Lima kali balapan di Mandalika, Marc Marquez akhirnya bisa menyelesaikan balapan utama MotoGP Indonesia. Walau tidak naik podium, apalagi menang. Pembalap Ducati Lenovo Team itu finis keenam pada Minggu (11/10/2026), tetapi hasil tersebut punya arti lebih besar daripada sekadar tambahan 10 poin.
Sejak Pertamina Mandalika International Circuit masuk kalender MotoGP pada 2022, Marquez belum pernah melihat bendera finis dalam balapan utama di sini. Kecelakaan, masalah teknis, sampai insiden yang mengakhiri musimnya pernah terjadi. Kali ini, ia akhirnya berhasil melewati 27 lap balapan tanpa mengakhiri akhir pekannya di gravel trap atau garasi lebih cepat.
Rekor itu memang bukan sesuatu yang akan dipajang sebagai pencapaian terbesar dalam karier juara dunia delapan kali tersebut. Namun, buat pembalap yang sedang mengejar gelar MotoGP 2026, menyelesaikan balapan di sirkuit yang selama ini selalu memberinya masalah punya nilai tersendiri.
Lima kunjungan, lima cerita berbeda
2022 – Kunjungan pertama yang berakhir sebelum balapan
Mandalika pertama kali menggelar MotoGP pada 2022. Marquez saat itu masih membela Repsol Honda Team, tetapi akhir pekannya sudah berantakan sebelum balapan utama dimulai.
Setelah hanya menempati posisi ke-15 pada kualifikasi, Marquez mengalami kecelakaan highside keras di tikungan 7 saat sesi pemanasan. Ia harus absen dari GP Indonesia dan juga seri berikutnya di Argentina.
2023 – Dua kali terjatuh, pulang tanpa poin
Setahun kemudian, Marquez kembali ke Lombok. Kali ini ia bisa mengikuti rangkaian balapan, tetapi hasilnya tetap jauh dari harapan. Kecelakaan pada Sabtu dan Minggu membuatnya mengakhiri akhir pekan tanpa satu poin pun.
Mandalika belum menjadi tempat yang bersahabat buat pembalap Spanyol itu. Kecepatan dan reputasinya sebagai salah satu pembalap paling agresif di grid belum cukup untuk mengubah hasil di sirkuit ini.
2024 – Podium Sprint, lalu masalah teknis di Grand Prix
Musim 2024 membawa perubahan. Marquez sudah meninggalkan Honda dan membela Gresini Racing dengan motor Ducati. Ia mulai menunjukkan potensi yang lebih baik di Mandalika, termasuk merebut posisi ketiga dalam Sprint Race.
Namun, hasil positif pada Sabtu tidak berlanjut ke Minggu. Masalah teknis memaksanya keluar dari balapan utama, sehingga ia kembali gagal mencatatkan finis di Grand Prix Indonesia. Tiga kunjungan, tiga kali gagal menyelesaikan balapan utama.
2025 – Juara dunia baru, akhir pekan yang berujung cedera
Pada 2025, Marquez datang dengan status juara dunia MotoGP yang baru saja ia pastikan di Jepang. Ia sudah membela Ducati Lenovo Team dan tampil kompetitif sejak awal musim.
Sprint Race Mandalika memberinya finis keenam setelah menjalani Long Lap Penalty. Harapan untuk memperbaiki hasil pada Minggu pun terbuka. Namun, balapan utama berakhir tragis pada lap pertama setelah ia bersenggolan dengan Marco Bezzecchi di tikungan 7. Keduanya terjatuh.
Insiden itu bukan hanya mengakhiri balapan Marquez di Mandalika, tetapi juga musimnya. Cedera tulang selangka yang dialaminya membuat ia harus menepi untuk sisa musim 2025.

2026 – Menang Sprint Race, lalu akhirnya finis
Di musim ini, Marquez punya dua misi, yakni mematahkan rentetan hasil buruk di sirkuit ini dan menjaga peluang mempertahankan gelar dunia. Modalnya cukup bagus setelah meraih kemenangan ganda Sprint Race dan Grand Prix Jepang di Motegi.
Sabtu (10/10/2026), ia lebih dulu menghapus sebagian beban tersebut lewat kemenangan Sprint Race. Marquez mengambil alih pimpinan balapan dengan lima lap tersisa dan mempertahankan posisi terdepan hingga finis. Jorge Martin, rivalnya dalam perebutan gelar, menyelesaikan Sprint di posisi keempat. Kemenangan itu juga membuat Marquez untuk pertama kalinya memimpin klasemen MotoGP musim ini.
Balapan utama sehari kemudian berjalan lebih sulit. Marquez sempat berada di posisi ketiga pada fase awal, tetapi Jorge Martin menyalipnya di tikungan 10. Pedro Acosta kemudian ikut melewati pembalap Ducati itu, sebelum keduanya beberapa kali bertukar posisi.
Situasi makin ketat ketika Ai Ogura masuk ke persaingan. Pada lap ke-21, pembalap Jepang tersebut berhasil melewati Marquez dan mendorongnya ke posisi keenam. Marquez tidak mampu kembali ke lima besar sampai bendera finis dikibarkan.
Di depan, Marco Bezzecchi memenangi balapan setelah menyalip Raul Fernandez pada lap ke-19. Fernandez finis kedua meski mengalami patah dua jari akibat kecelakaan Sprint Race, sedangkan Martin mengamankan posisi ketiga. Aprilia bahkan mencatat sejarah dengan menempatkan empat pembalapnya di empat posisi teratas, melalui Bezzecchi, Fernandez, Martin, dan Ogura.
Buat Marquez, finis keenam mungkin bukan hasil yang ia incar setelah menang sehari sebelumnya. Namun, ada satu catatan yang akhirnya berubah. Ia berhasil menyelesaikan balapan utama Mandalika untuk pertama kalinya sejak sirkuit ini menjadi tuan rumah MotoGP.
Marc juga mengakui hasil itu tidak buruk untuk situasi yang ia hadapi. “Aku sangat senang karena tidak kehilangan poin sama sekali dari Martín,” ujarnya. Ia menyebut tim memang kesulitan sepanjang balapan, tetapi mereka mampu mengelola situasi dengan baik.

Kutukan selesai, perebutan gelar belum
Finis keenam membuat Marquez mengumpulkan 10 poin tambahan. Hasil itu belum cukup untuk mempertahankan posisi teratas klasemen yang ia rebut setelah Sprint Race. Martin yang finis ketiga dalam Grand Prix kembali memimpin kejuaraan dengan keunggulan dua poin.
Persaingan gelar sekarang kembali mengerucut pada Martin dan Marquez. Selisih dua poin membuat keduanya masih punya ruang untuk saling mengambil alih posisi teratas dalam seri-seri berikutnya. Bezzecchi juga belum sepenuhnya keluar dari perburuan, dengan 309 poin atau tertinggal 46 poin dari Martin.
Bagi Ducati Lenovo Team, akhir pekan Mandalika punya dua sisi. Marquez memang memenangi Sprint Race dan akhirnya menyelesaikan Grand Prix yang selama ini selalu berakhir buruk buatnya. Namun, Francesco Bagnaia justru gagal finis setelah terjatuh di tikungan 17 pada lap keenam saat berada di posisi kesepuluh.
Ducati kini harus bersiap menghadapi seri Australia di Phillip Island pada 23–25 Oktober 2026. Buat Marquez, tantangan berikutnya adalah menjaga momentum dalam persaingan gelar dunia yang kini kembali dipimpin Martin. ![]()
