Satu hal yang luput dari sorotan soal debut Hongqi di Indonesia adalah siapa yang sebenarnya menggambar wajah SUV listrik E-HS9.

Nama itu adalah Giles Taylor, desainer asal Inggris yang sebelumnya menjabat Director of Design di Rolls-Royce Motor Cars. Fakta ini menarik karena bukan cerita umum sebuah merek otomotif Tiongkok yang punya sejarah sebagai kendaraan kenegaraan justru menyewa arsitek desain dari salah satu produsen mobil mewah paling eksklusif di dunia.

Latar belakang Taylor di Rolls-Royce bukan cuma soal nama besar. Selama bertahun-tahun dia yang bertanggung jawab menerjemahkan bahasa desain klasik Inggris ke bentuk modern, sesuatu yang butuh kepekaan tinggi terhadap detail dan proporsi. Kini kepekaan itu dia bawa ke Hongqi, merek yang justru berakar dari estetika Timur dan filosofi budaya Tiongkok. Perpaduan dua dunia desain yang jauh berbeda ini yang akhirnya melahirkan pendekatan yang disebut Hongqi sebagai Neo-Chinese Luxury.

Di E-HS9, pendekatan itu terlihat lewat konsep proporsi Taihe. Istilah ini merujuk pada harmoni dan keseimbangan, dua nilai yang dalam budaya Timur sering dikaitkan dengan kestabilan dan kewibawaan. Bukan kebetulan kalau dimensi E-HS9 dibuat besar dan panjang, dengan wheelbase yang lega untuk mengakomodasi kabin berkapasitas enam sampai tujuh penumpang. Kesan lapang dan megah ini jadi bagian dari cara Hongqi menerjemahkan status sosial lewat ruang, bukan cuma lewat logo.

Elemen paling mencolok tetap ada di bagian depan, lewat waterfall grille yang mengambil inspirasi dari pegunungan dan aliran air. Bentuknya mengalir turun seperti air terjun, sebuah metafora visual yang jarang dipakai merek mobil kebanyakan. Garis merah ikonik yang membentang di beberapa titik bodi juga bukan sekadar aksen warna, melainkan representasi dari filosofi yang Hongqi sebut Shang Zhi Yi, semacam penghormatan lewat estetika.

Menariknya, pendekatan desain yang matang ini juga merembet ke sektor performa. Anthony Susanto, Brand Manager Hongqi Indonesia, menyebut E-HS9 dibekali sistem dual motor electric AWD yang menghasilkan output tenaga terbesar di kelasnya. “Performa dari output-nya, E-HS9 menawarkan salah satu power terbesar di kelasnya, dipadukan dengan sistem dual-motor electric AWD yang mampu menghasilkan akselerasi responsif,” ujarnya.

Baterainya sendiri diklaim berkapasitas besar dengan jarak tempuh yang kompetitif untuk kelas SUV listrik premium, meski Hongqi belum merilis detail angka kapasitas baterai maupun jarak tempuh presisi untuk pasar Indonesia. Pendekatan wait and see ini cukup umum dilakukan merek yang baru masuk pasar baru, biasanya angka resmi menyusul mendekati waktu penjualan.

Yang bikin desain E-HS9 makin punya bobot cerita adalah filosofi keselamatan yang mereka sebut mobile fortress. Konsep ini bukan cuma soal struktur bodi yang kokoh, tapi juga warisan dari pengalaman Hongqi puluhan tahun mengangkut pejabat negara, di mana keamanan penumpang jadi prioritas nomor satu sejak proses desain awal. Kombinasi antara sentuhan desain ala Rolls-Royce dan filosofi proteksi khas kendaraan kenegaraan inilah yang membuat E-HS9 terasa beda dibanding SUV listrik Tiongkok kebanyakan yang lebih fokus ke fitur digital semata.

Kehadiran sosok seperti Giles Taylor di balik layar juga jadi sinyal bahwa Hongqi serius membangun citra premium global, bukan cuma mengandalkan cerita sejarah kenegaraan sebagai jualan utama. Dalam industri otomotif, nama desainer kerap jadi penentu apakah sebuah merek dianggap punya kredibilitas desain internasional atau tidak, dan Hongqi tampaknya sadar betul soal ini.