin memosisikan diri bukan sebagai pendatang baru yang mencoba peruntungan, melainkan pemain lama yang baru saja memperluas panggungnya.
Pemilihan mitra distribusi pun terlihat strategis. Indomobil Group bukan nama sembarangan, mereka sudah puluhan tahun membangun jaringan otomotif nasional dan punya pengalaman menangani berbagai merek dari berbagai negara.
Direktur Indomobil Group, Andrew Nasuri, menyebut kemitraan ini sebagai pertemuan dua nama yang sama-sama punya sejarah panjang dalam menjaga kualitas dan membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Kombinasi warisan Hongqi dan pengalaman distribusi Indomobil ini jadi modal yang tidak dimiliki semua merek Tiongkok pendatang baru di Indonesia.

Dari sisi produk, E-HS9 juga bermain di segmen yang relatif belum terlalu padat, yakni full-size SUV listrik dengan kabin berkapasitas enam sampai tujuh penumpang. Segmen ini berbeda dari mayoritas merek Tiongkok di Indonesia yang lebih banyak bermain di kelas compact SUV atau city car listrik dengan harga terjangkau. Dengan memilih segmen premium sejak produk pertama, Hongqi seakan sengaja menghindari pertarungan harga yang selama ini jadi medan tempur utama merek-merek Tiongkok di Tanah Air.
Filosofi keselamatan mobile fortress yang mereka usung juga jadi pembeda narasi. Alih-alih menonjolkan fitur infotainment atau teknologi berkendara otonom seperti kebanyakan kompetitor, Hongqi memilih menjual cerita proteksi penumpang yang lahir dari pengalaman mengangkut pejabat negara selama puluhan tahun. Narasi ini jauh lebih sulit ditiru merek lain karena bersandar pada rekam jejak historis, bukan sekadar klaim teknologi terbaru.
Meski begitu, tantangan Hongqi di Indonesia tidak kecil. Belum ada informasi resmi soal harga jual E-HS9, sementara konsumen Indonesia dikenal cukup sensitif terhadap banderol, khususnya di segmen kendaraan listrik yang masih tergolong baru. Nama Hongqi sendiri juga belum sepopuler merek Tiongkok lain yang lebih dulu gencar beriklan di Indonesia, sehingga edukasi pasar soal siapa sebenarnya Hongqi akan jadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Indomobil Group ke depannya.
Langkah Hongqi di Indonesia melanjutkan ekspansi mereka yang sebelumnya sudah merambah sejumlah pasar lain di Asia Tenggara. Bagaimana respons pasar terhadap pendekatan yang mengandalkan sejarah dan segmen premium ini akan jadi penentu apakah strategi berbeda dari kebanyakan merek Tiongkok lain tadi bisa benar-benar bekerja di Indonesia. ![]()
