Nissan baru saja memperkenalkan Z Kaze Concept di ajang ZCON, konvensi tahunan milik Z Car Club Association yang tahun ini digelar edisi ke-38. Sayangnya, ini bukan mobil produksi, Z Kaze murni proyek passion yang lahir dari tangan tim product planner dan desainer internal Nissan sendiri.

Nama Kaze diambil dari bahasa Jepang yang artinya angin. Nama itu bukan sekadar tempelan, karena ciri utama mobil ini justru atap T-top custom yang bikin penumpang bisa merasakan angin masuk kabin secara langsung, sesuatu yang jadi ciri khas beberapa generasi awal Z sebelum akhirnya hilang di generasi-generasi berikutnya.
Tim di baliknya cerita kalau konsep ini dibangun dengan bayangan satu skenario spesifik, yaitu menyusuri Pacific Coast Highway di California pada hari musim panas yang sempurna. Bayangan itu yang jadi acuan tiap detail modifikasi, dari cat sampai suspensi.

Ponz Pandikuthira, senior vice president sekaligus chief product and planning officer Nissan Americas, ikut kasih komentar soal proyek ini.
“Z Kaze concept merayakan beberapa mobil sport open top paling ikonik dari Nissan, sekaligus mengakui budaya tuning 90-an yang membantu mengangkat nama Nissan dan NISMO,” katanya. Ia menyebut proyek ini gabungan dari sisi engineering, kreativitas, dan perayaan warisan brand.

Soal tampilan luar, Z Kaze dibungkus warna Pacific Teal yang jadi representasi visual dari era tuner 90-an. Bodinya mendapat sentuhan lightweight vented carbon fiber hood, fender flares, dan body kit aerodinamis full carbon fiber, kombinasi yang bikin siluet Z jadi lebih agresif tanpa menghilangkan identitas aslinya.

Bagian kaki-kaki jadi salah satu detail paling menarik buat digali lebih dalam. Z Kaze pakai velg NISMO LMGT2 18 inci yang direstorasi dari unit asli, bukan replika baru. Velg ini sendiri punya sejarah panjang, lahir dari kolaborasi NISMO dengan Rays Engineering, dengan huruf LM di namanya merujuk ke Le Mans, ajang balap endurance tempat Nissan dan NISMO pernah turun langsung lewat program GT-R LM di pertengahan 90-an. Velg ini yang kemudian jadi salah satu item paling diburu di kalangan pemilik Skyline generasi R32 sampai R34.

Untuk unit di Z Kaze, ukurannya dibuat 10 inci di depan dan 11 inci di belakang, lebar yang bikin stance mobil makin dalam.
Masuk ke kabin, Nissan justru mengambil jalan yang beda dari kebiasaan mobil konsep pada umumnya. Alih-alih dominan hitam biar terasa misterius, interior Z Kaze pakai jok kulit putih yang bikin ruang kabin dan konsep open airnya lebih menonjol. Aksen carbon fiber tetap dipertahankan di beberapa titik supaya kesan performancenya tidak hilang, dipadu dengan sentuhan yang lebih matang dan tidak berlebihan.

Detail kecil yang cukup unik ada di headrest, karena Nissan menanamkan speaker Bose Personal Plus di sana. Fungsinya jelas, biar penumpang tetap bisa dengar musik dengan baik walau atapnya dibuka dan angin masuk bebas ke kabin.

Sektor mesin jadi bagian yang paling kental budaya tunernya. Mesin V6 twin-turbo 3.0 liter yang jadi jantung Z dipasangkan dengan beberapa komponen dari GReddy, nama yang buat generasi 90-an bukan sekadar merek aftermarket biasa. GReddy sendiri lahir dari Trust Company di Chiba, Jepang, sejak 1977, dan jadi salah satu nama yang paling sering muncul di majalah-majalah import tuner Amerika era itu bersama HKS dan A’PEXi.
Komponen GReddy yang dipasang di Z Kaze meliputi exhaust system SUPREME SP, intercooler kit front mount air-to-air, dan air filter kit Airinx. Suspensi juga sudah dirombak total pakai komponen NISMO, jadi bukan cuma tampilan yang dibikin galak tapi handling-nya juga digarap serius.

Setelah tampil di ZCON, Z Kaze Concept masih bisa dilihat langsung di lokasi pameran Phoenix, Arizona, sampai Sabtu 26 September 2026. Unit ini kemudian akan lanjut dipajang di Japanese Classic Car Show pada 3 Oktober 2026.
Buat yang minat terhadap mobil ini, siap-siap kecewa. Soalnya, Nissan menegaskan Z Kaze Concept statusnya murni concept car dan tidak akan diproduksi maupun dijual ke publik. ![]()





