Josint bersabda, “Jadi gua ngerasa tema biru ini VANkulture banget!”

Siapa yang bisa bantah? No one.
Toh ia memang dikenal sebagai founder VANkulture Indonesia.

Tapi ternyata Josint punya pengalaman di luar itu. Ia sempat bersekolah di SMA boarding school yang selalu disebut ‘kampus biru’. Seragamnya selalu nuansa biru, plus baret biru juga. Dari situ…, “Gua melihat kalo biru itu warna yang bikin hidup jadi teratur, rapi dan bikin gua nyaman.”

Enggak bisa punya mobil mewwwah, adanya cuma mobil biwwwu.

Lantas apa istimenya cat ini? Josint request warna biru McLaren. Tapi tiba-tiba Lukman Aleu, bos bengkel Khaone Carpaint, punya kehendak lain. Ngoplosin cat yang disebutnya “Blue Oreo Xirallic Purple”. Rupanya bisa juga Josint kena tikung.

Tapi versi Aleu, sedikit berbeda. “Owner bilang, terserah gua. Cari yang beda. Begitu lihat bungkus Oreo, kayaknya lucu. Biar enggak terlalu solid, dikasihlah efek Xirallic.”

Sepintas, seperti solid. Namun bergeser ke tempat lebih gelap, efeknya baru terlihat. Dibikin tipis-tipis saja, sebab kalau terlalu banyak, menjadikan mobil berukuran besar terlihat over-rated. Produk Alesco dipakai sebagai bahan utama cat, sedangkan efek Xirallicnya diambil dari merek Sikkens, dan dituntaskan dengan clear coat DeBeer high solid.

Selepas itu, barulah dipasangkan Work CV 201 20x(8.5+10) yang dibelinya dari Rimwerkz @rimwerkz dan direfinished oleh Agung Wijaya dari Euro Garage Rim Service @eurogarage_rimservice. Dituntaskan dengan pemasangan ban Accelera Phi 245/45ZR20.

Untuk suspensi, ternyata masih dipercayakan pada suspensi yang bertahan di 3 mobil Josint sebelumnya. Sempat di Odyssey RB1, pindah ke Mercy Viano dan lanjut Toyota Previa. “Air Runner lawas ini enggak pernah rewel,” ungkap Josint.

Sistemnya juga masih sama. Tanpa manajemen. Sempat dicoba di VW Caravelle, eh malah rewel buat harian, “Intinya sih sebenernya ini mobil static, gua pake air sus pas buat turun basement mall sama polisi tidur aja.” Setingannya sengaja dibuat 30 Psi kalau jalan.

Pada Vellfire ini terjadi juga kesulitan fitment kaki-kakinya. Menjadi ciri khas Toyota, yaitu depan biasa geser beberapa sentimeter ke kanan, sehingga potensial out. Solusinya ada pada camber. Tapi rupanya Josint ingin mengubah behavior.

Josint sudah tak mau lagi camber, sudah malu kalau jalan miring-miring di mobil gede gini. “Jadi kaya cacat, soalnya enggak independen kaya sedan atau Odyssey,” ungkapnya polos. Maka akhirnya, dibikin fender to lips, rata bodi, rapi-rapi standar saja, jadi aman dibawa ngantor.

Akhirnya, big MPV ini menjadi full daily Vellfire. Namanya sekarang “Ikigai“, yang dalam terminologi Jepang adalah untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Secara harfiah meliputi unsur kata “iki” yang berarti kehidupan dan “gai” yang berarti nilai.

Ikigai diekspresikan oleh Josint sebagai “alasan untuk bangun di pagi hari”.


Workshop:
Paint: Khaone Carpaint @khaonecarpaint
Wheels: Rimwerkz @rimwerkz                                                                                                                Wheel finishing: Euro Garage Rim Service  @eurogarage_rimservice
Undercarriage: Dimension Garage @dimensiongaragee
Interior: Aldynes Leather Seat @aldynes_leather_seat