Robby Foley menempuh jalur yang tidak langsung menuju posisi BMW M works driver. Sebelum menjadi bagian dari jajaran pembalap resmi BMW M Motorsport, pembalap Amerika Serikat itu lebih dulu berkompetisi sebagai privateer. Foley mengungkapkan bahwa dirinya pertama kali membalap menggunakan mobil BMW M Motorsport pada 2018, ketika masih berstatus customer racer. Kini, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perannya sebagai mentor di BMW M Racing Academy, program BMW M Motorsport yang ditujukan untuk mendukung pembalap muda di customer racing.
Foley saat ini menjalani program balap yang padat bersama Turner Motorsport di Amerika Utara. Ia turun di IMSA WeatherTech SportsCar Championship sekaligus GT World Challenge America, dengan BMW M4 GT3 EVO dan BMW M4 GT4 EVO. Pada balapan IMSA di Virginia International Raceway, 23 Agustus 2026, Foley bersama Patrick Gallagher membawa BMW M4 GT3 EVO #96 finis kedua di kelas GTD. Hasil tersebut menempatkan mereka di posisi kedua klasemen dengan dua seri tersisa dan terpaut 36 poin dari pemimpin klasemen.

Seminggu kemudian, Foley kembali naik podium tertinggi. Bersama Justin Rothberg, ia memenangkan balapan tiga jam GT World Challenge America di Road America menggunakan BMW M4 GT3 EVO #29. Kemenangan itu menjadi yang kedua bagi pasangan Foley-Rothberg pada musim pertama mereka di kategori Pro. Dengan dua balapan tersisa, keduanya berada di posisi kedua klasemen dan hanya berjarak empat poin dari posisi teratas. Foley juga menyebut perkembangan Rothberg dan tim sebagai salah satu faktor penting dalam performa mereka sepanjang musim.
Berpindah antara BMW M4 GT3 EVO dan BMW M4 GT4 EVO pada akhir pekan IMSA juga menjadi bagian dari rutinitas Foley. Menurutnya, perbedaan karakter ban kedua mobil menjadi salah satu penyesuaian utama, terutama karena berpengaruh terhadap titik pengereman. Ia sudah menjalani pola tersebut selama beberapa tahun sehingga perpindahan antarmobil dapat dilakukan dengan ritme yang relatif terbiasa. Pengalaman mengemudikan dua spesifikasi mobil GT dalam satu rangkaian balap memperlihatkan luasnya tuntutan yang harus dihadapi pembalap customer racing di level profesional.
Jadwal Foley tidak berhenti pada dua kejuaraan tersebut. Ia mengatakan aktivitas balap, pengujian, dan kegiatan lain seperti BMW M Racing Academy membuatnya bepergian sekitar 30 hingga 35 minggu dalam setahun. Di IMSA, dua program yang diikutinya berlangsung pada akhir pekan yang sama sehingga sedikit mengurangi kompleksitas perjalanan, tetapi keseluruhan kalender tetap menuntut waktu yang panjang di sirkuit maupun dalam perjalanan.
Pengalaman sebagai privateer menjadi alasan Foley menerima peran mentor di BMW M Racing Academy. Ia mengaku dapat memahami posisi pembalap muda yang sedang berusaha berkembang karena pernah berada pada tahap yang sama. BMW menjadikan Foley bersama Jens Klingmann dan Max Hesse sebagai mentor untuk Class of 2026. Angkatan tersebut terdiri dari Josh Green dari Amerika Serikat, Thomas Rackl dari Jerman, dan Ryder Quinn dari Australia. Mereka dipilih setelah proses seleksi yang melibatkan 12 kandidat dari 10 negara.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan mengemudi. Pada musim 2026, para peserta mendapatkan pembinaan fisik dan mental melalui Formula Medicine serta kesempatan berlatih menggunakan simulator BMW M Motorsport bersama para engineer. Materi pembinaan juga mencakup aspek di luar lintasan, termasuk kemampuan membuat laporan dan menghadapi kebutuhan media. Struktur ini menempatkan customer racing sebagai bagian dari proses pengembangan pembalap yang mencakup kemampuan teknis, fisik, mental, dan profesional.
Foley kini berada pada dua posisi yang saling berhubungan dalam ekosistem tersebut: ia masih menjalani kompetisi sebagai pembalap BMW M Motorsport sekaligus membantu pembalap yang sedang memulai perjalanan mereka. BMW M Racing Academy sendiri bersiap memasuki proses seleksi untuk Class of 2027. Bagi Foley, keterlibatannya memiliki hubungan langsung dengan perjalanan kariernya sendiri karena ia pernah memulai dari posisi customer racer sebelum berkembang menjadi BMW M works driver.
Bisakah Indonesia membangun jalur serupa, dari privateer menjadi pembalap profesional hingga lahirnya generasi berikutnya? ![]()


