Air yang masuk ke kabin sebuah mobil prototipe Nissan menjelang produksi massal ternyata bukan berasal dari kerusakan yang kasatmata pada pintu. Dari sedikit lebih dari selusin prototipe tahap akhir, hanya satu unit yang mengalami kebocoran cukup signifikan. Jumlahnya memang satu kendaraan, tetapi pada tahap tersebut temuan seperti itu harus dicari sampai ke akar masalahnya.
Namun demikian, tetap saja Wataru Funasaka, Technical Expert Nissan untuk Door System Performance Evaluation (Water Sealing), bersama timnya kemudian menelusuri perjalanan air tersebut selama lebih dari tiga hari.

Bagian dalam pintu sebenarnya bukan area yang harus sepenuhnya bebas air. Di antara panel luar dan panel dalam terdapat cavity yang memang dirancang untuk menampung sejumlah komponen, seperti mekanisme door lock, window regulator dan wiring harness. Air hujan yang masuk ke area tersebut sudah diperhitungkan dalam rancangan dan seharusnya dapat keluar melalui sistem drainase.
Yang menjadi masalah adalah ketika air bergerak melewati batas antara cavity pintu dan kabin. Di area inilah rubber seal dan weatherstrip bekerja sebagai penghalang, dengan bentuk dan detail konstruksi yang dirancang untuk mencegah air mencapai ruang penumpang.

Funasaka tidak langsung membongkar seluruh pintu untuk mencari komponen yang rusak. Ia mengikuti titik pertama tempat air muncul di kabin, kemudian menelusuri jalurnya ke dalam struktur pintu. Cara ini memungkinkan tim mengetahui dari bagian mana air datang dan pada titik mana jalurnya menembus sistem sealing. Pemeriksaan akhirnya mengarah pada sebuah retaining clip yang posisinya sedikit terangkat. Perubahan kecil tersebut cukup untuk membuat bagian rubber seal tidak lagi berada pada posisi semula dan menyisakan celah.
Pertanyaan berikutnya adalah apa yang membuat retaining clip itu terangkat. Jawabannya justru berada pada wiring harness yang terpasang di bagian dalam pintu. Harness tersebut memiliki tingkat kekakuan tertentu dan membentuk lengkungan ketika terpasang. Bentuk itu menghasilkan gaya yang secara bertahap menarik retaining clip menjauh dari posisi pemasangannya. Setelah clip bergeser, terbentuk celah pada rubber seal dan air dapat melewati celah tersebut menuju kabin. Nissan kemudian meminta perubahan desain, sehingga kendaraan dapat masuk produksi sesuai jadwal.

Pengujian terhadap kemungkinan masuknya air tidak berhenti pada simulasi hujan. Nissan juga mereplikasi kondisi seperti hujan deras, berkendara dalam guyuran hujan lebat, penggunaan pressure washer rumah tangga dan pencucian dengan mesin bertekanan tinggi. Pengujian dilakukan pada berbagai bukaan kendaraan, termasuk pintu, frame kaca dan sunroof. Water sealing juga harus berjalan bersama fungsi lain pada kendaraan. Funasaka menjelaskan bahwa membuat kendaraan terlalu kedap dapat memengaruhi karakter penutupan pintu dan menimbulkan perubahan tekanan udara di dalam kabin.
Kebutuhan tersebut terlihat pada Nissan Z yang menggunakan pintu tanpa frame. Ketika pintu tertutup, sisi kaca harus bertemu dengan rubber weatherstrip secara tepat untuk menjaga sealing. Saat pintu dibuka atau ditutup, kaca otomatis turun sekitar satu sentimeter sebelum kembali ke posisinya, mekanisme yang dikenal sebagai partial down. Posisi kaca, weatherstrip dan mekanisme pintu harus bekerja sesuai rancangan agar pengoperasian pintu tetap lancar sekaligus menjaga kabin dari masuknya air.

Selain menangani evaluasi water sealing, Funasaka juga melatih technical engineer di berbagai fasilitas Nissan. Metode pengujian dan pengalaman yang diperoleh dari berbagai kasus dibagikan kepada engineer di Jepang maupun fasilitas produksi Nissan di negara lain. Menurut Funasaka, kendaraan dan kondisi teknis terus berubah sehingga jawaban yang tepat untuk sebuah persoalan belum tentu berlaku pada model berikutnya. Karena itu, ia mendorong engineer untuk memahami keadaan yang dihadapi dan mencari solusi berdasarkan kondisi kendaraan yang sedang diuji. ![]()
