Ada sesuatu yang sentimental ketika berbicara soal perjalanan panjang industri otomotif. Di balik angka, target, dan grafik ekspor, selalu ada cerita manusia, cerita pabrik, cerita negara. Suzuki Indonesia punya cerita itu, dimulai dari sebuah momen sederhana pada 1993, ketika unit Carry Futura dan motor RC100 naik kapal sebagai produk ekspor pertama.

Tidak ada sorotan kamera besar saat itu. Tidak ada hype seperti sekarang. Tapi di situlah fondasi sebuah perjalanan dibangun: langkah pelan yang kemudian berubah menjadi ritme industri yang stabil. Dari 1993 hingga hari ini, Suzuki telah mengirim lebih dari 0,8 juta mobil dan 1,5 juta sepeda motor ke lebih dari 100 negara. Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah jejak komitmen tiga dekade lebih.

Perjalanan ini tidak selalu mulus. Industri otomotif Indonesia pernah naik-turun seperti grafik EKG: krisis finansial Asia, perlambatan global, perubahan regulasi, shifting tren konsumen. Namun Suzuki tetap menancap pelan, tidak terburu-buru, tidak terhenti. Setiap tahun ada produk yang diekspor, setiap tahun ada pasar yang tetap percaya.

Dan kemudian tibalah babak baru: Fronx dan Satria. Dua produk yang berbeda generasi, tapi punya misi sama menjadi representasi Indonesia di panggung Asia Tenggara. Fronx, sebagai model global baru yang lahir di tengah tren SUV yang sedang mendidih. Satria, ikon performa yang sudah mengakar di berbagai negara.

Ketika keduanya dipilih sebagai model ekspor terbaru, itu sebenarnya bukan kebetulan. Ada kontinuitas di sana. Suzuki melihat Indonesia bukan hanya mampu memproduksi, tapi mampu menjaga kualitas selama tiga dekade penuh. Ini penting. Banyak pabrik di dunia bisa memproduksi dengan baik selama lima tahun, sepuluh tahun, tapi menjaga kualitas selama 30 tahun adalah cerita lain.

Ekspor selalu tentang konsistensi. Dan konsistensi membutuhkan ekosistem: pemasok yang stabil, tenaga kerja yang terampil, fasilitas yang terus meningkat, hingga kemampuan melakukan proses dari pressing sampai final inspection. Suzuki Indonesia membangun semua itu sedikit demi sedikit, seperti batu bata yang ditumpuk tanpa henti.

Kini, ketika Fronx dan Satria kembali naik kapal menuju negara tujuan, mereka membawa lebih dari sekadar harga FOB dan kuota ekspor. Mereka membawa sejarah. Mereka membawa reputasi. Mereka membawa cerita panjang dari Carry Futura 1993 hingga pabrik modern berbasis robot dan 3D scanning hari ini.

Tiga puluh dua tahun perjalanan ekspor bukan hanya soal “lama”, tapi soal “bertahan sambil berkembang.” Dan Suzuki Indonesia sudah membuktikan bahwa keduanya bisa berjalan bersama.