The new Sonet menggunakan Intelligent Variable Transmission (IVT) yang dipasangkan dengan mesin Smartstream Gamma II 1.497 cc. Kia Indonesia mencantumkan IVT sebagai bagian dari powertrain Sonet dan menjelaskan bahwa transmisinya menggunakan chain belt untuk menghasilkan perubahan rasio secara kontinu. Mesin tersebut menghasilkan tenaga 115 PS dan torsi 144 Nm.

Secara konstruksi, IVT berada dalam keluarga continuously variable transmission (CVT). Prinsip dasarnya berbeda dari automatic transmission (AT) konvensional yang menggunakan sejumlah rasio gigi tetap. Pada CVT, rasio diubah melalui dua pulley yang masing-masing memiliki pasangan piringan berbentuk kerucut. Perubahan posisi piringan mengubah diameter efektif tempat belt atau chain belt bekerja, sehingga rasio antara sisi input dan output dapat berubah secara kontinu. Bosch menjelaskan mekanisme ini sebagai perubahan running radius belt pada dua pulley untuk menghasilkan perubahan rasio tanpa tahapan perpindahan gigi tetap.

Artinya, ketika mobil berakselerasi, transmisi tidak harus melewati urutan gigi 1, 2, 3, dan seterusnya seperti pada AT konvensional. Rasio dapat disesuaikan secara bertahap berdasarkan kebutuhan torsi dan kecepatan. Pada sistem Hyundai-Kia, pengaturan tersebut dilakukan melalui kontrol elektronik. Hyundai menjelaskan bahwa IVT melakukan continuous shifts dengan mengatur tekanan pada pulley berdasarkan kondisi berkendara dan input pengemudi. Jadi, yang berubah bukan sekadar posisi tuas transmisi, melainkan hubungan mekanis antara putaran mesin dan putaran keluaran transmisi.

Perbedaan ini menjelaskan satu karakter yang sering terasa ketika mengemudikan mobil bertransmisi CVT atau IVT. Pada AT konvensional, perubahan rasio biasanya disertai perpindahan gigi yang dapat dirasakan melalui perubahan putaran mesin dan jeda singkat dalam penyaluran tenaga. Pada IVT, perubahan rasio berlangsung terus-menerus sehingga tidak ada perpindahan antargigi tetap dalam pengertian tersebut. Bosch mencatat bahwa CVT memungkinkan perubahan rasio secara kontinu dan tidak mengalami traction interruption seperti transmisi yang melakukan perpindahan gigi bertahap.

Karena rasio dapat berubah secara kontinu, putaran mesin tidak selalu naik dengan pola yang sama seperti kecepatan kendaraan. Saat pengemudi meminta akselerasi, kontrol transmisi dapat mempertahankan mesin pada putaran tertentu sambil mengubah rasio pulley. Inilah salah satu alasan suara mesin pada kendaraan CVT/IVT dapat terdengar lebih konstan ketika pedal gas ditekan cukup dalam, sementara kecepatan kendaraan terus bertambah. Fenomena tersebut merupakan konsekuensi dari cara kerja variable ratio transmission, bukan bukti dengan sendirinya bahwa transmisi sedang mengalami masalah. Prinsip pengaturan pulley berdasarkan input pengemudi dan kondisi berkendara juga dijelaskan Hyundai dalam uraian teknis IVT.

Istilah IVT sendiri merupakan penamaan yang digunakan Hyundai-Kia untuk sistem variable transmission mereka. Hyundai menjelaskan bahwa IVT menggunakan wide-ratio pulley system dan chain-design belt, bukan push belt yang umum ditemukan pada sebagian CVT. Dalam penjelasan teknisnya, Hyundai menyebut desain tersebut sebagai salah satu bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dibanding sistem belt konvensional.

Namun, keberadaan chain belt tidak berarti IVT dapat diperlakukan sebagai transmisi yang sama sekali berbeda dari CVT. Prinsip perubahan rasio melalui pulley tetap menjadi dasar kerjanya. Perbedaan konstruksi belt, rentang rasio, kalibrasi kontrol, software, dan karakter kendaraanlah yang menentukan bagaimana masing-masing transmisi bekerja. Karena itu, menyebut sebuah mobil hanya “pakai CVT” belum cukup untuk menggambarkan respons transmisinya secara spesifik.

Pada The new Sonet, transmisi tersebut bekerja bersama mesin Smartstream Gamma II 1.497 cc DOHC Dual CVVT. Spesifikasi Kia mencantumkan output 115 PS dan torsi 144 Nm. Kombinasi ini penting karena transmisi tidak bekerja sendiri: rasio yang dipilih harus menyesuaikan kebutuhan mesin terhadap kondisi kendaraan. Ketika mobil mulai bergerak, berakselerasi, mempertahankan kecepatan, atau menghadapi perubahan beban, kontrol transmisi menentukan rasio yang diperlukan melalui mekanisme pulley dan chain belt tersebut.

Dalam penggunaan sehari-hari, karakter IVT paling mudah diamati pada lalu lintas yang banyak melakukan perubahan kecepatan. Ketika kendaraan bergerak pelan, berhenti, kemudian kembali berakselerasi, transmisi tidak harus melakukan perpindahan dari satu rasio tetap ke rasio tetap berikutnya. Rasio dapat terus disesuaikan. Hal ini merupakan salah satu karakter utama CVT: perubahan rasio berlangsung kontinu mengikuti kecepatan dan kebutuhan torsi.

Cara kerja tersebut juga membuat respons IVT sangat bergantung pada input pedal gas. Manual pemilik Hyundai untuk kendaraan yang menggunakan IVT menjelaskan bahwa pemilihan rasio otomatis berkaitan dengan kecepatan kendaraan dan posisi pedal akselerator. Dengan kata lain, pengemudi tetap memberikan input utama melalui pedal gas, sedangkan sistem transmisi mengatur rasio berdasarkan input tersebut dan kondisi kendaraan.

Hal lain yang sering menimbulkan salah persepsi adalah anggapan bahwa transmisi CVT atau IVT “tidak memiliki gigi”. Secara mekanis, transmisi tersebut tetap menyediakan rasio antara input dan output. Yang tidak digunakan adalah sekumpulan fixed gear ratios seperti pada AT konvensional. Rasio IVT berubah dalam rentang kerja melalui perubahan diameter efektif kedua pulley. Karena itu, istilah yang lebih tepat bukan “tanpa gigi”, melainkan variable ratio.

Perawatan juga perlu dipahami sesuai konstruksinya. Manual kendaraan Hyundai yang menggunakan IVT memberikan perhatian khusus pada pengoperasian posisi P, R, N, dan D serta prosedur perpindahan posisi transmisi. Spesifikasi fluida transmisi juga merupakan bagian dari ketentuan pabrikan, sehingga pemilik tidak seharusnya menyamakan kebutuhan fluida sebuah IVT dengan transmisi otomatis lain hanya karena sama-sama menggunakan dua pedal.

Lantas, apakah IVT otomatis lebih baik daripada AT konvensional? Pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab hanya dari jenis transmisinya. Keduanya menggunakan prinsip mekanis berbeda dan menghasilkan karakter kerja yang berbeda pula. CVT/IVT memiliki kemampuan mengubah rasio secara kontinu, sementara AT konvensional menggunakan rasio tetap yang dipilih melalui perpindahan gigi. Bahkan di antara sesama CVT atau IVT, karakter dapat berbeda karena konstruksi, rentang rasio, perangkat lunak kontrol, mesin yang digunakan, dan kalibrasi kendaraan.

Pada The new Sonet, pilihan IVT berarti pengemudi berhadapan dengan karakter transmisi yang tidak menampilkan perpindahan gigi konvensional. Mesin 1.497 cc menghasilkan tenaga dan torsi, kemudian IVT mengatur hubungan rasio untuk meneruskan tenaga tersebut ke roda. Yang dirasakan pengemudi bukan urutan perpindahan gigi, melainkan perubahan putaran mesin dan rasio secara kontinu.

Memahami mekanisme ini menjadi penting ketika membaca spesifikasi mobil. Tulisan “IVT” bukan sekadar nama lain untuk transmisi otomatis. Di baliknya terdapat mekanisme pulley, chain belt, kontrol elektronik, dan pengaturan rasio yang menentukan bagaimana tenaga mesin diteruskan ke roda. Pada The new Sonet, seluruh sistem tersebut dipasangkan dengan Smartstream Gamma II 1.497 cc untuk membentuk konfigurasi powertrain yang digunakan Kia pada compact SUV ini.