Sesi Qualifying dan Hyperpole di 6 Hours of Fuji akhir pekan ini dibatalkan total gara-gara cuaca yang tidak kooperatif.

Panitia akhirnya menetapkan grid start dari catatan waktu terbaik selama tiga sesi latihan bebas, dan buat Team WRT 32, hasilnya cuma cukup buat start dari posisi 14. Bukan modal yang meyakinkan untuk balapan endurance sepanjang enam jam, tapi justru dari titik itulah comeback Sean Gelael, Darren Leung, dan Augusto Farfus mulai terbentuk.

Darren Leung yang kebagian jatah start langsung dihadapkan pada situasi rawan begitu lampu hijau menyala. Tabrakan beruntun melibatkan beberapa mobil pecah tak lama setelah start, tapi Leung berhasil lolos dari kekacauan itu dan malah naik ke posisi 8. Momentum itu tidak disia-siakan, dia terus mendorong BMW nomor 32 naik sampai P3 lewat overtake murni di trek, bukan cuma mengandalkan rotasi pit stop.

Estafet berlanjut ke Sean Gelael, ritmenya pun sama agresif. Pebalap asal Indonesia ini sempat menyentuh posisi 1, lagi-lagi lewat usahanya sendiri menyalip satu per satu lawan di depan. Sayangnya momentum manis itu belum jadi penentu, karena fase paling berat justru baru dimulai begitu kemudi berpindah ke Augusto Farfus.

Beberapa kali Safety Car masuk ke lintasan sepanjang stint Farfus. Setiap kali itu terjadi, posisi WRT 32 justru cenderung dirugikan. Puncaknya saat Safety Car terakhir keluar cukup lama akibat kecelakaan yang melibatkan Mattia Drudi di Aston Martin nomor 27 dan Finn Gehrsitz di McLaren Garage 59 nomor 58, memaksa posisi podium yang sempat digenggam tim ini melorot ke P6.

“Ya, setiap kali ada SC kami tidak diuntungkan,” kata Farfus. “Kami sadar punya kecepatan bagus, tapi segala keuntungan terutama penggunaan ban jadi hilang setiap kali lomba dinetralisir.”

Namun di titik itulah pengalaman dua dekade Farfus sebagai pebalap BMW terbayar. Dari P6, dia terus merangsek naik hingga P3, lalu menyalip Charlie Eastwood di Corvette nomor 34 dan Mattia Drudi di Aston Martin nomor 27 untuk merebut posisi terdepan kelas LMGT3. Posisi itu diraih sekitar tujuh menit sebelum balapan usai, dan Farfus mempertahankannya sampai bendera finis dikibarkan.

Ini bukan pertama kalinya trio Sean, Farfus, dan Leung merasakan manisnya podium teratas bersama mobil yang sama, sebelumnya mereka juga menang di Imola pada 2024. Kalau dihitung sepanjang karier Sean di FIA WEC, kemenangan di Fuji ini jadi yang keenam, ketiga khusus di kelas LMGT3, dan yang kedua di sirkuit Fuji setelah gelar LMP2 empat tahun lalu.

“Balapan penuh emosi, karena posisi kami turun naik. Namun pada akhirnya Augusto mampu menyelesaikan balapan dengan sangat baik di tengah tekanan tinggi akibat situasi lomba,” ujar Leung.

Sean pun tidak menyembunyikan rasa puasnya. “Saya sangat senang. Kami bekerja keras sepanjang tahun ini, di mana balapan tidak selalu menguntungkan. Tapi khusus di Fuji ini kami semua bekerja dengan baik. Saya senang dengan usaha kami bertiga dan juga senang untuk tim,” kata Sean, yang juga menjabat Brand Ambassador Pertamax Turbo dan Pertamina Fastron.

Putaran berikutnya FIA WEC bakal berlangsung di Sirkuit Catalunya, Spanyol, pada 18 Oktober, dengan Sean melanjutkan musim ini lewat dukungan KFC Indonesia, Pertamax Turbo, Pertamina Fastron, Telkomsel, dan Bank Aladin Syariah.