Sebulan sebelum Sumatera Bersatu Vol. 2, DeepEnd kasih challenge ke Osa.
“Lo berani jalan darat? Gua batalin pesawat nih.”
Dan kemudian menyebarlah berita itu.

Sampai akhirnya E 300 Coupe ngikut, 435i ngekor, Pajero nimbrung, bahkan S 400 yang tadinya merengek naik towing luluh lantak dengan sindiran para pemberani. Belakangan, E46 gabung rangkaian sebab ditugaskan untuk ngedrift di banyak titik singgah.

Setelah formasi lengkap, Osa malah mundur.
Dimarahin bapaknya, tak boleh bolos kuliah.

Maka tandemnya, Egi Julwansyah, jadi lone rider. Untuk perjalanan ribuan kilometer ini, ia menyiapkan catatan titik SPKLU dari Bandung hingga Pekanbaru.

Berhasilkah Cunko, panggilan si ungu ini?

Jawabannya baru bisa ditemukan setelah melihat apa yang sebenarnya dibawa Cunko sepanjang perjalanan. Ini bukan sekadar BYD Seal Performance yang dicat ungu lalu diceperkan. Sebagai basis, mobil ini sudah datang dengan dual motor AWD bertenaga 390 kW atau sekitar 523 hp, torsi 670 Nm, baterai Blade 82,56 kWh, serta bobot 2.185 kg. Dengan karakter seperti itu, mengejar tambahan tenaga bukan lagi pekerjaan paling menarik.

Perhatian justru berpindah ke massa, posisi bodi, geometri roda, dan bagaimana seluruh perubahan tersebut tetap bisa bekerja sebagai mobil yang menempuh jarak jauh. F*ck Wheel Dude menjadikan Cunko sebagai proyek untuk menguji setup tersebut dalam kondisi nyata. Sekitar 1.660 kilometer terbentang dari Jl. Laswi, Bandung, menuju Pekanbaru, melewati jalan tol, jalan nasional, dan satu penyeberangan ferry.

 

Kaki-kaki Cunko mengandalkan air suspension Feel Air, dipadukan dengan custom front camber kit racikan F*ck Wheel Dude. Tujuannya bukan sekadar membuat bodi dekat dengan aspal. Pada kendaraan dengan bobot lebih dari dua ton, perubahan ride height ikut mengubah posisi kerja suspensi dan geometri roda. Camber kit memberikan ruang untuk mengoreksi sudut roda depan sesuai kebutuhan fitment, sementara air suspension memungkinkan ketinggian mobil disesuaikan dengan kondisi jalan.

Di bawahnya terpasang MS 1 berdiameter 20 inci, dengan lebar 9,5 inci di depan dan 10,5 inci di belakang. Proporsi tersebut membuat wheel fitment Seal terlihat jauh lebih penuh dan agresif, sekaligus menuntut seluruh komponen bekerja dalam konfigurasi yang saling terkait.

MS 1 kemudian dipasangkan dengan Accelera IOTA EVT berukuran 225/35ZR20 di depan dan 235/35ZR20 di belakang. Sebagai ban yang dikembangkan untuk karakter kendaraan listrik, IOTA EVT harus bekerja menghadapi kombinasi bobot besar, torsi instan, rolling resistance, noise, durability tapak, dan kebutuhan grip.

Profil 35 memberikan sidewall pendek dengan respons kemudi yang lebih langsung, sekaligus menjaga jarak antara fender dan roda tetap rapat ketika mobil diturunkan. Namun pada konfigurasi seperti Cunko, karakter ban tidak bisa dipisahkan dari camber, toe, ride height, lebar pelek, dan suspension travel. Ban merupakan titik kontak terakhir dari seluruh pekerjaan yang dilakukan di bawah bodi.

Itulah mengapa Cunko tidak dibangun dengan prinsip sekadar memasukkan pelek besar ke ruang roda. Lebar pelek, profil ban, posisi roda, perubahan camber, dan rentang ride height membentuk satu konfigurasi yang harus tetap masuk akal ketika mobil bergerak.

Eksteriornya mengikuti pendekatan yang sama. FWD Garage membungkus bodi Cunko dengan Metallic Shadow Purple, sementara ducktail custom mempertegas siluet fastback. Tidak mengubah karakter dasar Seal, treatment tersebut bekerja pada warna, posisi roda, dan proporsi untuk menghasilkan tampilan yang lebih agresif.

Konsekuensi teknis mulai terasa ketika konfigurasi ini meninggalkan lingkungan workshop. Roda 20 inci dengan ban 35-series menghasilkan karakter sidewall dan respons yang berbeda dari setup standar. Diameter roda dan massa unsprung ikut memengaruhi bagaimana roda mengikuti permukaan jalan, sementara sidewall yang lebih pendek mengurangi ruang deformasi ketika melewati kontur.

Air suspension kemudian menjadi lebih dari sekadar perangkat stance. Ketika permukaan jalan menuntut clearance tambahan, ground clearance bisa dinaikkan. Ketika kondisi kembali memungkinkan, mobil dapat diturunkan. Cunko tidak dipaksa menggunakan satu ride height untuk seluruh perjalanan.

Setelah digunakan melewati berbagai karakter jalan dan perubahan ketinggian tersebut, muncul data yang tidak mungkin diperoleh hanya dari workshop. Pada bagian dalam tapak ban depan mulai terlihat kecenderungan keausan yang lebih tinggi. Temuan ini kemudian dibaca bersama konfigurasi camber, posisi roda, ride height, dan karakter gerak suspensi.

Proses alignment menjadi bagian dari pengujian berikutnya. Karena Cunko menggunakan konfigurasi aftermarket yang berbeda dari kondisi standar, penyetelan tidak cukup dibaca dari satu angka pada satu posisi ride height. Dalam proses tersebut ditemukan perbedaan toe sekitar 0,5–0,7 mm antara sisi kiri dan kanan.

Angka pada mesin spooring hanya menggambarkan kondisi statis. Ketika mobil bergerak, control arm dan knuckle mengikuti lintasan masing-masing sepanjang suspension travel. Camber dan toe ikut berubah. Karena itu, respons ban di jalan merupakan hasil dari geometri yang terus bergerak, bukan sekadar angka yang terbaca ketika mobil berada di atas mesin alignment.

Dalam konteks Cunko, pola keausan pada ban depan pun tidak tepat dibaca dengan menunjuk satu komponen sebagai penyebab tunggal. Custom camber kit, air suspension, wheel fitment, geometri suspensi, alignment, profil ban, dan perubahan ride height semuanya ikut menentukan bagaimana contact patch bekerja.

Di sinilah peran IOTA EVT menjadi menarik. Seluruh perubahan tersebut pada akhirnya diterjemahkan melalui tapak ban ke permukaan jalan. Dengan bobot 2.185 kg dan torsi 670 Nm, ban tidak hanya menerima beban kendaraan, tetapi juga harus mempertahankan grip dan kestabilan ketika respons motor listrik datang secara instan. Perjalanan jauh memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana ban dan seluruh setup tersebut bekerja dalam kondisi yang tidak bisa direplikasi oleh satu sesi dyno atau photoshoot.

Cunko juga menunjukkan bahwa modifikasi EV punya pusat eksperimen yang berbeda. Powertrain Seal Performance sudah menawarkan 523 hp dan 670 Nm dari pabrik. Maka pekerjaan menariknya bukan lagi mencari tenaga tambahan, melainkan memastikan tenaga sebesar itu bisa diterjemahkan dengan benar melalui chassis, suspensi, roda, dan ban.

Dan justru perjalanan 1.660 kilometer itulah yang membuat proyek ini bernilai.

Tanpa membawa Cunko keluar dari workshop dan memaksanya melewati ribuan kilometer, pola keausan ban, respons alignment, serta hubungan antara ride height dan geometri roda mungkin tidak pernah terlihat. Semua itu baru muncul ketika mobil digunakan berulang kali, dalam kondisi jalan yang berubah, dengan beban dan suspension travel yang nyata.

Temuan tersebut bukan cacat dalam eksperimen. Itulah hasil eksperimen.

Cunko akhirnya berfungsi sebagaimana sebuah laboratorium berjalan seharusnya: bukan sekadar menghasilkan mobil yang terlihat benar ketika selesai dikerjakan, tetapi mengungkap apa yang terjadi setelah mobil benar-benar digunakan. Data dari perjalanan menjadi dasar untuk membaca ulang setup, melakukan penyempurnaan, dan memahami batas dari konfigurasi yang dipilih.

Maka keberhasilan Cunko bukan karena 1.660 kilometer itu dilalui tanpa persoalan. Justru karena perjalanan itu cukup jauh untuk menemukan persoalan yang sebelumnya tersembunyi, proyek ini berhasil menjalankan fungsi yang sejak awal dibebankan kepadanya.

Laboratorium berjalan itu benar-benar bekerja.