Ngomongin BYD M6, sekarang ada dua pilihan. M6 EV yang sepenuhnya bertenaga listrik, dan M6 DM dengan sistem plug-in hybrid.

Menariknya, BYD enggak bikin dua model ini dengan nama yang beda jauh. Keduanya tetap memakai nama M6, hanya menawarkan pendekatan elektrifikasi yang berbeda.

M6 EV sendiri sudah lebih dulu masuk Indonesia sejak 2024. Dari awal, model ini diarahkan sebagai MPV listrik untuk keluarga, dengan pilihan konfigurasi enam dan tujuh penumpang. Kapasitas kabin, ruang kargo, sampai fitur Vehicle-to-Load (V2L) jadi bagian dari paket yang ditawarkan BYD.

Barulah pada Mei 2026, BYD memperkenalkan teknologi DM di Indonesia. M6 DM jadi model pertama yang membawa teknologi tersebut ke pasar Tanah Air, sekaligus memperluas pilihan elektrifikasi BYD yang sebelumnya didominasi kendaraan listrik murni.

Di titik ini perbedaan karakter keduanya mulai terasa. M6 EV cocok buat pola penggunaan yang seluruh energinya berasal dari baterai. Selama kebutuhan perjalanan dan akses pengisian daya sesuai, mobil ini bisa dipakai tanpa perlu mampir ke pom bensin sama sekali.

M6 DM mengambil jalan yang sedikit berbeda. Sistem plug-in hybridnya bikin mobil bisa mengandalkan tenaga listrik untuk kebutuhan tertentu, sementara mesin bensin tetap siap saat dibutuhkan. BYD sendiri memasarkan teknologi DM dengan pendekatan sederhana: bensin bisa, listrik juga bisa.

Pilihan seperti ini masuk akal buat karakter penggunaan MPV keluarga. Mobil jenis ini tak hanya dipakai antar anak sekolah, belanja, atau berangkat kerja di dalam kota. Ada juga kebutuhan bepergian keluar kota dengan penumpang penuh, bawa banyak barang, dan menghadapi rute yang belum tentu punya akses pengisian daya semudah di kawasan perkotaan.

M6 DM jadi cara BYD menjawab kebutuhan itu tanpa harus meninggalkan pengalaman berkendara berbasis listrik. Saat kondisi memungkinkan, sistem elektrifikasinya tetap bisa bekerja dengan tenaga listrik. Begitu perjalanan makin panjang, mesin bensin ikut ambil bagian dalam sistem penggeraknya. Konsep Dual Mode dari BYD ini memang dirancang buat menggabungkan efisiensi energi dengan fleksibilitas perjalanan.

Dari sisi produk, kehadiran M6 DM membuat keluarga M6 punya rentang pilihan yang lebih lebar. Konsumen yang sudah siap sepenuhnya pindah ke mobil listrik bisa ambil M6 EV, sementara yang masih mau membawa mesin bensin sebagai cadangan punya M6 DM.

BYD melihat kebutuhan konsumen keluarga nggak lagi berhenti di soal jenis mesin. Efisiensi, kenyamanan, fitur keselamatan, sampai biaya operasional ikut jadi pertimbangan saat memilih kendaraan. Makanya kehadiran dua sistem penggerak dalam satu keluarga produk jadi cukup relevan buat pasar seperti Indonesia.

Di sisi lain, M6 DM juga bukan sekadar M6 EV yang ditempeli mesin bensin. Sistem penggeraknya memakai teknologi DM generasi kelima BYD, dengan mesin 1,5 liter dan motor listrik sebagai bagian dari sistem plug-in hybrid. M6 DM bahkan dikembangkan khusus untuk kebutuhan pasar Indonesia, dan jadi model yang nggak tersedia di pasar China dengan konfigurasi yang sama.

Dengan dua pilihan ini, nama M6 akhirnya punya dua karakter penggunaan. M6 EV menawarkan pengalaman full electric tanpa mesin pembakaran, sementara M6 DM memberikan opsi elektrifikasi dengan fleksibilitas tambahan untuk perjalanan yang lebih panjang.

Soal banderol, perbedaan keduanya juga cukup lebar. M6 DM dibanderol mulai Rp 298 juta untuk varian dasar Classic Standard sampai Rp 390 juta untuk varian tertinggi Cross Captain Seat, dengan total lima varian yang tersedia yaitu Classic Standard, Classic Dynamic, Cross Advanced, Cross Superior dan Cross Captain Seat.

Sementara itu M6 EV dibanderol mulai Rp 395 juta untuk varian dasar sampai Rp 433 juta untuk varian tertinggi Superior Captain 6-Seater, dengan tiga pilihan varian. Selisih harga ini sejalan dengan posisi M6 DM sebagai opsi yang lebih terjangkau buat konsumen yang belum sepenuhnya siap pindah ke listrik murni.