Balapan pembuka MotoGP 2026 di Thailand berubah jadi akhir pekan penuh drama buat Marc Marquez. Saat sedang berusaha mengejar podium di Buriram, pembalap Ducati itu justru harus mengakhiri balapan lebih cepat setelah ban belakangnya tiba-tiba kehilangan tekanan.

Insiden terjadi di lap ke-21 dari 26 lap. Marc yang sempat tercecer di awal perlahan menemukan ritmenya dan kembali ke posisi empat. Ia bahkan mulai memangkas jarak dengan Raul Fernandez yang berada di posisi ketiga. Namun saat peluang podium mulai terbuka, motornya mengalami masalah yang membuatnya tak bisa melanjutkan balapan.

Bos tim Ducati, Davide Tardozzi, memastikan sumber masalah berasal dari velg roda belakang yang rusak setelah menghantam kerb di Tikungan 4.

“Dia melewati kerb di Tikungan 4 dan velgnya pecah. Setelah itu tekanan udara langsung hilang dan dia harus berhenti,” ujar Tardozzi, dikutip dari Crash.Net. Ia juga mengaku kejadian seperti ini sangat jarang terjadi dan lebih terlihat sebagai kombinasi nasib buruk dan benturan yang terlalu keras.

Marc sendiri membenarkan bahwa benturan tersebut terasa tidak normal dibanding sebelumnya. “Memang benar pembalap lain, bahkan saat tes, juga melewati kerb di titik itu dan tidak terjadi apa-apa. Saya melebar di Tikungan 4, dan saat melewati kerb saya merasakan benturan keras dan ban langsung kempis karena velgnya rusak. Itu insiden yang sangat disayangkan, karena sebenarnya saya sedang mengontrol situasi. Saya tahu balapan akan panjang, jadi pendekatan saya cukup konservatif. Tapi saat melihat jarak ke podium semakin dekat, saya mulai menyerang. Sayangnya hal seperti ini bisa saja terjadi, tapi kami tahu level kami sudah cukup kompetitif,” ujar pembalap bernomor 93 ini.

Masalah velg ini ternyata bukan kasus tunggal sepanjang akhir pekan. Kepala divisi balap Michelin, Piero Taramasso, mengungkapkan suhu panas tinggi dan karakter kerb di Buriram membuat banyak velg mengalami perubahan bentuk. Ia mencontohkan kasus Jorge Martin yang juga kehilangan tekanan ban setelah menghantam kerb, meski efeknya tidak seketika seperti yang dialami Marc. Sementara itu, Joan Mir juga mengalami masalah ban belakang dan gagal finis tak lama setelah insiden Marc.

Di luar insiden tersebut, performa Ducati secara keseluruhan juga belum sesuai harapan. Padahal mereka tampil kuat saat tes pramusim di sirkuit yang sama. Dalam balapan utama, pembalap Ducati terbaik adalah Fabio Di Giannantonio, namun ia finis lebih dari 15 detik di belakang pemenang balapan, Marco Bezzecchi. Tardozzi mengakui timnya menemukan sesuatu yang tidak biasa karena motor terasa berbeda dibanding saat tes, sementara rival seperti Aprilia justru tampil sangat kuat sepanjang akhir pekan.

Hasil ini sekaligus mengakhiri rekor panjang Ducati di MotoGP. Untuk pertama kalinya sejak British Grand Prix 2021, tidak ada satu pun motor mereka yang finis di podium. Rentetan 88 podium beruntun pun terhenti, jadi sinyal awal bahwa musim 2026 kemungkinan akan berjalan jauh lebih kompetitif.