Akio Toyoda tidak lagi menjadi Presiden Toyota Motor Corporation sejak April 2023. Ia kini menjabat Chairman of the Board, setelah memimpin Toyota sebagai presiden selama 14 tahun sejak 2009. Namun perubahan jabatan itu tidak membuatnya jauh dari mobil. Justru setelah melepas posisi eksekutif tertinggi, Toyoda lebih sering tampil melalui dua sisi yang berjalan bersamaan: sebagai chairman yang membawa tanggung jawab terhadap Toyota dan sebagai Morizo, sosok yang sejak lama berada di balik kemudi mobil balap dan mobil pengembangan Toyota.
Karena itu, komentar Toyoda menarik dibaca bukan hanya berdasarkan topiknya, tetapi juga situasi ketika komentar tersebut muncul. Ia pernah berbicara setelah Toyota kalah di Le Mans, tentang keputusan keluar dari F1, mengenai kakeknya Kiichiro Toyoda, pa
ra pekerja industri otomotif Jepang, sampai pengalaman menjalani operasi ketika timnya meraih kemenangan.
Sepuluh komentar berikut dipilih bukan sebagai peringkat, melainkan sebagai sepuluh sisi berbeda dari orang yang sama:
1. THE CAR GUY
“I’m not really the TV guy. I’m a car guy.” Kalimat itu disampaikan Toyoda ketika berbicara kepada Toyota Times pada 2024, setelah satu tahun menjalani peran sebagai chairman. Ia menjelaskan bahwa setelah tidak lagi menjadi presiden Toyota dan chairman Japan Automobile Manufacturers Association, dirinya merasa akhirnya bisa kembali menjadi seorang pria biasa yang mencintai mobil. Di Tokyo Auto Salon 2024, ia bahkan sengaja hadir sebagai Morizo, bukan membawa identitas jabatan korporatnya.
Posisi tersebut bukan sekadar citra. Toyoda bergabung dengan Toyota pada 1984 dan sepanjang kariernya pernah menangani produksi, pemasaran, pengembangan produk, operasi internasional, hingga akhirnya menjadi presiden pada 2009. Di luar ruang rapat, ia juga dikenal sebagai Morizo, nama yang mulai digunakan dalam kegiatan motorsport sejak Nürburgring 24 Hours 2007. Nama tersebut awalnya membantu Toyoda berkompetisi tanpa terlalu membawa beban statusnya sebagai eksekutif, tetapi kemudian menjadi ruang baginya untuk berbicara sebagai pencinta mobil.
2. THE HUMANIST
Dalam pembicaraan mengenai mobilitas, Toyoda beberapa kali mengembalikan pembahasan kepada manusia. Ketika menjelaskan konsep Woven City pada 2020, ia memainkan makna kata “move”: mobilitas memang memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain, tetapi menurutnya kendaraan juga harus mampu “moving people’s hearts”. Bagi Toyoda, teknologi tidak cukup hanya membuat perjalanan lebih efisien; pengalaman manusia tetap menjadi bagian dari tujuan pengembangan mobil.

Pandangan itu juga terlihat dalam gagasannya mengenai generasi berikutnya. Pada Tokyo Auto Salon 2024, ia bercerita tentang membawa anak-anak merasakan suara mesin, bau, debu, dan pengalaman berada di dalam mobil sebagai memori yang menyenangkan. Ia juga mengaitkan industri otomotif Jepang dengan sekitar 5,5 juta orang yang bekerja di garis depannya. Bagi Toyoda, pembicaraan mengenai teknologi dan carbon neutrality tidak dapat dilepaskan dari orang-orang yang kehidupannya terhubung dengan industri tersebut.
3. THE LOSER
Pada 24 Hours of Le Mans 2017, Toyota kembali mengalami kegagalan setelah persoalan teknis membuat peluang kemenangan hilang. Toyoda tidak membuka komentarnya dengan menjelaskan masalah teknis atau menyalahkan keadaan. Ia justru langsung meminta maaf kepada para pembalap karena Toyota tidak mampu memberi mereka kesempatan untuk “drive all out”, setelah sebelumnya ia sendiri meminta mereka mengemudi sepenuhnya dengan kepercayaan kepada mobil dan tim.
Toyoda kemudian mengambil tanggung jawab itu bukan hanya atas namanya sendiri. Ia mengatakan bahwa engineer, mekanik, dan pemasok komponen yang menyiapkan mobil kemungkinan merasakan hal yang sama. Ia juga meminta maaf kepada para penggemar dan memberikan ucapan selamat kepada Porsche, rival Toyota saat itu. Di bagian lain komentarnya, Toyoda menyebut Le Mans sebagai laboratorium penting untuk menguji teknologi dalam kondisi ekstrem sebelum hasil pengembangan tersebut dibawa menuju mobil produksi.
4. THE REGRET
Pada Oktober 2024, ketika Toyota dan MoneyGram Haas F1 Team mengumumkan kerja sama teknis, Toyoda berbicara mengenai sesuatu yang cukup personal: dirinya adalah orang yang pernah memutuskan Toyota keluar dari F1. Ia mengatakan keputusan tersebut membuatnya merasa bahwa anak-anak muda Jepang mungkin kehilangan jalan menuju kesempatan mengemudikan mobil tercepat di dunia. Penyesalan itu datang dari sisi Akio Toyoda sebagai pencinta mobil, bukan dari posisi pengambil keputusan Toyota pada masa tersebut.
Namun Toyoda tidak mengubah sejarah tersebut menjadi pengakuan bahwa keputusan korporasi itu keliru. Dalam komentar yang sama, ia tetap mengatakan bahwa sebagai presiden Toyota ketika itu, keputusan untuk keluar dari F1 menurutnya bukan keputusan yang salah. Yang berubah adalah cara ia melihat dampaknya terhadap generasi berikutnya. Kerja sama dengan Haas kemudian diarahkan antara lain untuk pengembangan pembalap, engineer, dan mekanik, dengan harapan pembalap Jepang suatu hari dapat mencapai level tertinggi motorsport.
5. THE CHAIRMAN
Sebagai chairman, Toyoda mengatakan perannya berbeda dari ketika ia menjadi presiden. Saat menjadi CEO, menurutnya, pemegang jabatan harus melakukan apa yang dibutuhkan perusahaan. Setelah Koji Sato mengambil alih posisi tersebut pada 2023, Toyoda mengatakan ia justru memperoleh kesempatan untuk memilih hal-hal yang menurutnya hanya dapat dilakukan oleh dirinya, termasuk turun tangan ketika Toyota menghadapi krisis atau situasi sulit.

Cara pandang itu terlihat pula dalam visi Toyota Group yang ia sampaikan pada Januari 2024. Di hadapan pimpinan dan pekerja garis depan dari 17 perusahaan dalam Toyota Group, Toyoda memperkenalkan visi “Inventing our path forward, together” dengan lima sikap: menetapkan target tinggi dan peduli secara mendalam, mempercayai serta mengangkat rekan kerja, terus meningkatkan keahlian, mengutamakan kejujuran dan integritas, serta membangun hubungan melalui kolaborasi.
6. THE SON
Hubungan Toyoda dengan Kiichiro Toyoda memiliki tempat khusus dalam cara ia melihat Toyota. Ia tidak pernah bertemu kakeknya karena Kiichiro meninggal sebelum Akio lahir. Namun ketika Toyoda mencapai usia 57 tahun, usia ketika Kiichiro meninggal, ia mengatakan telah membuat tekad untuk mendedikasikan dirinya memulihkan esensi Toyota. Ia mengaku tidak terlalu memedulikan kritik terhadap dirinya selama semakin banyak orang mencintai produk Toyota.
Dalam kesempatan lain, ketika Kiichiro masuk Automotive Hall of Fame, Toyoda menulis pesan sebagai seorang cucu kepada kakeknya. Ia mengingat keputusan generasi pendiri Toyota untuk berpindah dari bisnis mesin tenun menuju industri otomotif ketika hasilnya belum terlihat. Toyoda melihat dirinya bukan hanya sebagai penerus nama keluarga, tetapi sebagai orang yang masih mempunyai pekerjaan untuk meneruskan cita-cita yang dimulai generasi sebelumnya.
7. THE RACER
Hubungan Toyoda dengan dunia balap juga berangkat dari keyakinan bahwa mobil tidak cukup dikembangkan hanya dari ruang desain atau laboratorium. Ia mengatakan prinsip yang diajarkan test driver Toyota Hiromu Naruse kepadanya adalah “roads make cars”. Karena bukan seorang engineer, Toyoda memilih memahami kendaraan dengan cara mengemudikannya sendiri di berbagai kondisi jalan dan berkomunikasi langsung dengan engineer melalui pengalaman tersebut.
Naruse meninggal dalam kecelakaan jalan pada 2010, tetapi prinsip yang diwariskannya tetap menjadi bagian dari cara Toyoda melihat pengembangan kendaraan. Siklus mengemudi, menemukan masalah, memperbaiki mobil, lalu kembali mengemudi kemudian menjadi bagian dari pendekatan Toyota dalam membuat mobil yang lebih baik. Bahkan pada 2026, Toyota menjelaskan bahwa fasilitas pengembangan teknis barunya di Jepang berakar dari pertanyaan Toyoda sekitar 30 tahun sebelumnya tentang mengapa Jepang tidak dapat memiliki pendekatan pengembangan seperti Nürburgring.
8. THE JAPANESE
Toyoda juga sering berbicara tentang industri otomotif Jepang bukan hanya sebagai sektor bisnis, tetapi sebagai ekosistem tenaga kerja dan keahlian. Dalam pesan tahun baru 2024, ia menyebut sekitar 5,5 juta orang berada di garis depan industri otomotif Jepang. Ia menyoroti pekerja yang membuat komponen mesin dan khawatir keterampilan mereka hilang ketika industri bergerak menuju carbon neutrality.

Sikap tersebut menjelaskan mengapa Toyoda tidak melihat transisi menuju carbon neutrality sebagai perlombaan menuju satu jenis teknologi saja. Dalam pesannya, ia menyebut baterai, hybrid, plug-in hybrid, hidrogen, dan mesin sebagai bagian dari pilihan teknologi, dengan karbon sebagai persoalan utama yang harus dikurangi. Ia kemudian mendorong Toyota untuk kembali memperkuat pengembangan mesin, termasuk teknologi mesin hidrogen, karena menurutnya masa depan industri juga harus dibangun bersama orang-orang yang sudah memiliki keahlian di bidang tersebut.
9. THE LEADER
Dalam memimpin Toyota, Toyoda berkali-kali menempatkan perkembangan orang di dalam perusahaan sejajar dengan perkembangan produk. Ketika Toyota menang di Rally Argentina 2018, misalnya, ia menyoroti bagaimana kerusakan berat pada Yaris WRC setahun sebelumnya menjadi pengalaman yang dipakai tim untuk memperbaiki mobil. Ia menyebut pertumbuhan anggota tim dan perkembangan mobil sebagai bagian dari proses yang sama.
Gagasan itu kemudian masuk ke visi Toyota Group yang ia sampaikan sebagai chairman. Lima sikap yang diperkenalkannya tidak berisi target penjualan atau angka produksi, melainkan cara orang bekerja: mempercayai kolega, meningkatkan keahlian, menjaga integritas, dan berkolaborasi. Bagi Toyoda, perusahaan yang besar tidak cukup hanya memiliki teknologi dan modal; kemampuan untuk terus belajar dan bekerja bersama menjadi bagian dari cara perusahaan bertahan.
10. THE MAN
Komentar paling personal justru datang dari Acropolis Rally Greece 2026. Setelah Sébastien Ogier dan Vincent Landais memenangkan rally, Super Sunday, Power Stage, sekaligus meraih poin maksimal, Toyoda juga memberikan selamat kepada Takamoto Katsuta yang finis ketiga. Ia kemudian kembali mengingat percakapannya dengan Ogier ketika Rally Japan dan mengatakan akan senang jika percakapan tersebut ikut memberi sedikit dorongan hingga menghasilkan kemenangan di Yunani.

Di bagian terakhir pesannya, Toyoda mengungkap bahwa dirinya baru menjalani operasi untuk memperbaiki “failure” yang ia sebut secara pribadi dan masih dalam proses pemulihan. Ia tidak menjelaskan kondisi tersebut lebih jauh. Yang ia katakan adalah performa tim seperti kemenangan di Acropolis menjadi “obat” terbaik yang bisa ia minta. Di titik itu, komentar seorang chairman tentang kemenangan tim berubah menjadi pesan seseorang yang sedang menjalani pemulihan dan menemukan energi dari pekerjaan orang-orang di sekelilingnya.

Sepuluh komentar tersebut datang dari waktu, tempat, dan persoalan yang berbeda: ruang rapat Toyota, lintasan Le Mans, F1, Nürburgring, Tokyo Auto Salon, sejarah keluarga, industri otomotif Jepang, hingga paddock WRC. Tidak semuanya berbicara tentang produk dan tidak semuanya lahir dari kemenangan. Justru dari perbedaan konteks itu terlihat bagaimana Akio Toyoda membawa beberapa identitas sekaligus—chairman Toyota, cucu Kiichiro, Morizo, pembalap, pencinta mobil, dan seseorang yang tetap terikat pada orang-orang yang membuat perusahaan itu berjalan.
Pada akhirnya, yang membuat komentar-komentar tersebut menarik bukan karena semuanya terdengar sama. Sebaliknya, cara Toyoda berbicara berubah mengikuti persoalannya: menerima kekalahan, mengakui penyesalan, membicarakan warisan keluarga, mempertahankan pekerja industri, mendorong generasi muda, atau sekadar mengucapkan terima kasih kepada tim ketika dirinya sendiri sedang dalam masa pemulihan. Di situlah sepuluh komentar tersebut menjadi lebih dari sekadar arsip pernyataan seorang chairman Toyota. ![]()










