Ada momen ketika sebuah nama besar di dunia tuning hampir masuk fase tutup buku. AC Schnitzer sempat berada di situ setelah KOHL Group mengumumkan penghentian aktivitas bisnis tuningnya pada Maret 2026 lalu.
Tapi sekarang ceritanya berubah.
Mulai November 2026, brand asal Aachen, Jerman ini bakal berpindah tangan ke AM Group, holding otomotif yang bermarkas di Rotterdam, Belanda. Yang menarik bukan cuma siapa pemilik barunya, tetapi modal apa yang dibawa AM Group untuk membuat AC Schnitzer kembali ‘hidup’.
AM Group memang bukan pemain yang hanya mengumpulkan nama-nama aftermarket di bawah satu payung. Mereka punya bisnis yang mencakup personalisasi kendaraan premium, performance engineering, advanced composite, manufaktur sampai distribusi.
Di dalam portofolionya sudah ada Urban Automotive, UBC Composites, GP Products dan Absolute Motors. Grup ini beroperasi di lebih dari 30 negara dengan sekitar 360 spesialis yang bekerja di bidang engineering, desain dan operasional.
Nah, kombinasi ini yang bikin perpindahan AC Schnitzer terasa lebih menarik.
AC Schnitzer sejak berdiri pada 1987 memang tidak cuma jual velg atau body kit. Nama ini dibangun lewat pengembangan performance upgrade, suspensi, komponen aerodinamika, velg sampai konsep kendaraan utuh untuk BMW dan MINI.
Mereka juga punya tradisi yang cukup ketat soal engineering, pengujian dan homologasi agar produk tetap legal dipakai di jalan.
- left: Luis Carrera – Co-CEO AM Group , middle: Rainer Vogel – Managing Director KOHL automobile GmbH AC Schnitzer, right: Patrick Meijer – Co-CEO AM Group. Photo: AC Schnitzer
Di bawah AM Group, kemampuan tersebut bakal ketemu dengan fasilitas dan keahlian yang sebelumnya mungkin tidak berada dalam satu ekosistem.
AM Group menyebut akan membawa kemampuan di desain, research and development, teknologi carbon-fibre serta manufaktur untuk mendukung AC Schnitzer. Di sisi komersial, pengembangan dealer dan pengalaman membangun brand secara internasional juga akan dipakai untuk memperluas jangkauan AC Schnitzer.
Ini menarik terutama di bagian carbon-fibre.
AM Group saat ini juga membangun kapabilitas advanced composites melalui UBC. Di situs resminya, grup ini menjelaskan bahwa kemampuan tersebut mencakup engineering dan produksi carbon-fibre ringan untuk aplikasi high-performance.
Sementara itu, Urban Automotive sudah lama bermain di personalisasi kendaraan premium dan memiliki kemampuan desain serta produksi komponen berbasis carbon-fibre. AM Group sendiri menempatkan design and R&D, advanced composites, dealer monetisation dan bespoke vehicle modification sebagai bagian dari kemampuan utama grup.
Buat AC Schnitzer, ini membuka ruang yang cukup besar untuk mengembangkan produk baru tanpa harus meninggalkan karakter dasarnya.
Rainer Vogel, Managing Director AC Schnitzer, mengatakan AM Group punya sumber daya yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan pasar sekaligus mendorong pertumbuhan dan menjangkau segmen konsumen baru.
Patrick Meijer, Co-CEO AM Group, juga cukup terang soal ambisinya. Menurut dia, grup tersebut akan menyediakan sumber daya, infrastruktur dan investasi yang diperlukan agar AC Schnitzer tetap relevan untuk generasi berikutnya.
Jadi arahnya bukan mengganti AC Schnitzer menjadi brand lain dengan logo lama.
Identitas dan filosofi teknis AC Schnitzer tetap dipertahankan. Bahkan operasionalnya akan memiliki perusahaan baru di Jerman, sementara dokumentasi teknis serta file sertifikasi TÜV yang sudah ada akan dipindahkan ke perusahaan tersebut.
Posisi baru ini juga mendapat tambahan figur yang cukup relevan dengan dunia BMW tuning.
Imran Arshad, co-founder Evolve Automotive dan Eventuri, akan menjadi Managing Director AC Schnitzer. Ia akan bekerja bersama AM Group dalam menentukan strategi produk dan brand ke depan.
- left: Rainer Vogel – Managing Director KOHL automobile GmbH AC Schnitzer right: Imran Arshad – future Managing Director AC Schnitzer. Photo: AC Schnitzer
Arshad sendiri mengaku sudah menjadi penggemar AC Schnitzer. Menurutnya, engineering, desain yang punya tujuan jelas dan perhatian terhadap detail merupakan bagian dari alasan brand tersebut punya daya tarik di mata konsumen BMW. Ia ingin menjadikan warisan tersebut sebagai fondasi untuk mengembangkan bahasa desain dan prinsip teknis AC Schnitzer berikutnya.
Kalau melihat portofolio AM Group sekarang, masuknya AC Schnitzer juga cukup masuk akal secara bisnis. GP Products, misalnya, sudah bergerak di area distribusi produk performance dan menyatakan AC Schnitzer nantinya akan tersedia melalui jaringan dealernya.
Artinya, persoalannya bukan hanya membuat produk baru, lalu berharap konsumen datang.
Ada jaringan distribusi, pengembangan dealer, manufaktur, material composite dan kemampuan brand-building yang bisa dipakai bersamaan.
AC Schnitzer sendiri sudah hampir empat dekade hidup dari kombinasi BMW, MINI, performance dan engineering. Tahun 2027 nanti, mereka akan memasuki usia 40 tahun.
Rainer Vogel mengatakan para dealer dan pelanggan AC Schnitzer tetap akan punya akses terhadap upgrade, conversion, engine tuning dan modifikasi suspensi untuk memberikan karakter berbeda pada BMW dan MINI mereka.
Yang berubah sekarang adalah besarnya ruang di belakang produk tersebut.
Dari sebelumnya berdiri sebagai spesialis tuning dengan segala tantangan pengembangan dan produksi sendiri, AC Schnitzer masuk ke sebuah grup yang punya akses lebih luas terhadap desain, material, manufaktur dan distribusi. Di situlah fase baru brand ini mulai menarik untuk dilihat.
Bukan karena AC Schnitzer tiba-tiba berubah menjadi pemain baru, tetapi karena nama lama ini sekarang punya lebih banyak amunisi untuk mengerjakan generasi produk berikutnya. ![]()


