Ada sesuatu yang menarik setiap kali BMW mempertemukan mobil dengan kesenian. Mobilnya tetap menjadi pusat perhatian, tetapi cara BMW memperkenalkannya tidak selalu melalui bahasa otomotif yang lazim. Bukan hanya mesin, tenaga, desain, atau daftar fitur yang dikedepankan. Pengalaman, bentuk, cahaya, ruang, bahkan karya seni ikut digunakan untuk membangun cara pandang terhadap sebuah mobil. Saya sendiri dua kali melihat pendekatan semacam ini dalam event BMW di Indonesia. Karena itu, ketika BMW kembali membawa sebuah mobil ke tengah karya seni, pertanyaannya bukan lagi sekadar apa yang dipamerkan, melainkan mengapa seni terus dipilih untuk menjelaskan sesuatu yang sebenarnya berasal dari dunia otomotif.
Jawabannya mulai terlihat dari SYMBIOSIS, instalasi karya duo seniman A.A.Murakami yang terdiri dari Azusa Murakami dan Alexander Groves. Karya tersebut dipresentasikan bersama BMW 7 Series terbaru pada Contemporary Istanbul 2026, setelah sebelumnya tampil di Art Basel di Basel pada Juni. BMW tidak menempatkan mobil sekadar sebagai objek pajangan di sebelah karya seni. SYMBIOSIS memang dirancang untuk membawa gagasan BMW mengenai hubungan manusia dan mesin ke dalam pengalaman yang bersifat fisik dan berubah-ubah. Instalasi tersebut menggunakan bentuk-bentuk pahatan dan struktur hasil rekayasa yang berinteraksi dengan cahaya, kabut, gelembung, aliran udara, temperatur, gravitasi, hingga unsur kebetulan.

Di titik ini, pilihan A.A.Murakami menjadi relevan. Duo seniman yang berbasis di Tokyo dan London tersebut menyebut pendekatan mereka sebagai “Ephemeral Tech”, yaitu penggunaan teknologi untuk menciptakan fenomena fisik yang tidak selalu permanen. Teknologi tidak harus hadir sebagai layar, proyeksi, atau deretan LED. Ia dapat bekerja melalui kabut, gelembung, plasma, cahaya, dan berbagai proses fisik yang bentuk akhirnya dipengaruhi lingkungan. Sebuah gelembung, misalnya, tidak sepenuhnya dapat dikendalikan setelah dilepaskan. Bentuknya dipengaruhi udara, temperatur, gravitasi dan faktor lain di sekitarnya. Justru pada pertemuan antara sesuatu yang direkayasa dan sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi itulah BMW menemukan hubungan dengan gagasan yang ingin dibawanya.
BMW menyebut gagasan tersebut sebagai BMW Symbiotic Drive. Dalam kerangka Neue Klasse, pengemudi dan kendaraan tidak dipandang sebagai dua sistem yang sepenuhnya terpisah. BMW menggambarkan keduanya sebagai sistem yang bekerja secara terkoordinasi, dengan sistem bantuan berkendara yang menggunakan teknologi cerdas untuk membantu merespons input manusia seperti akselerasi, pengereman, dan kemudi. SYMBIOSIS kemudian menerjemahkan gagasan itu melalui bahasa seni: bukan menjelaskan algoritma atau sensor secara teknis, tetapi memperlihatkan hubungan antara sesuatu yang dikendalikan dan sesuatu yang dapat bereaksi terhadap lingkungannya.
Di sinilah alasan BMW membutuhkan seni menjadi lebih masuk akal. Teknologi kendaraan modern semakin sulit dijelaskan hanya melalui spesifikasi. Pengemudi masih bisa memahami angka tenaga, kapasitas baterai, ukuran layar atau jumlah sensor, tetapi angka-angka tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan bagaimana hubungan manusia dengan kendaraan akan berubah ketika mobil semakin mampu membaca kondisi, memberikan bantuan, dan berinteraksi dengan pengemudinya. Seni mempunyai bahasa yang berbeda. Ia dapat memperlihatkan hubungan, respons, atmosfer, gerakan, dan pengalaman tanpa harus mengubah semuanya menjadi tabel spesifikasi. BMW memanfaatkan ruang tersebut untuk membuat gagasan mengenai human-machine interaction menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan dialami.

BMW 7 Series kemudian ditempatkan sebagai bagian dari konteks tersebut. Desain eksteriornya yang monolitik, interior, craftsmanship, serta teknologi kendaraan menjadi bagian dari hubungan antara objek yang direkayasa dengan elemen-elemen temporer dalam instalasi. Posisi ini berbeda dengan pendekatan pameran yang sekadar menaruh sebuah mobil di tengah galeri sebagai benda desain. BMW ingin mobilnya dibaca sebagai bagian dari percakapan yang lebih besar mengenai teknologi, desain, dan pengalaman manusia. Pada saat yang sama, 7 Series menjadi jembatan menuju teknologi Neue Klasse yang mulai diperluas BMW ke model-model produksinya saat ini.
Pendekatan tersebut juga menjelaskan mengapa hubungan BMW dengan seni tidak berhenti pada satu instalasi. BMW telah lama menjalankan keterlibatan budaya melalui Art Car Collection dan kemitraan dengan berbagai platform seni, termasuk Art Basel. SYMBIOSIS merupakan bentuk yang lebih spesifik karena karya tersebut secara langsung mengambil gagasan dari BMW Symbiotic Drive dan mengubahnya menjadi pengalaman artistik. Setelah debut di BMW Lounge pada Art Basel 2026, instalasi ini kemudian dibawa ke Contemporary Istanbul bersama BMW 7 Series untuk publik pada 24–27 September 2026.
Maka, melihat BMW dan seni hanya sebagai aktivitas branding akan membuat bagian terpentingnya terlewat. Ada fungsi komunikasi yang lebih dalam di sana. Ketika teknologi otomotif mulai bergerak dari benda yang dikendalikan menuju sistem yang semakin mampu membaca dan merespons manusia, bahasa lama tentang mobil memang tidak selalu cukup. BMW memilih seni sebagai salah satu cara untuk membicarakan perubahan tersebut tanpa harus menjadikannya semata-mata persoalan spesifikasi. SYMBIOSIS pada akhirnya bukan tentang sebuah BMW 7 Series yang ditempatkan di dalam instalasi seni, tetapi tentang bagaimana BMW mencoba mencari bahasa untuk menjelaskan bentuk hubungan baru antara manusia, mesin, dan lingkungan fisik di sekelilingnya. ![]()
