Coba perhatikan lagi mobil yang Anda pakai sehari hari. Ada rem yang enggak bikin ban terkunci saat diinjak mendadak, ada airbag yang mengembang dalam hitungan milidetik, ada sistem yang diam-diam menahan mobil supaya enggak selip di tikungan. Semua fitur yang sekarang dianggap remeh itu ternyata berawal dari laboratorium riset satu perusahaan yang sama, Mercedes-Benz.

Dalam rangkaian perayaan 140 Years of Innovation di GIIAS 2026, Mercedes-Benz Indonesia sengaja mengangkat cerita di balik lima teknologi keselamatan yang lahir lebih dulu dari pabrikan asal Jerman ini sebelum akhirnya diadopsi hampir seluruh industri otomotif dunia. Ceritanya dimulai jauh sebelum istilah ADAS atau active safety jadi bahan promosi brosur penjualan.

Titik baliknya ada di tangan Béla Barényi, insinyur Mercedes-Benz yang mematenkan konsep crumple zone pada 1951. Idenya sederhana tapi radikal untuk masanya, yaitu membiarkan bagian depan dan belakang mobil hancur secara terkendali supaya energi benturan terserap sebelum sampai ke kabin penumpang, sementara sel penumpang di tengah dibuat sekaku mungkin. Prinsip itu baru benar-benar diproduksi massal pada 1959 lewat Mercedes-Benz seri 111 yang dikenal dengan julukan Fintail, dan sampai sekarang jadi fondasi desain keselamatan pasif di hampir semua mobil produksi.

Dari urusan bodi, cerita berlanjut ke rem. Mercedes-Benz jadi pabrikan pertama yang memperkenalkan Anti-lock Braking System (ABS) versi digital dan elektronik lewat S-Class seri 116 pada 1978. Sebelum ABS ada, roda yang terkunci saat pengereman mendadak bikin mobil cuma bisa meluncur lurus tanpa bisa dikendalikan arahnya. Dengan ABS, pengemudi tetap bisa membelokkan setir untuk menghindar sekaligus mengerem penuh di saat bersamaan, sesuatu yang sebelumnya mustahil dilakukan secara refleks oleh kebanyakan orang.

Tiga tahun berselang, giliran urusan penumpang yang dibenahi. Riset soal sistem penahan tambahan alias supplementary restraint system sebenarnya sudah dijalankan Mercedes-Benz sejak 1968, dan hasilnya baru terlihat pada 1981 saat S-Class jadi mobil produksi pertama di dunia yang memasangkan driver airbag dengan seatbelt pretensioner sebagai satu paket. Kombinasi ini bikin sabuk pengaman otomatis menegang lebih dulu saat sensor mendeteksi benturan, baru airbag mengembang untuk meredam sisa energi yang mengarah ke kepala dan dada pengemudi. Fitur ini kemudian menyebar ke seluruh lini model Mercedes-Benz, sebelum airbag penumpang depan menyusul pada 1987 dan airbag samping pada 1995.

Di tahun yang sama dengan hadirnya airbag samping, Mercedes-Benz bersama Bosch merampungkan pengembangan Electronic Stability Program (ESP). Sistem ini resmi diperkenalkan pada Februari 1995 lewat S-Class seri 140, bekerja dengan cara membaca sudut setir, kecepatan roda, dan gerakan mobil secara real time lewat sensor, lalu secara otomatis mengerem salah satu roda tertentu untuk membantu mobil tetap di jalurnya begitu ada indikasi selip atau kehilangan traksi. ESP kemudian berkembang jadi salah satu syarat wajib di banyak regulasi keselamatan kendaraan berbagai negara.

“Banyak inovasi yang hari ini kita anggap sebagai hal yang biasa di sebuah mobil sebenarnya berawal dari Mercedes-Benz,” kata Donald Rachmat, CEO Mercedes-Benz Indonesia, saat menjelaskan latar belakang tema 140 Years of Innovation yang diusung pabrikannya di GIIAS 2026.

Rangkaian riset keselamatan itu memuncak lewat PRE-SAFE yang diperkenalkan pada 2002. Bedanya dengan teknologi sebelumnya, PRE-SAFE dirancang bekerja sebelum benturan benar benar terjadi. Sistem ini membaca gejala gejala kecelakaan seperti pengereman mendadak, gerakan menghindar yang tiba tiba, atau potensi selip, lalu secara otomatis mengencangkan sabuk pengaman, menutup jendela dan sunroof, serta menyesuaikan posisi jok supaya penumpang berada di posisi paling siap begitu benturan tak terhindarkan. Konsep ini kerap disebut sebagai cikal bakal dari filosofi keselamatan prediktif yang sekarang jadi arah pengembangan hampir semua fitur ADAS di industri otomotif.

Kalau ditarik garis lurus, pola yang muncul dari crumple zone sampai PRE-SAFE ini cukup konsisten. Mercedes-Benz berulang kali memilih membenamkan teknologi baru lebih dulu ke mobil produksinya, menanggung risiko riset dan biaya pengembangan sendirian, sebelum akhirnya teknologi tersebut turun ke segmen yang lebih luas dan berhenti jadi fitur eksklusif.