Jadi navigator itu berattt!
Dalam dunia reli, navigator paling sering menjadi sasaran kemarahan driver.
Justru pada momen-momen paling sunyi, setelah kesalahan terjadi, dan tak ada lagi yang bisa disalahkan selain keputusan di dalam kokpit.
Mobil berhenti. Debu turun. Mesin masih panas.
Adrenalin pereli belum sempat reda, dan rasa takut baru saja berubah jadi marah.
Navigator ada di sebelahnya. Suaranya yang barusan memberi pace note masih terngiang,
“Harusnya kiri enam panjang…!” Di sinilah navigator sering jadi sasaran, karena rally pilot tak punya ruang untuk memproses bahwa ia sendiri yang terlambat mengerem atau terlalu percaya diri.
Navigator sering dimarahi bukan karena paling bersalah, melainkan karena satu-satunya yang dekat menanggung ledakan emosi pembalap. Dalam reli, navigator bukan sekadar pembaca catatan. Ia adalah tempat pembalap menitipkan rasa takut, ego, dan kekecewaan, dalam bentuk amarah yang tak selalu adil.
Dan keesokan harinya, mereka kembali duduk berdampingan.
Mengikat sabuk.
Dan mempercayakan hidup satu sama lain, sekali lagi.
Dan saat masuk stage ke-10, ke-12, bahkan lebih.
Leher kaku, tangan gemetar, pandangan mulai menyempit.
Di fase ini, pembalap lelah secara mental, tapi tak boleh terlihat lemah.
Navigator yang masih harus bicara, membaca, mengingat, mengoreksi, sering dianggap “terlalu banyak suara” di kepala pembalap yang sudah penuh. Kemarahan muncul bukan karena navigator salah, tapi karena pembalap sedang kehabisan kapasitas untuk mendengar.
Masih ada lagi loh!
Begitu split time menunjukkan merah.
Radio tim mulai sunyi.
Pembalap tahu bahwa kemenangan menjauh.
Dan saat mimpi itu runtuh, ego mencari tempat jatuh.
Navigator yang tugasnya membawa pembalap melewati lintasan tanpa kejutan, menjadi kambing hitam yang paling dekat secara fisik dan emosional.
Itu dengan manusia, tapi navigator kadang bertemu juga dengan kekuatan semesta.
Di lintasan reli, sebuah crash bukan tentang patah tulang, melainkan dampak tekanan gravitasi. Nyeri muncul perlahan, dari leher, bahu, punggung, hingga ke sendi yang terasa asing. Crash bukan hanya benturan logam dengan tanah atau pohon, melainkan peristiwa fisika brutal yaitu lonjakan gaya-G.
Inersia tubuh yang dipaksa berhenti mendadak, sabuk pengaman yang menyelamatkan nyawa sekaligus menekan tulang dan otot dengan kekuatan berkali lipat dari berat normal manusia. Tubuh dipelintir, ditekan, dan digeser dalam sepersekian detik, micro-trauma terbentuk, whiplash mengintai leher, dan kelelahan saraf menunggu saat adrenalin turun. Lalu terbangun keesokan paginya dengan badan yang seolah dipukul dari dalam.
Namun rasa nyeri itu tak selalu adil. Posisi navigator paling rentan. Saat pembalap melihat tikungan dan secara naluriah mengencangkan otot, navigator menunduk membaca pace note, kepalanya tak sejajar, pikirannya sibuk dengan angka dan jarak. Ketika benturan datang, tubuhnya kerap belum siap, gaya-G menghantam tanpa perlawanan. Posisi duduk yang lebih pasif membuat otot cepat kaku. Arah benturan lateral sering memihak sisi navigator. Lehernya menahan helm dan interkom saat kepala ditarik ke samping.
Lebih dari itu, ada beban yang tak kasat mata, apalagi kalau bukan ketiadaan kontrol. Pembalap masih punya kemudi dan pedal, sedangkan navigator hanya punya kepercayaan. Dalam reli, kepercayaan itu indah, sekaligus menyakitkan.
Maka tak heran, setelah debu mengendap dan catatan dilipat, navigator sering merasakan nyeri lebih lama, lebih dalam. Membawa pulang cerita yang sama dari lintasan yang sama, tetapi dengan bekas yang berbeda. Sebuah pengingat bahwa di balik kecepatan dan kemenangan, reli selalu menyisakan tubuh yang belajar menanggung konsekuensinya dengan sunyi.


Maka…, Sierra ini menjadi salah satu obat Muhammad Redwan untuk lari dari semua rasa sakit itu. Dari dunia reli yang brutal, penuh benturan, suara, dan tuntutan presisi, ke sebuah ruang yang dengan sadar menolak kecepatan. Jimny sierra dengan segala kekurangannya menjadi bandul sunyi yang begitu damai.


Lebih jujur.
Lebih pelan.
Lebih bisa diajak bernapas.
Dengan mesinnya yang tak pernah mengajak terburu-buru, dengan fitur yang tak berusaha menghibur, dengan kabin sempit yang memaksa sunyi, berubah menjadi kotak isolasi yang damai.
Tak ada pace note.
Tak ada target waktu.
Tak ada suara yang menuntut keputusan dalam sepersekian detik.

Di dalam Jimny, pelan adalah kewajaran.
Getaran adalah bagian dari perjalanan, bukan ancaman.
Dan jalan yang panjang tak perlu ditaklukkan.

Jika reli adalah tempat rasa sakit diproduksi, maka Jimny Sierra adalah ruang di mana rasa sakit itu diendapkan. Dan di sanalah modifikasi menemukan maknanya yang paling personal. Bukan sebagai eskapisme, tapi sebagai rekonsiliasi. Antara tubuh yang lelah, pikiran yang bising, dan keinginan sederhana untuk berjalan tanpa harus tiba lebih dulu.

“Jimny Sierra Ini punya kenangan masa masa kuliah, pacaran sama istri, overland waktu pacaran sama istri dan pertama kali balapan walaupun tarkam,” ucap Redwan tentang si Blue, panggilan kesayangannya.
DeepEnd membiarkan Redwan bercerita. Dalam sunyi selalu muncul teriakan yang patut didengar.

Redwan berlanjut, “Gua dulu suka banget off-road yang mobil ban gede gitu, tapi di satu sisi pangen juga punya mobil 4×4 yang klimis. Sekarang ini waktu banyak buat keluarga, bangun mobil jadi konsepnya jip mall biar bisa jalan bareng anak dan istri tiap weekend, sepertinya itu lebih kepake.”

Lantas…, “Tujuannya mengenang jaman kuliah dan juga ngenalin ke org org kalo ADA LOH Jimny Sierra yang ganteng klimis gini.”
Waktu tahun 2010 kalau nongkrong pake Jimny, sering banget dilihat bapak-bapak, tapi anak-anaknya cuek. Sekarang anak muda telah banyak ngelirik, termasuk cewek-cewek, “Iii lucu mobilnya, iii lucu warnanya, iii klimis mobilnya, iii ganteng yang punya” Di titik ini, Redwan sudah semakin lepas bercerita.

“Titik rawannya” terletak pada hardtop. Siluetnya menjadi utuh dan tegas. Garis atap datar bertemu pilar tegak, menciptakan bentuk yang mudah dikenali bahkan dari jauh. Sudutnya kaku, panel polos, jendela belakang datar, dan minim ornament. Semua ini membuatnya tampak seperti artefak era ketika desain belum mencoba menyenangkan semua orang. Tapi kini, simplicity ini yang dikangenin. And soon to be, “Softtop bikininya akan dipasang.”

Belum lagi, kehadiran winch. Ada pro kontra di sana. Sierra yang simpel, klimis, tapi berwinch? “Winch ini sengaja dipasang, sebab di jalan semua bisa terjadi, siapa tau bisa membantu sesama,” aku Redwan.


Proses restorasi keseluruhan dari bodi, suspensi, velg, ban Accelera M/T-01, dan mesin, “Alhamdullilah enggak ada kendala berarti. Gua enggak suka lama-lama, kebetulan dapet bahan mobil dan builder mobil yang ahli di per-Jimny-an, jadi cepet sekitar 3 bulanan.” Pokoknya, “Mobil ini bagus, mantab!!



Namun Redwan berpesan, “Kalau mau bangun mobil, jangan lupa dikonsepin matang dari awal. Cari temen yang banyak, jangan malu bertanya biar sempurna bangun mobilnya. Dan siapkan mental kalo di jalan banyak yang kasih jempol.” ![]()
Workshop:
48 Custom Garage @48Customgarage
Data Mods:
SJ30 wheels, Accelera MT-01 tires, OME springs, 48 Custom Bandung shocks, Jimny 1000 refreshed engine, Power Steering system, 4-1 Header, CDI ignition, Bluefire coil, Bluefire spark plug wires, Karimun Dual Speed extrafan, Aluminium radiator, Toyota Avanza AC, Recaro LX front seats, Katana GX rear seats, U-Film 20% window tint, Original Sierra dashboard, Original Sierra steering wheel, Suzuki Caribian front door seals, JDM rain guards, Original Sierra brakes, Original Sierra handling components, Original Sierra electrical system




























