Memasuki tahun ajaran baru, ribuan pelajar mulai kembali beraktivitas, termasuk berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motor.
Sayangnya, tidak sedikit siswa yang sudah mengendarai motor meski belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Kondisi inilah yang menjadi perhatian PT Wahana Makmur Sejati (WMS) melalui edukasi keselamatan berkendara kepada sekitar 800 siswa baru dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Edukasi yang digelar di SMK Wipama Cikupa dan SMK Tunas Bangsa, Kabupaten Tangerang, itu bukan sekadar mengenalkan teknik berkendara. WMS justru menekankan bahwa kepatuhan terhadap aturan menjadi fondasi utama keselamatan di jalan. Salah satunya adalah larangan mengendarai sepeda motor bagi mereka yang belum memenuhi syarat memiliki SIM C.
Mengacu pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ), pengendara sepeda motor wajib berusia minimal 17 tahun dan memiliki SIM C. Karena itu, siswa yang belum memenuhi persyaratan diimbau untuk tidak memaksakan diri membawa motor ke jalan raya. Sebagai alternatif, mereka disarankan menggunakan transportasi umum, diantar orang tua, atau bepergian bersama pengendara yang telah memenuhi ketentuan.

Melalui kampanye #Cari_Aman, peserta juga dibekali pemahaman mengenai etika berlalu lintas, cara mengenali potensi bahaya di jalan, hingga pentingnya membangun sikap disiplin sebagai pengguna jalan. Edukasi ini diharapkan mampu membentuk pola pikir bahwa keselamatan bukan sekadar kewajiban, melainkan budaya yang harus diterapkan sejak usia sekolah.
Selain itu, WMS turut mengingatkan pentingnya menggunakan perlengkapan berkendara yang sesuai standar. Helm berlabel SNI, jaket, sarung tangan, celana panjang, serta sepatu yang menutupi mata kaki menjadi perlengkapan dasar yang dapat membantu meminimalkan risiko cedera apabila terjadi kecelakaan.

Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati, Agus Sani, menegaskan bahwa tujuan utama program ini bukan hanya mengajarkan cara mengendarai sepeda motor dengan benar. Menurutnya, edukasi tersebut juga bertujuan membangun kesadaran agar pelajar mematuhi aturan lalu lintas, menggunakan perlengkapan keselamatan, serta tidak berkendara sebelum memiliki SIM.
Melalui kolaborasi Safety Riding Promotion (SRP) dan Satu Hati Education Program (SHEP), WMS berharap semakin banyak generasi muda memahami bahwa keselamatan dimulai dari keputusan sederhana, yakni tidak berkendara jika belum memenuhi syarat. Langkah preventif seperti ini dinilai menjadi salah satu cara efektif untuk menekan risiko kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar sekaligus membangun budaya berkendara yang lebih aman di masa depan. ![]()
