C218 ini adalah Mercedes-Benz CLS 400.
Melihat bentuknya saja sudah mengunci perhatian.
Siluetnya menjadi “signature design.
Four-door coupe dengan pilar A-C membentuk garis tanpa putus.
Window line menyempit ke belakang.
Overhang belakang pendek.

DeepEnder coba bayangin lagi deh.
Saat diturunkan ekstrem yang terjadi adalah garis atap itu jadi makin nempel ke tanah secara visual, dan proporsi makin dramatis seperti coupe 2 pintu. Bisa diartikan bahwa stance mempertegas niat desain asli Mercedes.

Bayangkan juga velg lebar dan offset presisi menggiring kesan seakan bahu mobil bertambah lebih berisi. Garis samping (shoulder line) makin keluar. Terdapat nuansa widebody walau tanpa body kit ekstrem. Hal ini amat penting, sebab C218 sangat bergantung pada proporsi samping.

Cumaaaaaaaaa….., Nicholas a.k.a NIC memang agak lain.
Ketika yang lain sibuk-sibuk memilih velg Jepang atau custom forged, ia malah memilih HRE 549.

HRE itu mainnya di forged wheel. Materialnya dipadatkan, bobot lebih ringan, dan lebih tahan benturan. Secara umum, HRE pakai aluminium aerospace-grade (6061-T6) untuk dapetin rasio strength versus weight yang optimal. 549 masuk lini klasik yang dominan elegan, padat, dan halus.
Ukuran depan 20×10.5, dan di belakang 20×11.5 inci dengan wide setup goal. Deep concave, efek visual dalam dan berotot. Proper offset, biar duduknya flush sempurna. Dan data-data tadi merupakan indikator, kalau NIC tak main-main di level budget biasa.
Tapi di titik ini, setingan tidak berhenti pada visual. Ketika stance sudah drop, velg mengisi penuh, dan proporsi sudah selaras, pertanyaannya bukan lagi soal estetika. Di samping dukungan dari Accelera Phi, bannya anak-anak stance.


Di balik HRE tersebut, NIC memasang Brembo spesifikasi AMG GT. CLS memiliki bobot besar, dan dengan output tenaga 400++ HP, sistem pengereman standar berpotensi mengalami penurunan performa. Pedal menjadi lebih dalam, daya cengkeram melemah, dan konsistensi berkurang.

Upgrade Brembo menjawab hal tersebut. Initial bite lebih kuat, manajemen panas lebih baik, dan performa pengereman tetap stabil dalam penggunaan berulang. Secara visual, kaliper berukuran besar mengisi ruang di dalam HRE dengan proporsional.
Pada sektor mesin, CLS 400 memang bukan AMG dan tidak dipaksakan ke arah tersebut. Remap dari Manic meningkatkan output hingga 400++ HP, didukung sistem intake yang lebih optimal serta exhaust flow yang lebih lancar. Karakter tenaga tetap halus, dengan peningkatan akselerasi yang terasa progresif.

Sistem knalpot Tech Pro membuka karakter suara yang sebelumnya tertahan. Frekuensi rendah menjadi lebih dominan, dengan tone yang lebih dalam. Dalam kondisi cruising tetap nyaman, namun saat throttle dibuka, respons suara meningkat signifikan. Penggunaan dual tip bergaya AMG menjaga keselarasan antara tampilan dan output suara.


Tapi semua set up ini butuh fondasi. Apalagi kalau suspensi. Di sinilah Feel Air bekerja. Buat Willy, yang pegang langsung sektor kaki-kaki CLS ini, pilihan itu masuk akal. “Cocok di CLS, mampu nahan bodi besarnya,” ungkap juragan F*ck Wheel Dude itu. ![]()
Workshop:
F*ck Wheel Dude @willy_fwd
Data Mods:
Renntech ducktail, Renntech rear diffuser, AMG dual-tip exhaust, Tech Pro exhaust system, dual CTS air intake, NGK iridium spark plugs, Manic ECU remap (400++ hp), DTE PedalBox, Brembo AMG GT brakes 6 piston/380 mm (front) & 4piston/340 mm (rear), HRE 549 20x(10.5+11.5) inches, Accelera Phi














