Tidak semua motor modifikasi lahir dengan tujuan yang sama. Ada yang dibangun untuk mendukung pekerjaan, ada yang menjadi penghormatan terhadap budaya populer, sementara sebagian lainnya hadir sebagai representasi gaya hidup.

Empat Yamaha Fazzio Hybrid yang dipamerkan Yamaha kali ini menunjukkan bagaimana satu platform skutik bisa diterjemahkan menjadi karya dengan karakter yang benar-benar berbeda.

Kesamaannya hanya satu, yakni seluruh modifikasi berangkat dari desain dasar Fazzio Hybrid yang fleksibel. Selebihnya, masing-masing motor berkembang mengikuti cerita dan identitas pemiliknya, mulai dari dunia industri kreatif, pop culture, budaya custom internasional, hingga fashion Jepang.

“Setiap modifikasi Yamaha Fazzio Hybrid memiliki karakter dan cerita yang berbeda. Mulai dari konsep kendaraan pendukung aktivitas kreatif hingga budaya custom otomotif global, seluruh karya tersebut menunjukkan fleksibilitas Yamaha Fazzio Hybrid sebagai media yang mampu mewadahi berbagai ide kreatif penggunanya. Tidak hanya tampil menarik secara visual, setiap modifikasi juga merepresentasikan identitas dan passion pemiliknya,” ujar Rifki Maulana, Manager Public Relations, YRA & Community PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing.

Karakter pertama datang dari Bujang Rimba yang melihat motor bukan sekadar alat transportasi, melainkan partner bekerja. Ia mengubah Fazzio Hybrid menjadi Scooter Matic Shooting & Production Utility Vehicle, sebuah skutik yang dirancang untuk menunjang aktivitas fotografi, videografi, hingga produksi konten. Rak penyimpanan di bagian depan dan belakang disiapkan untuk membawa perlengkapan kerja, sementara grafis penuh warna dengan nuansa industrial workshop mempertegas identitas kendaraan para pekerja kreatif yang selalu berpindah lokasi.

Dunia yang sama sekali berbeda dihadirkan Windha Kusuma melalui motor bertajuk Buzzio. Inspirasinya berasal dari karakter Buzz Lightyear dalam film Toy Story. Kombinasi warna hijau, putih, dan ungu khas karakter tersebut diterjemahkan ke dalam bodi Fazzio Hybrid tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Hasilnya menghadirkan sebuah skutik yang terasa seperti membawa karakter animasi keluar dari layar dan masuk ke jalan raya.

Sementara itu, atmosfer garage culture hadir melalui kolaborasi Pickers Service x Mooneyes. Modifikasi ini menggabungkan warna khas Moon Yellow, livery ikonik Mooneyes, grafis pinstripe bergaya vintage racing, wheel cover retro, hingga emblem dan lettering khas Pickers Service. Sentuhan tersebut menciptakan perpaduan gaya skuter Eropa klasik dengan kultur custom Jepang-Amerika yang telah lama menjadi bagian penting dalam dunia modifikasi internasional.

Jika tiga konsep sebelumnya tampil cukup berani, Rani Listiasari memilih pendekatan yang lebih lembut lewat tema Japanese Cute Style. Dominasi warna putih dan pink pastel dipadukan dengan front rack, rear rack, sandaran, serta tas belakang yang dibuat menyatu dengan keseluruhan konsep. Skutik ini tetap mempertahankan fungsi sebagai kendaraan harian, namun tampil layaknya bagian dari gaya berpakaian pemiliknya.

“Konsep ini terinspirasi dari Fazzio Japanese Style yang saya lihat di media sosial, lalu saya kembangkan dengan kombinasi pink dan putih agar terlihat lebih elegan, modern, dan berbeda. Saya juga menambahkan tas di bagian belakang untuk membawa perlengkapan konten dan kebutuhan sehari-hari. Buat saya, Yamaha Fazzio Hybrid sangat asyik dimodifikasi karena desainnya fleksibel dan tetap nyaman dipakai untuk aktivitas harian,” kata Rani.

Empat motor tersebut memperlihatkan bahwa arah modifikasi Fazzio Hybrid tidak terpaku pada satu aliran tertentu. Ada yang mengejar fungsi, ada yang mengangkat referensi budaya populer, ada pula yang menonjolkan heritage custom dan fashion lifestyle. Justru keberagaman itulah yang menjadi benang merah dari seluruh karya.