Toko velg di Indonesia itu banyak.
Tetapi tidak semuanya punya cerita.
Permaisuri Ban salah satunya.
Dan DeepEnd punya cerita sendiri di dalamnya.

Ada sejarah.
Ada pertemanan.
Ada proses belajar.
Dan ada satu nama yang sampai sekarang masih lekat dengan tempat ini.

Nick namenya: Shane.
Nama beken: Bowo.
Nama asli: Wibawa Santosa.
Di kalangan anak mobil, Shane mungkin dikenal sebagai sosok di balik Permaisuri Ban.
Tetapi buat DeepEnd, Shane adalah guru.

Sedikit kilas balik.
Permaisuri Ban saat itu sudah dikenal sebagai butik velg. Modelnya baru, ukurannya besar, mereknya branded. Monoblok ada, 3-piece juga ada. Pada September 2000, DeepEnd nekat datang ke Permaisuri Ban di kawasan Mahakam. Waktu itu niatnya terang-terangan, “Pak, saya mau berguru ke ahlinya!”

Shane cuma tersenyum dengan gaya khasnya.
“Asal rajin, gue demen. Tapi jangan cuma velg.”
Kalimat itu ternyata bukan basa-basi.

Pelajaran pertama DeepEnd adalah mengenal model velg. Shane menjelaskan bahwa secara dasar ada spoke, fin dan dish. Setelah itu baru masuk ke turunan dan detail yang jumlahnya jauh lebih banyak. Konstruksi, finishing, material, offset, face, pilihan warna dan berbagai detail lain yang waktu itu buat DeepEnd terasa seperti pelajaran baru. Selain itu ada pelajaran tentang ban, per, coilover, rem cakram dan segala macam perangkat kaki-kaki lainnya.

DeepEnd menikmatinya.

Seminggu sekali, biasanya Kamis atau Jumat, seperti anak sekolah yang sedang les Fisika.

Bedanya, ruang kelasnya adalah toko velg.
Ditemani sate ayam, Teh Botol atau Coca-Cola Zero, minuman kesukaan Shane.

Dari sana hubungan itu berkembang. Ketika DeepEnd mulai berani bertanya, berdiskusi dan berdebat, ruang ujiannya ikut berpindah. Bisa di Union, bisa sambil nyate kulit di Ootoya Arcadia.

Tahun-tahun berikutnya, meja makan menjadi bagian lain dari proses belajar. Caza Suki, Aoki dan berbagai tempat lain menjadi saksi percakapan yang sebagian besar tetap kembali ke mobil, velg, ban, suspensi dan segala hal yang berkaitan dengan dunia modifikasi. Shane memang begitu. Ia tidak pernah sekadar menjelaskan barang. Bahkan, ia juga suka mengetes DeepEnd.

Ketika Toyo Open Country M/T masuk pasar, misalnya, Shane bertanya, “Bakal laris enggak nih?”Saya jawab tentu bisa. Saat itu SUV premium semakin banyak dan Wrangler sedang tren.

Lalu ketika Accelera mulai rilis pada 2005, pertanyaannya berubah. “Lo setuju produk lokal bisa bagus?” Jawaban saya waktu itu sederhana. Apa pun yang lokal, wajib kita support.

Di tahun yang sama, DeepEnd dan Shane sepakat menggunakan istilah “Velg Replika”. Bukan karena kami ingin mengubah barangnya, tetapi memperhalus diksi tanpa menggeser makna. Kami memang tidak terlalu suka menyebutnya dengan istlah “velg China”, “velg KW” atau “velg copy”. Kami sama-sama melihat ada demand yang besar, dan di sisi lain para importir velg itu pun masih merupakan teman-teman kami.

Dari Shane pula saya kemudian mengenal banyak nama besar di dunia velg. Rays Engineering, HRE, Enkei, OZ, Ronal dan banyak lainnya. Relasi penting itu tidak akan saya dapatkan kalau dulu saya tidak datang ke Permaisuri Ban untuk berguru.

Karena itu, ketika melihat Permaisuri Ban membuka outlet baru di Gading Serpong, yang terlintas di kepala saya bukan cuma soal bisnis. Saya teringat perjalanan panjang itu.

Sabtu, 19 September 2026, Permaisuri Ban resmi membuka outlet barunya di Jl. Scientia Square Barat No. 19, Gading Serpong, Tangerang. Outlet ini hadir bukan cuma sebagai tempat mendandani kaki-kaki mobil, tetapi juga tempat konsumen mencari, membandingkan dan berkonsultasi mengenai kebutuhan mobilnya.

Menurut Eric Tanzil, Head of Digital Marketing Permaisuri Ban, konsumen bisa mendapatkan berbagai aksesori mobil di sini, mulai dari kebutuhan kaki-kaki seperti ban, velg dan shockbreaker sampai body kit untuk beberapa model tertentu.

Kapasitas pengerjaannya cukup untuk menangani sekitar lima sampai enam mobil dalam waktu bersamaan. Pekerjaannya bukan sebatas pasang velg dan ban. Ada penggantian suspensi, spooring sampai balancing. Berbagai pekerjaan tersebut ditopang peralatan yang memang ditujukan untuk pekerjaan kaki-kaki.

Salah satunya tyre changer merek Hunter Revolution. Mesin ini digunakan untuk membantu proses bongkar-pasang ban dengan pengoperasian yang dirancang aman untuk berbagai jenis ban dan velg. Untuk spooring dan balancing, Permaisuri Serpong juga menggunakan perangkat lansiran Hunter, merek yang dikenal luas untuk peralatan wheel alignment dan balancing berstandar profesional.

Buat konsumen yang datang dengan kepala penuh pertanyaan soal velg, pendekatannya juga dibuat lebih santai.

“Kami ingin membuat customer betah ketika berbelanja di Permaisuri Serpong ini. Customer bisa konsultasi mengenai velg dan ban yang cocok untuk mobilnya, bahkan juga bisa mencoba dulu di mobilnya agar ada gambaran seperti apa jadinya kalau sudah terpasang,” bilang Eric Tanzil.

Pilihan barangnya pun cukup serius. Untuk velg, ada nama-nama seperti Vossen, Rays, OZ Racing, Enkei, Vorsteiner dan sejumlah merek lainnya. Begitu juga urusan ban. Pirelli, Hankook, Michelin, Toyo, Falken dan berbagai merek lain tersedia untuk dipilih sesuai kebutuhan mobil.

Di titik ini, saya melihat ada kesinambungan yang menarik.

Dulu DeepEnd datang ke Permaisuri untuk belajar bahwa memilih velg bukan cuma perkara model yang kelihatan keren. Sekarang, konsumen yang datang ke outlet Gading Serpong juga diberi ruang untuk berkonsultasi, mencoba dan melihat seperti apa kombinasi velg serta ban ketika sudah terpasang di mobil.

Lokasinya baru.
Bangunannya baru.
Zamannya juga sudah berubah.

Tetapi ada sesuatu yang tetap sama. Nama Permaisuri masih membawa kultur yang sejak dulu saya kenal. Kultur ketika velg bukan sekadar aksesori untuk mempercantik mobil, tetapi sesuatu yang harus dipahami. Ukuran, konstruksi, material, offset, desain, ban, suspensi dan bagaimana semuanya bekerja sebagai satu kesatuan.

Itulah bagian yang dulu saya pelajari dari Shane.

DeepEnd terakhir bertemu Shane (dan juga Eric) di Tokyo Auto Salon 2024. Kami menginap di hotel yang sama, Hotel Francs, dekat Makuhari Messe.

Kebetulan di sana ada Raphael dan anak perempuannya, Bianca, yang kemudian saya kenalkan kepada Myscha, anak saya. Menyenangkan melihat guru dan murid bertemu lagi. Lebih menyenangkan ketika anak kami masing-masing ikut berkenalan.

Sebelas bulan kemudian, saya menerima kabar.
Bahwa sang guru berpulang.
Saat itu DeepEnd masih berada di Hokkaido, Sapporo.

Guru bisa berpulang.
Generasinya bisa berganti.
Tren mobil dan velg bisa berubah.
Tetapi ilmu, pertemanan, jaringan dan kultur yang pernah dibangun tidak otomatis ikut hilang.

DeepEnd datang ke Permaisuri pada 2000 untuk berguru. Dua puluh enam tahun kemudian, Permaisuri membuka pintu baru di Gading Serpong.

Buat DeepEnd, ini bukan sekadar Grand Opening.
Ini seperti melihat satu bagian dari perjalanan panjang yang dulu dimulai dari sebuah toko velg di Mahakam, lalu melewati begitu banyak percakapan, perdebatan, perjalanan dan pertemanan, dan masih terus berjalan sampai hari ini.

Di antara semua cerita tentang Permaisuri, satu nama akan selalu punya tempat sendiri: Shane.


Permaisuri Ban Gading Serpong
Jl. Scientia Square Barat No. 19, Medang, Kec. Pagedangan,
Tangerang, Banten
@permaisuriban