Toyota melalui GAZOO Racing menyelesaikan pembangunan DKR GR FC Hilux, mobil reli bertenaga hidrogen yang dipersiapkan untuk mengikuti Reli Dakar 2027. Mobil ini menjadi bagian dari pengembangan teknologi Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV) Toyota, dengan pengujian dinamis dimulai sebelum debut kompetitifnya. Alih-alih mengandalkan mesin pembakaran internal konvensional atau baterai sebagai satu-satunya sumber energi penggerak, DKR GR FC Hilux menghasilkan listrik dari hidrogen melalui sistem sel bahan bakar.
Proyek ini akan mengikuti kategori Dakar Future Mission 1000, kelas yang diperuntukkan bagi kendaraan eksperimental dan teknologi baru. Bagi Toyota, partisipasi ini menjadi debut kompetisi motorsport skala penuh dengan kendaraan FCEV berbahan bakar hidrogen. Reli Dakar dipilih sebagai lingkungan pengujian untuk mengevaluasi teknologi tersebut dalam kondisi ekstrem, sekaligus mengumpulkan pengalaman yang berpotensi diterapkan pada kendaraan jalan raya dan pengembangan sistem sel bahan bakar di masa mendatang.

Sistem penggerak DKR GR FC Hilux menggabungkan dua fuel cell stack menjadi satu unit berdaya tinggi dengan output sistem mencapai 400 kW, setara sekitar 544 PS. Hidrogen disimpan dalam empat tangki bertekanan tinggi dengan kapasitas total 8,4 kg, menggunakan tipe tangki yang juga dipakai Toyota Mirai. Listrik yang dihasilkan sel bahan bakar kemudian digunakan untuk menggerakkan kendaraan melalui sistem penggerak elektrifikasi, termasuk e-axle khusus yang dikembangkan untuk kebutuhan mobil reli ini.
Toyota tetap menggunakan basis teknis DKR GR Hilux yang telah dikembangkan untuk reli lintas alam, termasuk sasis tubular, sel keselamatan, suspensi, dan sistem pengereman. Kombinasi tersebut memperlihatkan pendekatan yang tidak sepenuhnya memulai pengembangan dari nol, melainkan memanfaatkan komponen yang sudah tersedia sambil mengintegrasikan teknologi penggerak baru. Sistem elektronik menggunakan IAV Dragoon ECU, sedangkan sistem pendinginan tegangan tinggi dirancang khusus untuk mendukung kebutuhan operasional kendaraan.

Di luar sistem penggerak, DKR GR FC Hilux juga memperkenalkan penggunaan panel berbahan serat alami untuk menggantikan sebagian komponen serat karbon. Langkah ini menjadi bagian dari eksplorasi material dalam pengembangan mobil kompetisi, meskipun Toyota belum menguraikan secara terperinci pengaruhnya terhadap bobot, kekuatan, maupun dampak lingkungan kendaraan secara keseluruhan. Untuk menghadapi medan reli, mobil ini menggunakan ban TOYO TIRES OPEN COUNTRY M/T-R, sementara suspensi double wishbone memiliki jarak gerak 350 mm.
Dari sisi dimensi, mobil ini memiliki panjang 4.500 mm, lebar 2.300 mm, dan tinggi 2.100 mm, dengan bobot keseluruhan di bawah 2.500 kg. Spesifikasi tersebut menunjukkan bahwa DKR GR FC Hilux tetap dirancang sebagai kendaraan kompetisi untuk menghadapi permukaan dan kondisi medan yang beragam. Namun, angka output 400 kW tidak dengan sendirinya membuktikan keunggulan performa dibandingkan mobil reli bermesin konvensional, karena hasil kompetisi juga dipengaruhi bobot, distribusi tenaga, ketahanan komponen, strategi pengoperasian, serta karakteristik lintasan.
Toyota menunjuk pereli asal Arab Saudi, Dania Akeel, untuk menjalani pengujian sekaligus mengemudikan DKR GR FC Hilux pada Reli Dakar 2027. Akeel memulai karier reli lintas alam pada 2021 dan pernah finis di posisi 10 besar kelas T3 pada keikutsertaan Dakar pertamanya. Ia juga meraih kemenangan etape Dakar pada 2025 di kategori Challenger, serta dua kali menjuarai FIA Middle East Baja Cup pada 2024 dan 2025 bersama Toyota Hilux yang diikutsertakan Overdrive Racing. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk mengevaluasi kendaraan baru dalam beragam kondisi medan dan operasional.
DKR GR FC Hilux tidak menghasilkan emisi CO₂ dari knalpot saat dikendarai, tetapi hal itu tidak berarti seluruh siklus hidupnya bebas emisi. Dampak lingkungan teknologi hidrogen tetap bergantung pada sumber dan proses produksi hidrogen, pembuatan serta perawatan kendaraan, hingga komponen lain yang digunakan selama pengoperasian. Melalui proyek ini, Toyota melanjutkan pendekatan Multipath yang mengeksplorasi beragam teknologi penggerak alternatif, dengan motorsport sebagai ruang pengujian untuk memahami potensi sekaligus keterbatasan teknologi tersebut sebelum penerapannya lebih luas pada kendaraan masa depan. ![]()


