Sebuah SUV yang di Indonesia dikenal sebagai Geely Starray EM-i baru saja punya saudara kembar yang lahir di benua lain. Di Curitiba, Brasil, mobil dengan basis platform sama justru dijual dengan nama aslinya, Geely EX5 EM-i Super Hybrid, dan pekan ini resmi mulai diproduksi secara lokal di kompleks Ayrton Senna Industrial Complex.

Produksi ini jadi yang pertama bagi mobil Geely di Brasil, hasil kemitraan tiga pihak antara Geely Holding Group, Geely Automobile Holdings, dan Renault Group lewat entitas bernama RENAULT GEELY DO BRASIL. Pabrik yang dipakai bukan fasilitas baru, melainkan kompleks yang sebelumnya sudah dioperasikan Renault, kini ditingkatkan supaya bisa mengimplementasikan arsitektur Global Intelligent Electric Architecture (GEA) milik Geely.

Peningkatan itu bikin fasilitas ini mampu menangani hampir semua jenis penggerak sekaligus, mulai dari mesin bensin konvensional, flex-hybrid yang lazim di pasar Brasil, sampai kendaraan listrik murni. Victor Yang, Senior Vice President Geely Holding Group, menyebut keberhasilan produksi lokal ini sebagai pencapaian penting dalam strategi globalisasi Geely, dengan Brasil diposisikan sebagai pasar strategis buat perkembangan bisnis global mereka.

Ariel Montenegro, Presiden dan CEO RENAULT GEELY DO BRASIL, menambahkan bahwa investasi ini memperluas kapabilitas industri dan portofolio produk, sekaligus menempatkan Ayrton Senna Industrial Complex sebagai salah satu pusat produksi kendaraan elektrifikasi di Amerika Latin. Geely EX5 EM-i Super Hybrid dijadwalkan meluncur resmi di pasar Brasil sebelum tutup tahun 2026, disusul Geely EX2 yang mulai diproduksi Desember mendatang.

Menariknya, Brasil bukan satu-satunya negara tempat mobil Geely lahir dari tangan mitra lokal, bukan dari pabrik milik Geely sendiri. Di Korea Selatan, Geely sudah lebih dulu masuk lewat Renault Korea (dulu Renault Samsung), memegang sekitar sepertiga sahamnya, dan hasilnya adalah Renault Grand Koleos yang sebenarnya cuma versi ubahan dari Geely Monjaro berbasis platform CMA. Kedua perusahaan bahkan membentuk usaha patungan bernama Horse Powertrain khusus mengembangkan mesin hybrid dan ICE rendah emisi.

Pola serupa terjadi juga di Indonesia, meski dengan mitra yang berbeda. Sejak pertengahan 2025, Geely menggandeng PT Handal Indonesia Motor (HIM) untuk merakit kendaraannya di fasilitas Purwakarta, Jawa Barat. Trial production dimulai Mei 2025, dilanjutkan produksi reguler Starray EM-i pada September, model yang sebenarnya adalah EX5 EM-i dengan nama lokal berbeda, lalu menyusul Geely EX5 dan terakhir Geely EX2 pada Januari 2026.

 

Kapasitas produksi di Purwakarta disebut bisa mencapai 60 unit per hari, dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tembus 46,5%, angka yang persis sama disebut dalam siaran pers soal ekspansi Geely di Amerika Latin ini. Constantinus Herlijoso, Sales & Channel Development Director Geely Auto Indonesia, sempat menyebut perakitan lokal bukan cuma soal mempercepat pengiriman unit, tapi juga bagian dari komitmen jangka panjang Geely mendukung industri otomotif nasional.

Kalau ditarik garis besar, apa yang terjadi di Curitiba minggu ini sebenarnya cuma satu titik dari peta yang jauh lebih luas. Geely tampaknya sengaja tidak membangun kerajaan produksi terpusat di China lalu mengekspor mobil jadi ke seluruh dunia, melainkan menitipkan proses produksinya ke mitra-mitra lokal yang sudah punya jaringan dan kepercayaan di pasar masing-masing, entah itu Renault di Brasil dan Korea, atau HIM di Indonesia.

Buat konsumen di Indonesia yang sudah lebih dulu menjajal Starray EM-i sejak diserahkan ke pemilik pertama pada awal November 2025 dengan harga Rp 499 juta OTR Jakarta, kabar dari Brasil ini setidaknya jadi konfirmasi bahwa mobil yang mereka pakai bukan proyek coba-coba di satu negara saja. Ada versi kembarnya yang baru mulai mengalir dari lini produksi di sisi lain dunia, tepatnya di kompleks yang dulu murni milik Renault sebelum Geely ikut masuk ke dalamnya.