Aprilia Racing menutup MotoGP Aragon dengan Marco Bezzecchi di podium dan Jorge Martin di posisi kelima. Bezzecchi bahkan mengawali balapan dari pole position setelah mencetak rekor lap 1:44.962, sementara Martin start dari posisi kelima. Pada akhirnya, Marc Marquez memenangkan balapan di depan Pedro Acosta dan Bezzecchi, dengan Martin mengamankan P5.

Hasil ini menarik karena Aprilia tidak datang ke Aragon dalam kondisi yang sepenuhnya ideal. Karakter MotorLand memang bukan yang paling menguntungkan bagi RS-GP26, Bezzecchi masih berhadapan dengan persoalan fisik, sementara Martin membutuhkan waktu lebih panjang untuk mendapatkan feeling yang tepat dengan motornya. Namun, dua motor pabrikan Aprilia tetap berada di lima besar.

Setidaknya ada tiga hal yang harus mereka lewati sepanjang weekend tersebut.

1. Karakter Aragon Kurang Bersahabat
Aprilia sendiri mengakui bahwa Aragon bukan salah satu sirkuit yang paling menguntungkan bagi mereka. Karakter trek yang teknis membuat tuntutan terhadap motor cukup tinggi, sementara Ducati kembali menunjukkan kecepatannya di MotorLand. Marc Marquez akhirnya memenangkan Sprint dan race utama, menjadikan Ducati sebagai benchmark yang sulit dilewati sepanjang weekend.

Meski begitu, performa Bezzecchi sejak Jumat menunjukkan bahwa Aprilia mampu menemukan kecepatan yang dibutuhkan. Ia menjadi yang tercepat dalam practice, mencetak rekor baru 1:45.455, lalu kembali memecahkan rekor tersebut saat kualifikasi dengan catatan 1:44.962. Bezzecchi menjadi satu-satunya rider yang berhasil menembus angka 1 menit 45 detik dan membawa Aprilia ke pole position.

Masalahnya kemudian bergeser dari kecepatan satu lap ke konsistensi dalam jarak balapan. Bezzecchi sempat terlibat dalam persaingan di depan, tetapi akhirnya harus menyerahkan posisi kedua kepada Acosta dan menyelesaikan race di P3. Jadi, Aprilia memang belum mampu mengubah pole menjadi kemenangan, tetapi tetap menunjukkan bahwa RS-GP26 punya pace untuk bertarung di kelompok terdepan.

2. Bezzecchi Balapan dengan Kendala Fisik
Kondisi fisik menjadi persoalan lain yang tidak bisa dilepaskan dari performa Bezzecchi. Sebelum Aragon, Aprilia sudah menyebut bahwa rider Italia tersebut masih merasakan dampak cedera yang dialaminya di Sachsenring. Di Aragon, persoalan itu kembali terasa dan membuat akhir pekannya tidak berlangsung dalam kondisi fisik yang sepenuhnya ideal.

Namun Bezzecchi justru menjalani salah satu weekend terbaiknya bersama Aprilia. Pole position kemudian diikuti podium pada Sprint, sebelum kembali finis ketiga pada race utama. Aprilia bahkan mencatat podium Sprint pertamanya di Aragon melalui Bezzecchi.

Yang menarik adalah konsistensinya. Dalam situasi ketika kondisi fisik menjadi salah satu variabel, Bezzecchi tetap mampu mempertahankan kecepatannya sejak kualifikasi hingga balapan utama. Ia memang belum mendapatkan kemenangan, tetapi dua podium dan pole position menunjukkan bahwa persoalan Aprilia di Aragon bukan kekurangan kecepatan semata.

3. Martin Belum Menemukan Feeling Terbaik
Persoalan Martin berbeda. Ia tidak mengalami weekend sekuat rekan setimnya dalam hal kecepatan, terutama pada awalnya. Pada FP1, Martin hanya berada di posisi ke-18 sebelum melakukan perbaikan besar pada sesi sore dan menutup practice di posisi ketujuh. Aprilia mencatat bahwa feeling dengan RS-GP26 datang secara bertahap sepanjang hari.

Situasi tersebut berlanjut ke balapan. Martin mengatakan sensasi yang dirasakan saat race masih cukup mirip dengan Sprint, meskipun ia merasa tim terus membuat kemajuan. Bahkan fast lapnya justru datang di bagian akhir race, sebuah indikasi bahwa ia masih terus menemukan cara untuk mendapatkan performa terbaik dari motornya.

Dalam kondisi seperti itu, P5 menjadi hasil yang penting. Martin tidak kehilangan posisi di puncak klasemen dan mengakhiri Aragon dengan 256 poin. Namun jaraknya dengan Marc Marquez kini hanya 19 poin setelah rider Ducati tersebut mengambil kemenangan maksimal sepanjang weekend.

Dari Aragon, Aprilia setidaknya mendapatkan dua gambaran berbeda. Bezzecchi membuktikan bahwa RS-GP26 mampu menghasilkan kecepatan untuk menantang barisan depan, bahkan di trek yang tidak dianggap ideal bagi Aprilia. Martin menunjukkan sisi lainnya, ketika feeling belum sepenuhnya datang, motor tersebut masih cukup kompetitif untuk membawanya pulang di posisi kelima dan mempertahankan kepemimpinan klasemen.

Karena itu, P3 Bezzecchi dan P5 Martin tidak bisa dilepaskan dari tiga persoalan yang mereka hadapi sepanjang weekend. Aprilia belum sempurna di Aragon, tetapi mereka berhasil memaksimalkan paket yang tersedia. Setelah ini, tantangan berpindah ke Misano pada 11-13 September, dengan Aprilia kembali menghadapi balapan kandang di depan pendukung Italia.