BYD belum lama ini merilis model baru di Jepang bernama Racco, resmi dijual sejak 28 Juli 2026. Hebatnya, hanya dalam dua minggu pertama saja pesanannya sudah tembus 1.000 unit. Perusahaan menyebut ini sebagai pencapaian tercepat dibanding model apa pun yang pernah mereka luncurkan di pasar Negeri Sakura.

Angka itu tak main-main kalau mengingat sejak masuk Jepang tahun 2023 dengan empat model EV, total penjualan BYD di sana baru sekitar 6.600 unit saja. Racco datang dan langsung mengalahkan rekor lama mereka sendiri.

Racco sendiri statusnya spesial. Ini bukan model global BYD yang dikecilkan supaya muat pasar Jepang, tapi memang dirancang dari nol untuk masuk kategori kei car, kelas mobil mungil yang jadi ceruk paling dijaga ketat industri otomotif Jepang. BYD jadi pabrikan non Jepang pertama yang berhasil membuat kei car dari awal desain, bukan sekadar adaptasi.

Dimensi dan Dapur Pacu

Dimensi Racco persis pas di batas atas aturan kei car, panjang 3.395 mm, lebar 1.475 mm, tinggi 1.800 mm, dengan wheelbase 2.500 mm dan radius putar 4,8 meter. Bobotnya berkisar 1.160 sampai 1.230 kg tergantung varian, dengan kabin muat empat orang dan bagasi 280 liter yang bisa membesar sampai 1.372 liter kalau jok belakang dilipat.

Bodinya mengusung gaya super tall wagon dengan pintu geser elektrik di kedua sisi, format bodi yang menurut BYD sendiri jadi format paling laris di kelas kei car Jepang. Sejauh ini belum ada versi elektrik dari pabrikan lain yang menggabungkan format itu secara utuh, jadi Racco praktis sendirian di ceruk ini.

Jantung mekanisnya satu motor listrik permanent magnet synchronous yang dipasang di depan, menghasilkan 47 kW atau 63 PS dengan torsi 160 Nm di semua grade. Klaim akselerasi 0-100 km per jam ada di kisaran 14 sampai 15,2 detik tergantung baterai yang dipakai, jelas bukan mobil buat kebut-kebutan tapi cukup untuk lalu lintas kota dengan karakter stop and go.

Baterai dan Platform

Racco pakai baterai Lithium Ferro-Phosphate (LFP) dengan teknologi Blade Battery khas BYD, yang diintegrasikan langsung ke struktur bodi lewat metode cell to body (CTB). Grade entry Racco 200 dibekali baterai 22,4 kWh dengan jarak tempuh 210 km berdasarkan angka pengujian resmi Kementerian Transportasi Jepang. Dua grade di atasnya, 300 Plus dan 300 Premium, memakai baterai lebih besar 35,84 kWh yang mendorong jarak tempuh sampai 320 km.

Pengisian daya memakai port AC Type 1 yang ditempatkan di spatbor depan kanan, dengan kecepatan isi ulang 3 kW untuk baterai kecil dan 6 kW untuk baterai besar. Ini khas kei car yang memang dirancang untuk isi daya semalaman di rumah, bukan fast charging di SPKLU.

Yang bikin Racco terasa beda dari kei car kebanyakan ada di balik platformnya. BYD membangun sasis baru berbasis platform EV global mereka, e-Platform 3.0, dikombinasikan dengan arsitektur baru bernama X-PACK yang mengintegrasikan baterai, unit kontrol elektronik, unit gabungan DC-DC converter dan onboard charger, unit distribusi tegangan tinggi, hingga unit kontrol PTC dan AC, semuanya dijejalkan menyatu di dalam paket baterai. Tujuannya sederhana, membebaskan ruang di area depan mobil untuk menyerap energi benturan, sesuatu yang jadi tantangan besar buat kei car ber-ICE karena ruang mesinnya sempit.

Sekitar 70 persen pelat baja berkekuatan tinggi dipakai di sasis, dan atap serta panel samping disambung pakai las laser ala mobil mewah, bukan spot welding biasa, supaya kekakuan bodi tetap terjaga meski bentuknya tinggi dengan pintu geser di dua sisi. BYD juga mengklaim baterai Blade mereka lolos uji tusuk paku dan uji hubung pendek multi sel tanpa memicu kebakaran atau ledakan, dengan suhu baterai tetap di bawah 40 derajat Celsius bahkan saat menerima uji benturan setara 1.000 joule. Target akhirnya jelas, Racco dirancang untuk bisa meraih nilai tertinggi di J-NCAP, program penilaian keselamatan mobil baru versi Jepang, sesuatu yang cukup ambisius untuk kelas kei yang secara historis memang lebih rentan di uji tabrak dibanding mobil biasa karena ukurannya yang mungil.

Fitur di Kabin

Interior Racco mengusung layar sentuh mengambang 10,25 inci, panel instrumen digital sekitar 8 inci, dan sederet tombol fisik serta roller untuk pengaturan AC, volume, mode berkendara, sampai kursi berpemanas. Jadi tidak semua kontrol dijejalkan ke layar sentuh saja. Kursi depan bisa disetel empat arah, jok belakang model bangku terbagi 40 banding 60, ditambah laci penyimpanan di dasbor, sarung tangan, cup holder, colokan 12V, USB-A, dan USB-C, sampai gantungan kacamata di tempat biasanya ada handle pegangan penumpang depan. Jendela dibuat tinggi dan ramping dengan kaca kecil tambahan di pilar depan dan belakang, strategi klasik kei car supaya visibilitas tetap luas meski bodinya kotak dan tinggi.

Fitur paling menarik justru bukan di kabin, tapi klaim BYD bahwa Racco adalah kei car berbasis software defined vehicle (SDV) pertama di dunia. Lewat pembaruan OTA, software di mobil bisa terus diperbarui layaknya smartphone, jadi pemilik tidak akan merasa mobilnya ketinggalan zaman begitu model baru keluar. Semua grade Racco juga sudah dibekali kemampuan V2H dan V2L, alias bisa jadi sumber listrik cadangan untuk rumah saat pemadaman atau menyalakan peralatan elektronik sampai 1.500 watt. Di negara langganan gempa dan bencana seperti Jepang, fitur semacam ini bukan gimmick, tapi nilai jual serius.

BYD juga membungkus penjualan Racco dengan tiga paket yang mereka sebut Racco Raku (raku dalam bahasa Jepang berarti nyaman atau praktis).

Paket pertama garansi jangka panjang, mencakup garansi umum kendaraan 6 tahun atau 150.000 km, komponen vital penggerak dan pengereman 6 tahun atau 150.000 km, komponen tegangan tinggi EV 8 tahun atau 160.000 km, serta garansi kapasitas baterai 8 tahun atau 160.000 km dengan syarat kapasitas awal masih di atas 70 persen. Garansi baterai ini bisa diperpanjang sampai 10 tahun atau 200.000 km dengan biaya tambahan 18.000 yen.

Paket kedua skema cicilan balloon payment bernama Racco Raku Plan lewat perusahaan pembiayaan JACCS, dengan simulasi cicilan mulai 19.300 yen per bulan untuk grade termurah. Paket ketiga ya klaim SDV tadi.
Ketiga paket ini jelas dirancang untuk meredam kekhawatiran konsumen Jepang yang masih ragu soal daya tahan baterai EV jangka panjang.

Harga Jual

BYD melepas Racco dalam dua model dan tiga grade. Racco 200 dibanderol 2.145.000 yen, Racco 300 Plus 2.398.000 yen, dan Racco 300 Premium di posisi teratas 2.497.000 yen, semua harga sudah termasuk pajak. Pemerintah Jepang lewat skema subsidi CEV memberi potongan rata 150.000 yen untuk semua model dan grade, sehingga harga efektifnya turun jadi 1.995.000 yen, 2.248.000 yen, dan 2.347.000 yen.

Kalau dikonversi kasar dengan kurs yen ke rupiah yang saat artikel ini ditulis ada di kisaran Rp 112 per yen, harga sebelum subsidi tadi setara sekitar Rp 240 jutaan untuk grade termurah sampai Rp 280 jutaan untuk grade termahal. Angka ini murni harga jual di Jepang dan belum memperhitungkan pajak impor, bea masuk, atau biaya homologasi kalau seandainya mobil ini didatangkan ke negara lain.

Data penjualan dua minggu pertama juga cukup menarik untuk dibaca. Dari seluruh pesanan yang masuk, 80 persen jatuh ke grade termahal Racco 300 Premium, hanya 14 persen ke Racco 300 Plus, dan sisa 6 persen ke Racco 200. Konsumen yang membeli Racco sebagai kendaraan pengganti mobil lama porsinya 35,7 persen, sebagai tambahan kendaraan di rumah 37,5 persen, dan pembeli baru murni 26,8 persen. Soal kesiapan infrastruktur, 55,4 persen pembeli mengaku sudah punya charger EV di rumah, sisanya belum.

Pola ini menunjukkan Racco lebih banyak diserap konsumen yang memang sudah akrab dengan ekosistem EV, bukan murni penetrasi pasar baru, meski tetap jadi modal awal yang solid buat BYD di segmen yang selama ini seret buat mereka.