Harga BBM naik, dan biasanya yang pertama dilakukan adalah ngitung ulang pengeluaran. Mulai ruwet di bagian ini. Rute mulai pilih-pilih, perjalanan tambahan jadi secon option bahkan third, sementara konsumsi BBM mendadak menjadi angka yang lebih sering dilihat di layar MID.

Padahal, boros atau irit tidak sepenuhnya ditentukan oleh mobil. Cara kaki bekerja di balik kemudi juga punya pengaruh besar. Kata orang, kakinya mesti disekolahin. Dua mobil yang sama, menempuh rute yang sama, bisa menghasilkan konsumsi berbeda hanya karena cara mengemudikannya berbeda.

Tidak perlu mengubah cara hidup atau mengemudi seperti sedang mengikuti ujian eco-driving. Beberapa kebiasaan sederhana justru cukup untuk membuat konsumsi BBM lebih terkendali.

Berikut tujuh di antaranya:

1. Haluskan Akselerasi
Pedal gas bukan tombol on-off. Menginjaknya terlalu dalam dari posisi diam membuat mesin bekerja lebih keras untuk mengejar kecepatan. Coba tarik tenaga secara bertahap. Biarkan mobil membangun kecepatan dengan halus, terutama ketika meninggalkan lampu merah atau mulai bergerak dari kemacetan. Kaki kanan yang lebih santai biasanya membuat angka konsumsi di MID ikut lebih bersahabat.

2. Lihat Jalan Lebih Jauh
Kebiasaan melihat terlalu dekat ke mobil di depan sering berujung pada pola gas-rem-gas-rem. Padahal, kondisi lalu lintas bisa dibaca beberapa kendaraan di depan. Ketika terlihat antrean mulai melambat atau lampu lalu lintas sudah berubah, angkat pedal gas lebih awal dan biarkan mobil mengurangi kecepatan secara bertahap. Di sini, pengereman tetap diperlukan, tetapi tidak semua perlambatan harus dimulai dengan menginjak pedal rem dalam-dalam.

3. Jangan Terlalu Sering Naik-Turun Kecepatan
Stop-and-go memang menjadi salah satu musuh konsumsi BBM di perkotaan. Gas, rem, gas, rem, kemudian kembali berakselerasi membuat mesin terus bekerja melewati perubahan beban. Ketika kondisi jalan memungkinkan, pertahankan kecepatan secara stabil. Cruise control bisa membantu di jalan bebas hambatan, sementara mode berkendara Eco pada sejumlah mobil dapat membuat respons pedal gas dan perpindahan transmisi lebih kalem. Di poin ini, bukan berarti harus berjalan pelan. Yang perlu dikurangi adalah perubahan kecepatan yang tidak perlu.

4. Jangan Biarkan Ban Kekurangan Angin
Ban yang tekanannya kurang membuat bidang kontak dengan aspal dan hambatan gulir meningkat. Mesin kemudian membutuhkan tenaga lebih besar untuk mempertahankan gerakan kendaraan. Periksa tekanan ban secara berkala dan gunakan angka yang direkomendasikan pabrikan. Acuannya bisa ditemukan pada label di area pintu pengemudi atau buku manual kendaraan. Wajib diingat, tidak perlu menunggu ban terlihat kempis untuk memeriksanya. Intinya, rutin dan disiplin ngecek ban.

5. Keluarkan Barang yang Tidak Perlu
Coba buka bagasi. Barang apa yang sebenarnya sudah berminggu-minggu berada di sana tanpa pernah digunakan? Beban tambahan memang tidak serta-merta membuat konsumsi BBM melonjak drastis, tetapi kendaraan tetap membutuhkan energi untuk membawa seluruh bobot tersebut. Karena itu, barang yang memang tidak dibutuhkan untuk perjalanan sehari-hari sebaiknya dikeluarkan. Sebab bagasi bukan gudang berjalan.

6. Matikan Mesin Saat Berhenti Lama
Mesin yang menyala ketika mobil tidak bergerak tetap membutuhkan bahan bakar. Ini dirasakan DeepEnd saat istirahat di rest area tol saat menuju ke luar kota. Untuk berhenti cukup lama, misalnya ketika menunggu seseorang atau berhenti di suatu tempat, mematikan mesin bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal. Namun untuk kondisi berhenti singkat atau situasi lalu lintas yang memang mengharuskan kendaraan siap bergerak, tidak perlu memaksakan kebiasaan ini. Beberapa mobil juga sudah memiliki fitur idle stop-start yang secara otomatis mematikan dan menghidupkan mesin ketika kondisi memungkinkan.

7. Kenali Fitur di Mobil Sendiri
Banyak pengemudi membeli mobil dengan berbagai fitur berkendara, tetapi hanya menggunakan sebagian kecilnya. Mode Eco, indikator konsumsi BBM, paddle shifter, cruise control, hingga informasi tekanan ban bisa membantu pengemudi memahami bagaimana mobil bekerja. Pada beberapa model, layar informasi bahkan dapat menunjukkan konsumsi rata-rata dan real-time sehingga perubahan gaya berkendara bisa langsung terlihat. Luangkanlah sedikit waktu untuk membaca manual dan mengenali fitur yang memang relevan dengan penggunaan sehari-hari.

Namun di luar 7 poin itu, ada ada satu bagian yang sering terlupakan ketika membicarakan konsumsi BBM: kondisi mobil itu sendiri

Filter udara yang kotor, oli yang sudah melewati interval penggantian, tekanan ban yang tidak sesuai, hingga komponen kaki-kaki yang bermasalah dapat memengaruhi kerja kendaraan. Karena itu, servis berkala tetap perlu dilakukan sesuai jadwal dan rekomendasi pabrikan.

Mobil yang sehat memberi ruang bagi pengemudi untuk mengatur konsumsi BBM dari balik kemudi, bukan terus-menerus melawan masalah yang sebenarnya berasal dari kendaraan.