Audi tak hanya meningkatkan performa mesin V6 TDI terbarunya, tetapi juga membawa langkah besar di sisi keberlanjutan melalui penggunaan bahan bakar HVO 100. Mesin diesel 3.0 liter generasi terbaru ini telah disetujui menggunakan bahan bakar berstandar EN 15940, yang ditandai dengan label XTL pada tutup tangki. Artinya, teknologi diesel modern Audi kini dirancang agar lebih ramah lingkungan tanpa mengorbankan performa.

HVO sendiri merupakan singkatan dari Hydrotreated Vegetable Oil, bahan bakar sintetis yang termasuk dalam kategori X-to-Liquid (XTL). Berbeda dari solar konvensional berbasis fosil, HVO diproduksi dari bahan sisa dan limbah, seperti minyak jelantah industri makanan atau produk sampingan pertanian. Melalui proses hidrogenasi, minyak nabati tersebut diubah menjadi hidrokarbon jenuh yang sifatnya menyerupai diesel, sehingga kompatibel dengan mesin modern.

Keunggulan terbesarnya ada pada aspek emisi. Penggunaan HVO 100 memungkinkan penurunan emisi CO₂ hingga 70–95 persen dibandingkan diesel berbasis minyak bumi. Ini menjadikan mesin V6 TDI terbaru Audi sebagai salah satu contoh bagaimana teknologi mesin pembakaran internal masih bisa berevolusi menuju arah yang lebih berkelanjutan di tengah transisi elektrifikasi global.

Selain lebih bersih, HVO juga fleksibel dalam penggunaannya. Bahan bakar ini dapat dicampur dengan diesel biasa untuk mengurangi komponen fosil, atau digunakan dalam bentuk murni 100 persen. Audi bahkan sudah mulai mengirim kendaraan baru dari pabriknya di Ingolstadt dan Neckarsulm dengan HVO di dalam tangki, menandakan keseriusan pabrikan dalam mendorong solusi bahan bakar yang lebih berkelanjutan.

Langkah ini memperlihatkan bahwa masa depan mobilitas tidak hanya bertumpu pada elektrifikasi penuh, tetapi juga pada inovasi bahan bakar alternatif yang dapat langsung diterapkan pada kendaraan produksi massal. Dengan dukungan HVO 100, mesin diesel V6 TDI terbaru Audi membuktikan bahwa performa tinggi dan tanggung jawab lingkungan bisa berjalan beriringan.