Rangkaian MAXi Yamaha Day 2026 akhirnya sampai di penghujung jalan. Yamaha memilih Mataram, Nusa Tenggara Barat, dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan sebagai dua kota penutup gelaran tahun ini pada 29 Agustus lalu. Keduanya berlangsung serentak dengan cara yang sama-sama meriah meski membawa cerita yang berbeda.
Buat komunitas MAXi Yamaha, acara ini sudah bukan sekadar kopdar tahunan. Selama beberapa tahun terakhir, MAXi Yamaha Day berkembang jadi ruang tempat pengguna dari berbagai daerah saling kenal, sekaligus jadi ajang unjuk gigi lewat modifikasi motor masing masing. Tahun ini formatnya sedikit berbeda karena Yamaha menyisipkan agenda sosial yang punya bobot lebih dari sekadar seremoni.
Tintan Gunawan, Chief Yamaha Area Teritori IV yang membawahi Jawa Timur, NTT, dan NTB, menyebut gelaran perdana MAXi Yamaha Day di Mataram jadi bukti bahwa motor MAXi sudah menyatu dengan gaya hidup penggunanya.
“Acara ini menjadi bukti bahwa MAXi Yamaha bukan hanya sekadar motor, namun juga telah menjadi bagian dari gaya hidup yang mampu membangun semangat solidaritas dan kebersamaan. Tahun ini, semangat tersebut tidak hanya kami terjemahkan dalam aneka keseruan. Namun, kami pun juga turun langsung membantu upaya penanggulangan bencana kebakaran Desa Adat Sade melalui kegiatan CSR,” ujar Tintan.

Di Mataram, peserta lebih dulu singgah ke Desa Adat Sade untuk menyerahkan donasi. Desa wisata yang dikenal dengan rumah rumah adat khas Suku Sasak ini sempat dilanda kebakaran. Penyerahan bantuan yang diinisiasi YRFI NTB tersebut jadi bentuk kepedulian komunitas terhadap pemulihan sekaligus pelestarian warisan budaya setempat.

Baru setelah agenda sosial itu rampung, ratusan pengguna MAXi Yamaha dari berbagai titik di Mataram menyatukan diri dalam rolling city menuju Lapangan Lanud Rembiga, lokasi utama acara. Barisan motor yang melintas jadi tontonan tersendiri buat warga kota, apalagi banyak di antaranya sudah dimodifikasi habis habisan lewat kompetisi CustoMAXi yang jadi salah satu daya tarik event ini.

Sesampainya di venue, suasana makin hidup dengan sentuhan budaya lokal. Tabuhan Gendang Beleq dan tarian khas Suku Sasak tampil di tengah acara, jadi simbol kebersamaan dan gotong royong yang memang lekat dengan masyarakat NTB. Peserta juga diajak ikut MAXi Fun Run sejauh 5,8 kilometer, sebelum melanjutkan hari dengan test ride, layanan servis gratis lewat MAXi Service, MAXi Games, bazaar, dan panggung hiburan.

Cerita dari Banjarmasin tak kalah semarak. Titik 0 Kilometer kota tersebut jadi lokasi berkumpulnya ratusan pengguna MAXi Yamaha yang membuka acara dengan rolling city, dilanjut dengan rangkaian aktivitas serupa mulai dari touring, atraksi budaya, hingga kompetisi modifikasi. Penampilan artis lokal Banjarmasin ikut menambah keramaian sepanjang acara berlangsung.
Darman, salah satu peserta MAXi Yamaha Day Mataram, mengaku momen yang paling membekas justru bukan konvoi atau kompetisi modifikasi.

“Senang sekali bisa ikut MAXi Yamaha Day tahun ini. Selain bisa touring dan bertemu dengan teman-teman pengguna MAXi Yamaha dari berbagai daerah, aktivitasnya juga banyak dan seru. Yang menarik buat saya adalah kegiatan CSR di Desa Adat Sade yang beberapa waktu lalu mengalami kebakaran. Jadi, acara ini tidak hanya sekadar berkumpul, tetapi juga turut membantu pemulihan dan pelestarian kebudayaan khas masyarakat Pulau Lombok,” katanya. ![]()
