Archie McDonald tak perlu menang di balapan terakhir untuk menjadi juara. Pembalap Joe Rascal Racing itu justru mengunci gelar perdana FIM Harley-Davidson Bagger World Cup dengan cara yang cukup dingin di Red Bull Ring, Austria.
McDonald datang ke Race 2, Minggu (20/9/2026), dengan keunggulan 21 poin atas Oscar Gutiérrez. Posisi itu didapat setelah dia finis kedua di Race 1, sehari sebelumnya, saat Gutiérrez keluar sebagai pemenang.

Hasil Race 1 sebenarnya cukup menguntungkan McDonald. Eric Granado dan Andrea Iannone yang masih punya peluang mengejar gelar sama-sama gagal finis. McDonald pun tidak perlu mengambil risiko berlebihan untuk mempertahankan jaraknya di klasemen.
Di Race 2, Granado langsung mengambil alih posisi terdepan dan tidak lagi tergoyahkan sampai finis. Pembalap Brasil itu meraih kemenangan keduanya musim ini, diikuti Gutiérrez di posisi kedua dan Kyle Wyman di urutan ketiga.
McDonald finis kedelapan. Bukan hasil yang terlihat spesial kalau hanya melihat daftar posisi finis, tapi delapan poin yang dikantonginya sudah cukup untuk mengamankan gelar juara pertama Bagger World Cup.

McDonald menutup musim dengan 202 poin. Gutiérrez berada di posisi kedua dengan 193 poin, sedangkan Granado di posisi ketiga dengan 192 poin.
Menariknya, Gutiérrez justru menjadi pembalap dengan kemenangan terbanyak sepanjang musim. Rider Niti Racing itu mengoleksi empat kemenangan dan satu pole position. McDonald hanya punya dua kemenangan dan satu pole, tetapi konsistensinya membuat dia tetap berada di jalur perebutan gelar sampai balapan terakhir.

Perjalanan McDonald di balapan ini juga tidak sepenuhnya mulus. Dia sempat mengalami kecelakaan cukup berat di Assen. Namun setelah itu, ritmenya kembali stabil. Di Austria, pendekatannya bahkan terlihat jauh lebih berhitung. Ketika peluang juara sudah terbuka lebar, membawa motor sampai finis menjadi jauh lebih penting daripada memaksakan kemenangan.
Buat Indonesia, nama Dimas Ekky Pratama juga ikut tercatat dalam sejarah musim perdana ini. Pembalap Niti Racing tersebut mengakhiri kejuaraan di posisi ke-10 dengan koleksi 60 poin.
- Dimas Ekky Pratama. Photo; H-D Media Kit
Dimas memang tidak masuk dalam perebutan gelar, tetapi posisinya cukup untuk menempatkan satu nama Indonesia di 10 besar klasemen akhir kejuaraan global yang baru dibentuk Harley-Davidson tersebut.
Yang membuat Bagger World Cup menarik bukan cuma pertarungan klasemennya. Motor yang digunakan juga jauh dari gambaran Harley-Davidson sebagai motor besar untuk cruising.
Harley-Davidson membekali motor balapnya dengan mesin Screamin’ Eagle 131R berkapasitas 2.152 cc. Tenaganya tembus lebih dari 200 hp, sementara sasisnya dikembangkan oleh Harley-Davidson Factory Racing.
Di tangan pembalap seperti McDonald, Gutiérrez dan Granado, motor berbobot besar itu bisa diajak miring sampai 62 derajat. Torsi mesinnya juga disebut mampu membuat roda depan terangkat saat keluar tikungan.

Artinya, Bagger World Cup bukan sekadar parade motor Harley-Davidson di tengah paddock MotoGP. Motor yang secara bentuk masih membawa identitas bagger itu benar-benar dipaksa bekerja sebagai mesin balap.
Musim pertamanya digelar dalam enam seri yang menjadi bagian dari kalender MotoGP, mulai dari Circuit of The Americas, Mugello, Assen, Silverstone, Aragón hingga Red Bull Ring. Dari 12 balapan yang digelar, muncul lima pemenang berbeda.
Buat Harley-Davidson, eksperimen ini akhirnya menghasilkan sesuatu yang lebih serius dari sekadar proyek promosi. Jeffrey Schuessler selaku Director of Global Racing Programs bahkan menyebut musim pertama ini baru menjadi fondasi dan mereka ingin membawa Bagger World Cup ke lebih banyak tim, pembalap, balapan dan pasar pada 2027. ![]()

