Ketika modifikasi mobil diesel mulai terlihat seragam, bukan berarti kreativitasnya menurun. Lebih tepat dibaca sebagai homogenisasi estetika, sebuah gaya berhasil menjadi referensi, lalu direplikasi karena dianggap paling proporsional, aman, dan relevan dengan karakter mobil. Akibatnya, arah sebuah modifikasi semakin mudah diprediksi. Bukan karena semua pemilik berpikir sama, tetapi karena pilihan visual yang tersedia dan dianggap tepat semakin mengerucut.
Proses ini diperkuat oleh komunitas, industri aftermarket, dan media sosial. Hasil modifikasi yang menarik perhatian menjadi benchmark, benchmark melahirkan imitasi, lalu imitasi membentuk standar baru. Di sini muncul paradoks individualisme, dimana setiap pemilik tetap punya alasan personal, tetapi ekspresinya menggunakan bahasa visual yang relatif sama. Modifikasi masih personal, hanya saja kosakatanya semakin terbatas.

OFF.
Bukan berarti keluar dari segala sesuatu yang sudah dikenal. Justru ketika sebuah bahasa visual mulai memiliki pakem, menarik untuk melihat apa yang terjadi ketika seseorang memilih sedikit bergeser dari sana. Tidak untuk menjadi berbeda demi perbedaan, tetapi untuk menemukan kemungkinan yang tidak muncul ketika semua orang berbicara dengan kosakata yang sama.

Menariknya, kondisi seperti ini biasanya membuka fase baru, tentang pencarian terhadap pendekatan yang keluar dari template. Bukan berarti gaya yang sudah mapan harus ditinggalkan, tetapi ketika hasil akhirnya sudah bisa ditebak sejak awal, ruang eksplorasi justru berada pada hal-hal yang belum memiliki formula. Di titik itu, modifikasi kembali menjadi eksperimen. Bukan sekadar penyempurnaan dari resep yang sudah dikenal.


Pada tren modifikasi mobil diesel di Tanah Air, proses itu terlihat cukup jelas khususnya pada Pajero Sport, Fortuner, hingga Innova. Referensi Thailand, kultur VIP Jepang, stance, hingga Surabaya Style saling bertemu, kemudian berkembang menjadi bahasa modifikasi yang semakin mudah dikenali. Velg, fitment, stance, body treatment, lighting hingga peningkatan performa berulang dalam kombinasi yang berbeda-beda. Platformnya memang berbeda, tetapi referensi visualnya mulai beririsan. Yang menarik bukan siapa yang meniru siapa, melainkan bagaimana sebuah selera bisa berpindah dari satu model ke model lain lalu perlahan dianggap sebagai bahasa yang tepat untuk mobil diesel.

Karena itu, mungkin fase berikutnya bukan mencari gaya baru, melainkan mencari kemungkinan baru. Ketika 3 sub aliran diesel tadi sudah menjadi kosakata bersama, eksplorasi justru dimulai dari keberanian menyusun kalimat yang berbeda.

MENYIMPANG.
Bukan dalam arti salah arah. Bukan pula sekadar mengambil posisi berlawanan. Menyimpang di sini adalah keberanian untuk tidak berhenti pada apa yang sudah terbukti bekerja. Ketika sebuah gaya sudah memiliki formula, selalu ada ruang untuk mengambil satu langkah ke samping dan melihat apa yang mungkin ditemukan dari sana.

Seperti yang dilakukan Rian!
Di tengah tren diesel yang masih banyak mengambil Thailand look, Rian memilih clean look ala Jogja Style untuk Pajero Dakar Ultimate 2022 miliknya. Padahal Rian di Sumatera Barat, sedangkan modifikatornya, Topan dari Godwheels Company, malah membuka bengkel di Yogyakarta. Malah cocok, sebab titik berat proyek ini justru berada di kaki-kaki, yang menjadi keahlian dari Topan. Dengan landasan: konstruksi direka ulang agar perubahan ride height, pergerakan roda dan geometri tetap terkontrol.

Di depan, upper arm, lower arm dan rumah geometri dibuat custom. Tujuannya bukan sekadar mendapatkan posisi rendah, tetapi mengatur perubahan geometri ketika suspensi bekerja. Di belakang, lower arm dibuat custom, sudut gardan disesuaikan, jembatan chassis diubah dan menggunakan Watts Link. Seluruhnya dipadukan dengan Air BFT Bolt On dan management.
Konfigurasi tersebut kemudian dipasangkan dengan SSR Koenig Special 20 inci, lebar 9,5 inci di depan dan 10,5 inci di belakang. Sistem pengereman juga ditingkatkan menggunakan Brembo 6-pot di depan dan 4-pot di belakang. Jadi, stance pada Pajero ini bukan sekadar persoalan roda masuk ke fender, tetapi hasil dari konstruksi kaki-kaki, geometri, suspensi, roda dan pengereman yang dirancang sebagai satu sistem.
Menariknya, Rian tidak berhenti pada workshop atau event. Pajero ini dibawa sendiri dari Jogja menuju Bandung, Merak, Bakauheni, Palembang, Jambi, Pekanbaru, lalu mengikuti Sumatera Bersatu Vol. 2 melewati Kelok 9, Bukittinggi, Danau Singkarak, Sitinjau Lauik, Padang, dan Mandeh sebelum kembali ke rangkaian rute Sumatera Barat-Riau. Total perjalanan berada di kisaran 2.300-2.400 kilometer.


Di lintasan tersebut, angka sekitar 20 cm pada bagian bawah shockbreaker terhadap aspal menjadi bagian dari realitas berkendara. Lintas timur, misalnya, menghadirkan permukaan dengan gelombang, tonjolan dan perubahan kontur yang memaksa pengemudi menyesuaikan ride height dan cara membawa mobil. Di sinilah modifikasi kaki-kaki mendapat konteks yang tidak bisa diberikan oleh lantai workshop.


Karakter jalan kemudian berubah lagi ketika memasuki Kelok 9, Bukittinggi dan Sitinjau Lauik. Suspensi udara, konstruksi custom dan geometri roda harus menghadapi kondisi yang berbeda dari jalan tol maupun lintasan lurus. Perjalanan tersebut membuat modifikasi tidak lagi hanya dinilai dari posisi mobil saat parkir, tetapi dari bagaimana seluruh konstruksi bekerja ketika roda benar-benar bergerak menempuh jarak jauh.

Di titik ini, Pajero Rian benar-benar menjadi OFF dari template. Bukan karena tampilannya paling ekstrem, melainkan karena seluruh pendekatannya bergerak sedikit keluar dari kebiasaan: clean look sebagai pilihan visual, konstruksi kaki-kaki sebagai eksperimen teknis, lalu jalan raya sebagai tempat untuk menguji semuanya.

Itulah yang membuat Pajero Rian menarik sebagai sebuah eksperimen. Custom upper arm, lower arm, rumah geometri, Watts Link, penyesuaian gardan, AirBFT, wheel fitment dan peningkatan pengereman bukan lagi sekadar daftar part. Semuanya dibawa keluar dari workshop dan dipaksa bekerja dalam perjalanan ribuan kilometer dengan kondisi jalan yang berubah-ubah.
Dalam konteks itulah “laboratorium modifikasi berjalan” menjadi relevan. Rian tidak sedang membuktikan bahwa clean look lebih benar daripada Thailand look. Ia hanya mengambil jalur berbeda, lalu mengujinya dalam penggunaan nyata. Ketika sebuah konsep modifikasi berani dibawa dari Jogja menuju Pekanbaru hingga Padang, jalan raya menjadi bagian dari proses pengembangannya. Bukan sekadar tempat mobil dipamerkan, tetapi tempat modifikasi mendapatkan jawabannya. ![]()
Workshop:
Godwheels Company @godwheelscompany
Data Mods:
Fully custom front suspension, custom upper arms, custom lower arms, custom geometry housing, revised suspension geometry, controlled camber change throughout suspension travel, fully custom rear suspension, custom lower arms, revised differential angle, modified chassis crossmember, custom Watts Link suspension, SSR Koenig Specials 20x(9.5+10.5) inches, Brembo 6-piston front brakes, Brembo 4-piston rear brakes, Air BFT Bolt-On air suspension with management, F55 VGT turbocharger, ECU remap, Crescendo speaker, Steg & Helix audio system, Pioneer head unit, full Beebot lighting setup, carbon race display steering wheel




























