Ada masa ketika motor sport fairing adalah puncak gengsi anak muda. Di era 2010-an, banyak rider bermimpi memiliki motor sport karena dianggap lebih keren dan lebih mencerminkan jiwa muda yang penuh adrenalin.

Namun satu dekade terakhir, tren itu berubah. Jalanan kota yang semakin padat, kebutuhan mobilitas yang semakin kompleks, dan gaya hidup yang terus bergerak membuat banyak anak muda mulai mempertanyakan satu hal:

apakah motor sport masih menjadi pilihan paling masuk akal untuk dipakai harian?

Jawabannya mulai terlihat dari fenomena naik daunnya sport scooter seperti Yamaha Aerox. Motor yang sejak awal hadir dengan desain agresif ala motor sport ini menawarkan sesuatu yang sebelumnya sulit ditemukan, yaitu sensasi sporty tanpa harus mengorbankan kenyamanan dan kepraktisan.

Perubahan itu juga dialami oleh Alfan Deka atau yang lebih dikenal sebagai Gofar Jagoan. Pada 2018, ia memutuskan meninggalkan segmen motor sport fairing dan beralih ke Yamaha Aerox. Keputusan tersebut bukan sekadar mengikuti tren, melainkan hasil dari kebutuhan berkendara yang berubah. Ia tetap menginginkan tampilan agresif dan performa yang menyenangkan, tetapi dengan nilai tambah berupa bagasi yang luas, posisi berkendara yang lebih nyaman, serta fleksibilitas untuk dipakai ke berbagai aktivitas.

Di titik inilah Aerox menemukan relevansinya. Motor ini tidak hadir untuk menggantikan motor sport sepenuhnya, melainkan mengambil elemen terbaiknya. Mulai dari desain yang tegas, performa mesin 155 cc yang responsif, serta aura sporty, lalu menggabungkannya dengan karakter skutik yang praktis. Hasilnya adalah kategori baru yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi muda perkotaan.

Fenomena tersebut juga terlihat dari cara pengguna memperlakukan motornya. Jika dulu motor sport menjadi media untuk menunjukkan performa dan status, kini skutik premium seperti Aerox berkembang menjadi medium ekspresi yang lebih luas. Motor bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari identitas personal, fashion statement, hingga konten media sosial.

Kisah Gofar menjadi contoh menarik bagaimana perubahan itu terjadi. Bersama AEROX generasi pertama yang ia beri nama “Cleo”, ia mulai bereksperimen dengan modifikasi monoshock menggunakan pendekatan plug and play yang sederhana karena keterbatasan biaya. Dari proyek tersebut, ia justru berhasil meraih juara pertama CustoMAXi regional 2019. Pencapaian itu menjadi titik awal yang membuktikan bahwa kreativitas kini lebih penting daripada sekadar besarnya modal.

Eksplorasi itu berlanjut pada Aerox generasi kedua bernama “Cony” yang mengusung konsep “Moge Looks”, lengkap dengan geometri lowered, monoshock, dan velg berukuran besar yang memberikan kesan layaknya motor sport kelas atas. Hasilnya, Gofar meraih gelar Master Class CustoMAXi 2023 dan memperkuat posisi Aerox sebagai salah satu platform modifikasi paling menarik di segmen skutik premium.

Puncaknya hadir melalui proyek “Dolphin” berbasis Aerox Alpha. Di tengah tren penggunaan air suspension, Gofar justru memilih jalur berbeda dengan konsep Japanese Lowered Static Scooter yang menuntut presisi dan keberanian teknis lebih tinggi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa budaya modifikasi skutik kini telah berkembang jauh melampaui sekadar mengejar kenyamanan atau gaya sesaat.