DeepEnd diajak diskusi oleh sahabat yang masih kebingungan mencari mobil non hybrid/EV untuk keluarganya. Pengennya irit, tangguh dan baru dirilis di GIIAS 2026. Di ujung cerita, sahabat yang dikaruniai 4 anak dan sering menjenguk orang tuanya di Solo ini berpesan, “Ada info, Bro?”
Ya itu sih susah dijawab langsung, lah wong mobilnya baru dirilis. Kalau mau menjawab dengan sok tahu, gampang. Tinggal lihat brosur, ambil angka konsumsi BBM, lalu tunjuk satu mobil. Tapi DeepEnd lebih suka melihatnya sedikit lebih dalam.
GIIAS 2026 menjadi tempat yang pas untuk itu. Bukan semata karena ada area test drive, tetapi karena di satu tempat kita bisa melihat langsung mobil-mobil baru yang baru saja diperkenalkan ke pasar Indonesia.
Di pameran otomotif terbesar di Tanah Air ini memperlihatkan satu perubahan yang semakin sulit diabaikan. Industri otomotif Indonesia sedang bergerak menuju elektrifikasi. Hybrid semakin banyak, mobil listrik semakin beragam, dan teknologi yang beberapa tahun lalu terasa baru kini mulai menjadi bagian dari pilihan konsumen.
Namun di tengah arus tersebut, mesin bensin belum benar-benar pergi. Justru di GIIAS 2026 muncul sejumlah mobil baru yang masih mengandalkan mesin pembakaran internal sebagai sumber tenaga utama. Bukan sekadar model lama yang diperpanjang umurnya, melainkan produk baru dengan desain, teknologi, fitur dan positioning yang memang disiapkan untuk konsumen hari ini.
Lalu muncul pertanyaan seberapa relevan mesin bensin pada 2026?
Sebab efisiensi tidak selalu berarti angka konsumsi BBM paling tinggi. Mesin berkapasitas kecil belum tentu otomatis menjadi pilihan paling masuk akal. Begitu pula SUV dengan mesin lebih besar tidak serta-merta harus dianggap boros. Ada ukuran kendaraan, kapasitas penumpang, bobot, transmisi, performa, harga, hingga fungsi yang ikut menentukan apakah sebuah mesin bensin masih masuk akal untuk dipilih.
Dari sekian banyak mobil baru di GIIAS 2026, perhatian DeepEnd tertuju pada tiga SUV yang masih mengandalkan mesin bensin murni atau ICE sebagai sumber tenaga. Pertama, new Suzuki XL7 Zeta. Kedua, the all new Kia Seltos. Dan ketiga, all new Mazda CX-5.
Dimana ketiganya sebenarnya bukan rival langsung.
XL7 membawa konfigurasi tujuh penumpang dengan mesin 1.5 liter. Seltos bermain sebagai SUV lima penumpang dengan mesin 1.5 liter dan IVT. Sementara CX-5 berada di kelas yang lebih besar dengan mesin 2.5 liter. Namun justru perbedaan tersebut membuat komparasi ini menarik. Ketiganya memberikan tiga jawaban berbeda tentang bagaimana mobil baru bermesin bensin dapat tetap menawarkan efisiensi pada 2026.
Untuk membacanya, DeepEnd menggunakan lima parameter: Efficiency, Powertrain, Proportion, Utility, dan Reality Check. Dan perlu ditegaskan, ini bukan perbandingan konsumsi BBM secara head-to-head. Ketiga mobil tersebut baru diperkenalkan di GIIAS 2026 dan tidak seluruhnya tersedia untuk diuji.
Karena itu, DeepEnd tidak akan mengarang angka konsumsi hasil pengujian sendiri. Angka efisiensi tetap menggunakan klaim masing-masing brand, kemudian ditempatkan bersama data teknis, harga, fungsi, positioning dan pengamatan langsung terhadap unit yang hadir di GIIAS.

Untuk pengalaman berkendara, hanya Seltos yang sempat DeepEnd coba melalui fasilitas test drive GIIAS. Sementara XL7 dan CX-5 dibaca berdasarkan data produk, klaim brand serta pengamatan terhadap unit yang dipamerkan. Artinya, kami tidak sedang mencari mobil bensin paling irit secara absolut. Kami sedang mencari mobil baru yang paling masuk akal ketika efisiensi menjadi salah satu syaratnya.
Dan dari tiga mobil tersebut, New Suzuki XL7 Zeta menjadi yang paling seimbang:
1. New Suzuki XL7 Zeta
XL7 mungkin menjadi mobil yang paling mudah dipahami dari ketiganya.
SUV tujuh penumpang dengan ground clearance 200 mm, sehingga sejak awal identitasnya memang dekat dengan kebutuhan keluarga. New XL7 diperkenalkan Suzuki di GIIAS 2026 sebagai debut global. Untuk komparasi ini, yang digunakan adalah Zeta karena menjadi satu-satunya varian yang tetap menggunakan mesin bensin konvensional. Mengapa Zeta? Sebab Alpha dan Beta sudah menggunakan SHVS mild hybrid.
Mesinnya K15B 1.5 liter dengan pilihan manual lima percepatan atau otomatis empat percepatan. Suzuki mengklaim konsumsi BBM New XL7 berada di kisaran 12–14 km/l. Angka itu tentu merupakan klaim pabrikan. Dan karena unit Zeta tidak tersedia untuk test drive, DeepEnd tidak menjadikannya sebagai hasil pengujian langsung. Tetapi angka tersebut tetap menarik untuk dibaca. Mungkin biasa saja jika dibandingkan dengan mobil kecil. Tetapi ini adalah SUV tujuh penumpang. Angka 12–14 km/l harus ditempatkan bersama kapasitas, ukuran dan fungsi kendaraan.

XL7 tidak menawarkan mesin besar untuk menggerakkan tubuh yang besar. Melainkan menggunakan 1.5 liter untuk menjalankan fungsi yang cukup lengkap sebagai kendaraan keluarga. Tujuh tempat duduk memberikan fleksibilitas yang tidak dimiliki Seltos maupun CX-5 dalam komparasi ini. Untuk keluarga, kursi tambahan bukan sekadar angka di brosur. Berarti bisa membawa empat anak, anggota keluarga lain, teman, atau barang tanpa harus berganti kendaraan.
Zeta menjadi varian paling terjangkau dalam keluarga XL7 terbaru. Harga OTR Jakarta yang dipublikasikan Suzuki berada sekitar Rp 274,3 juta untuk manual dan Rp 285,3 juta untuk otomatis.
Maka jawaban untuk sahabat tadi mulai terlihat. Bensin? Ya. Baru? Ya. Tujuh penumpang? Ya. Konsumsi BBM masih masuk akal? Menurut klaim Suzuki, 12–14 km/l. Harga? Masih relatif rasional.
2. The All New Kia Seltos
Seltos memberikan jawaban berbeda. The all new Kia Seltos menggunakan mesin Smartstream 1.5 liter naturally aspirated berkapasitas 1.497 cc, menghasilkan 115 PS dan 144 Nm, kemudian dipadukan dengan Intelligent Variable Transmission atau IVT. Jika dibacaa, maka powertrain menjadi kekuatannya.
Kia tetap mempertahankan mesin bensin tanpa turbo dan tanpa motor listrik, tetapi memasangkannya dengan transmisi yang membuat karakter berkendara terasa lebih modern. Ada pula pilihan Drive Mode Eco, Normal dan Sport. Seltos menjadi satu-satunya dari tiga mobil ini yang sempat DeepEnd rasakan langsung melalui area test drive GIIAS. Tentu saja, lintasan tersebut tidak cukup untuk menghasilkan angka konsumsi BBM yang bisa dibandingkan secara ilmiah dengan mobil lain. Tetapi setidaknya ada kesempatan untuk merasakan bagaimana mesin dan IVT bekerja bersama.

Kia juga memberikan paket teknologi yang menjadi nilai tambah. Panoramic display, panoramic sunroof, BOSE dan fitur ADAS pada varian tertentu menunjukkan bahwa Kia tidak menganggap mesin bensin sebagai alasan untuk membuat produknya terasa konvensional. Kia juga menempatkan kombinasi Smartstream 1.5 dan IVT dalam karakter efficient performance. DeepEnd tetap membacanya sebagai klaim pabrikan, bukan hasil pengujian konsumsi BBM DeepEnd.
Maka pertanyaan yang dijawab Seltos adalah, “Apakah ICE masih bisa terasa modern?” Jawabannya, bisa. Seltos memperlihatkan bahwa konsumen yang belum ingin masuk ke hybrid atau EV tetap bisa memperoleh SUV dengan teknologi yang terasa kekinian. Tetapi ketika kembali kepada kebutuhan awal, Seltos hanya menawarkan lima tempat duduk dan berada pada posisi harga yang lebih tinggi dari XL7. Karena itu, Seltos berada di posisi kedua. Bukan karena produknya kurang menarik, tetapi karena XL7 memberikan fungsi yang lebih dekat dengan kebutuhan yang kita jadikan dasar komparasi.
3. All New Mazda CX-5
CX-5 membawa perspektif paling berbeda. All new Mazda CX-5 yang dirilis merupakan generasi ketiga dan diperkenalkan di GIIAS 2026 dengan positioning yang lebih premium. Mesin bensin 2.5 liter Skyactiv-G membuatnya menjadi kandidat yang menarik untuk artikel tentang efisiensi.
Sekilas, kapasitas mesin tersebut seperti bertolak belakang dengan kata “irit”.
Apakah efisiensi harus selalu dimulai dari mesin kecil? Tidak selalu. Mazda selama bertahun-tahun mengembangkan Skyactiv dengan pendekatan yang melihat mesin, transmisi dan kendaraan sebagai satu kesatuan. Karena itu, efisiensi CX-5 tidak tepat dibaca hanya dari kapasitas 2.5 liter.

Untuk CX-5, DeepEnd tidak menggunakan impresi test drive sebagai dasar penilaian karena unitnya tidak tersedia untuk diuji. Pembacaan dilakukan dari spesifikasi, teknologi powertrain, positioning, harga dan pengamatan terhadap unit yang dipamerkan di GIIAS 2026. Karakter produk yang lebih besar juga terlihat dari pendekatannya terhadap performa dan refinement. Tetapi konsekuensinya jelas. Kendaraan lebih besar, mesin lebih besar dan harga mulai sekitar Rp599 juta.
Untuk kebutuhan sahabat DeepEnd yang sedang mencari mobil bagi keluarga dengan empat anak dan masih membutuhkan kendaraan untuk perjalanan ke Solo, CX-5 menawarkan paket yang lebih premium. Tetapi dari sisi kebutuhan dan anggaran, ia mulai terasa lebih mewah daripada yang diperlukan. Maka CX-5 berada di posisi ketiga. Bukan karena ia gagal menjadi mobil yang efisien. Tetapi karena proposisinya tidak seefisien XL7 ketika kebutuhan, harga dan fungsi dimasukkan ke dalam perhitungan.
Setelah melihat ketiganya di GIIAS 2026 dan mendapatkan kesempatan mencoba Seltos, garis besarnya menjadi sederhana. XL7 menggunakan proporsi, dan mesin 1.5 liter dipadukan dengan tujuh tempat duduk, ground clearance SUV dan harga yang relatif terjangkau. Seltos menggunakan powertrain, dimana mengusung mesin 1.5 liter naturally aspirated dan IVT membuat SUV bensin konvensional terasa modern dan sarat teknologi. Sementara itu, CX-5 menggunakan engineering di saat mesin 2.5 liter tetap dipertahankan karena Mazda menunjukkan bahwa efisiensi tidak selalu berarti mengecilkan kapasitas mesin.
Ketiganya bukanlah rival langsung. Tetapi ketiganya memberikan tiga jawaban terhadap pertanyaan yang sama, “Apakah mesin bensin masih relevan pada 2026?” Ternyata jawabannya masih.
Hanya saja, alasannya tidak lagi cukup dengan mengatakan “mesinnya irit”. Konsumen akan melihat apa yang didapat dari setiap liter bensin yang digunakan. Dan dalam konteks pertanyaan sahabat tadi, New Suzuki XL7 Zeta menjadi pilihan DeepEnd. Tujuh tempat duduk, mesin bensin 1.5 liter, ground clearance SUV, klaim konsumsi 12–14 km/l, dan harga yang masih relatif terjangkau membuatnya memiliki satu kelebihan yang sulit ditandingi dua kandidat lain, yaitu proporsi.
Mungkin itulah alasan mesin bensin belum selesai.
Tak perlu provokatif mengalahkan hybrid atau EV.
Hanya perlu memberikan alasan yang cukup kuat untuk pemilihnya.
Kembali ke pertanyaan sahabat tadi:
“Ada info, Bro?”
Sekarang ada.
Tinggal dicoba sendiri sebelum menentukan pilihan. ![]()
