Sejak kecil, Harris memang sudah akrab dengan mobil-mobil Prancis, khususnya Peugeot. Awalnya karena sang orang tua pernah memiliki Peugeot 505 GR lansiran 1981 berwarna biru tua dengan interior coklat muda krem yang kala itu dipakai kakaknya untuk kuliah. Dari situlah ia mulai melihat langsung bagaimana sebuah Peugeot dirawat dan dipelihara dengan detail.

Pengaruh terbesar datang ketika sang kakak kemudian memiliki Peugeot 306 N5 Phase 2 warna silver yang hingga sekarang masih tersimpan di rumah. Dari mobil itu, Harris mulai jatuh hati pada desain Peugeot 306 yang menurutnya timeless, proporsional, dan sangat cocok dijadikan basis modifikasi. Dimensinya yang lebih compact dibanding Peugeot 405 membuat mobil ini terasa pas untuk dibangun dalam berbagai pendekatan gaya.

Impian untuk memiliki Peugeot 306 sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama, meski awalnya hanya sebatas angan-angan. Menurut Harris, Peugeot 306 adalah mobil yang fleksibel untuk berbagai konsep modifikasi. Bisa tampil clean ala Peugeot Sport, atau dibangun dengan nuansa nineties menggunakan velg Mercedes-Benz, jok RECARO, setup static, hingga knalpot bergaya klasik. Karena tumbuh di era tersebut, akhirnya pada 2018 ia memutuskan membangun mobil ini dengan konsep nineties style.

Kesempatan itu datang di akhir 2018 ketika dua sahabat sesama penghobi, Aswin dan Agung, memberi informasi mengenai Peugeot 306 hitam transmisi otomatis yang dijual lengkap dengan foto-fotonya. Saat itu harga pembuka berada di angka Rp 17,5 juta dengan kondisi surat mati sekitar empat tahun, lalu berhasil ditebus di angka Rp 12 juta.

Harris langsung tertarik karena kondisi sasis dinilai masih sangat bagus dan belum pernah mengalami bongkar besar. Beberapa bagian bodi memang masih memiliki penyok di pintu belakang kiri dan spakbor depan kanan-kiri, namun sempat terpikir untuk dipertahankan sebagai konsep patina. Interiornya pun masih sekitar 80 persen lengkap. Meski dashboard sudah retak, keseluruhan tampilannya masih sangat original tanpa tambahan aksesori berlebihan.

Dari situlah “Si Bluwek” yang kusam dan buram mulai dirapikan. Harris mengibaratkan proses ini seperti merawat “janda matang” yang tetap harus diperlakukan serius. Digrooming semampunya agar kembali enak dipandang dan nyaman dipakai. Namun ia tidak ingin membangunnya secara asal-asalan. Semua parts yang dipasang tetap menggunakan barang branded dan disesuaikan dengan period correct sesuai usia mobil. Tujuannya sederhana: mobil ini tetap pantas diajak hadir ke berbagai acara tanpa kehilangan karakternya.

Tahap pertama dimulai dari peremajaan total karena mobil ini juga digunakan sebagai daily car. Fokus utama ada pada radiator, sistem AC full set, arm dan tie rod, bushing, hingga seluruh komponen karet mobil. “Semua diganti baru agar mobil tetap aman dan nyaman digunakan harian dalam jangka panjang,” ujar Harris.

Karena sejak awal konsepnya menggunakan velg 17 inci, sektor pengereman ikut mendapat upgrade. Rem depan menggunakan ventilated disc Peugeot 308, sementara bagian belakang memakai ventilated disc Peugeot 307 dengan torsion beam baru. Selain itu dilakukan ubahan PCD ke Mercedes-Benz 5×112 untuk menyesuaikan penggunaan velg BRABUS Monoblock.

Tantangan terbesar justru datang dari sektor suspensi. Harris tetap ingin mempertahankan setup static demi menjaga nuansa modifikasi Jaxstyle, sekaligus karena biaya yang lebih realistis dibanding penggunaan coilover ataupun air suspension. Setup tersebut menggunakan per H&R Sportkit 306 yang dipadukan dengan peredam kejut Bilstein B4.

Namun setelah pemasangan awal, ground clearance dirasa masih terlalu tinggi. Akhirnya berbagai penyesuaian dilakukan bersama Dian dari bengkel Autodynamic di Gandul, Cinere. Seluruh proses berjalan penuh trial and error hingga mendapatkan stance seperti sekarang.

Masuk ke interior, nuansa OEM tetap dipertahankan tanpa ubahan ekstrem. Dashboard retak sudah diganti menggunakan komponen baru yang proses pencariannya memakan waktu cukup lama. Kabin kemudian mendapat sentuhan kontras lewat penggunaan jok RECARO berwarna ungu yang langsung menjadi pusat perhatian di dalam mobil.

Bagi Harris, membangun Peugeot 306 bukan hanya soal hasil akhir, melainkan tentang menikmati seluruh proses trial and error selama perjalanan. Mobil ini pun masih jauh dari kata selesai karena ke depannya bodi akan dibangun ulang dan menjalani repaint menggunakan kombinasi part baru maupun copotan demi mendapatkan detail yang benar-benar sesuai karakter yang diinginkan.

Pria berusia di ujung kepala 5 ini juga mengingatkan bahwa sebelum memulai proyek Peugeot 306, penting untuk memahami lebih dulu potensi masalah dan tantangan khas mobil Prancis tersebut. Dibutuhkan mental, niat, dan konsistensi karena membangun Peugeot 306 tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Namun di balik semua tantangan itu, ada kepuasan tersendiri ketika mobil akhirnya bisa tampil dan berjalan sesuai visi pemiliknya.

Karena itu, Harris percaya tidak perlu takut gagal atau melakukan kesalahan dalam proses membangun mobil. Setiap problem justru menjadi bagian dari pengalaman yang membuat ikatan dengan mobil semakin kuat. Harris berpedan, “Ayo ramaikan lagi Peugeot 306 di jalanan. Selamat berjuang, kawans.”


Data Mods:
Lower fog lamps in authentic French EUDM style configuration with yellow-tinted reflector housings and selective yellow bulbs, Philips H4 headlamp bulbs fitted with yellow covers for classic European rally-inspired illumination, BRABUS Monoblock III Gen 2 polished alloy wheels manufactured in 1995 measuring 17x8J with ET30 offset, wrapped in Falken Ziex 205/40ZR17 tires on both front and rear axles, Bilstein B4 dampers paired with H&R Blue front springs while retaining the factory rear torsion beam suspension setup, powered by a factory-standard XU7 JP 1.8-liter SOHC fuel-injected inline-four engine mated to a 4-speed automatic transmission, delivering smooth urban drivability with an estimated top speed of approximately 200 km/h, fuel efficiency averaging around 10 km/l under normal driving conditions and 8 km/l in heavy traffic, supported by a 70-liter fuel tank capacity, cabin equipped with an Alpina steering wheel, original Peugeot 206-spec Sanyo head unit, electrically adjustable RECARO CS Purple Monza seats with 3-button controls, Bosch third brake lamp, and 3M Crystalline 20% window film featuring a subtle blue hue, braking system upgraded using ventilated Peugeot 308 front disc brakes and ventilated Peugeot 307 rear disc brakes, maintaining stable cornering dynamics with comfortable ride characteristics, while the electrical management system continues to utilize the factory Bosch Jetronic setup designed specifically for the XU7 JP powertrain.