Pameran PERIKLINDO Electric Vehicle Show (PEVS) 2026 turut diramaikan dengan kehadiran kendaraan komersial. Salah satunya adalah Mobil Anak Bangsa (MAB) yang berlokasi di Hall B3 no. A1 JIExpo Kemayoran.

Di ajang tahunan ini, ada tiga unit andalan sekaligus yang dibawa MAB, yakni chassis 4×2, Ecotruck Blindvan, dan Electro Electric 3 Wheeler.

Chassis 4×2 jadi yang paling luwes. Pelanggan maupun mitra karoseri bisa mengembangkannya sesuai kebutuhan, entah untuk logistik, distribusi, pengangkutan barang, atau layanan khusus.

Buat jalanan kota, ada Ecotruck Blindvan. Kendaraan niaga listrik ini disiapkan untuk aktivitas distribusi di area perkotaan yang butuh kendaraan efisien dan pas dengan dinamika operasional harian.

Electro Electric 3 Wheeler mengisi sisi yang lebih ringkas dan praktis, cocok untuk usaha dengan kebutuhan bergerak tinggi. Di luar ketiganya, MAB juga memajang line up Electro, Ecity, E-Rover, FYY, FBY, dan FOO.

Menurut CEO MAB Kelik Irwantono, keberhasilan penerapan kendaraan listrik juga bergantung pada kemampuan industri menghadirkan solusi yang terintegrasi. “Kami memahami bahwa setiap sektor usaha memiliki tantangan dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, MAB tidak hanya menghadirkan kendaraan, tetapi juga membangun pendekatan yang mempertimbangkan keseluruhan kebutuhan pelanggan, mulai dari pola penggunaan kendaraan, kesiapan operasional, pemeliharaan, hingga pengelolaan armada. Kami ingin menjadi mitra transformasi bagi perusahaan yang ingin memulai maupun memperluas penerapan kendaraan listrik dalam bisnisnya,” lanjutnya.

Urusan armada juga dijawab lewat Mining Command Center yang ditopang teknologi Internet of Things (IoT). Perusahaan jadi bisa memantau aktivitas kendaraan dan armada dengan lebih jelas, mulai dari kondisi unit, pola pemakaian, sampai kebutuhan pemeliharaan yang penting di sektor intensif seperti pertambangan, logistik, manufaktur, dan distribusi.

MAB memandang transisi ke mobilitas listrik sebagai kerja bareng pemerintah, pelaku industri, penyedia infrastruktur, institusi pembiayaan, dan pengguna kendaraan. Kolaborasi itu diyakini bisa mempercepat adopsi sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.